news
LIGA EUROPA
Isu Lini Pertahanan Hantui Arsenal Jelang Final Liga Europa
28 May 2019 15:06 WIB
berita
Shkodran Mustafi (Arsenal)/Istimewa
LONDON - Dalam ilmu kebijakan publik, zero tolerance adalah sebuah sikap atau aturan yang akan memunculkan konsekuensi hukuman berat bagi para pelanggarnya. Situasi tersebut mungkin sedang dihadapi Arsenal FC menjelang final Liga Europa menghadapi Chelsea FC di Baku, Azerbaijan, Rabu (29/5) malam.

Para pemain belakang The Gunners bukan tidak menyadari hal tersebut. Bek senior Shkodran Mustafi langsung mengingatkan rekan-rekannya bahwa saat menghadapi Chelsea di Stadion Olimpiade, Baku, besok malam, tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun.




Baca Juga :
- Ini Alasan Kenapa MU Bisa Mendatangkan Bruno Fernandes
- Arsenal Akan Tawarkan Granit Xhaka ke Monchengladbach, Demi Pemain Ini




“Di final nanti, satu kesalahan kecil saja bisa menghukum Anda. Itulah mengapa kami harus sangat berhati-hati,” tutur Mustafi. “Jika target seorang striker meleset atau penaltinya tidak masuk, ia masih memiliki waktu lima atau 10 menit untuk membayar kesalahannya. Tapi, bek? Jika Anda membuat kesalahan hingga lawan mencetak gol, meskipun lima menit berselang Anda membuat penyelamatan gemilang, orang pasti akan lebih mengingat kesalahan Anda,” ucap bek timnas Jerman tersebut.

Buruknya barisan belakang Arsenal bisa dilihat dari jumlah kebobolan mereka di Liga Primer musim ini. Dengan 51 kali kemasukan, mereka menjadi kedua terburuk setelah Manchester United/MU (54) di antara The Big Six yang menempati enam besar klasemen akhir Liga Primer.


Baca Juga :
- Eden Hazard Rinci Kebutuhan Chelsea Jika Ingin Menantang Juara
- Mantan Bintang Chelsea Ungkap Eden Hazard Malas Latihan, tapi Gemilang Tiap Pertandingan


Dengan rata-rata kemasukan 1,34 gol per laga, pertahanan Arsenal masih kalah kuat dibanding tim-tim semejana Liga Primer sekelas Newcastle United (48 kebobolan), Leicester City (48), dan Everton FC (46). Lini belakang Arsenal semakin miris bila dibandingkan dengan jumlah kebobolan sang juara, Manchester City (hanya 23), atau tim runner-up Liverpool FC yang mencatat kemasukan paling sedikit (22).

Kemasukan hingga 51 di Liga Primer itu menjadi salah satu penyebab Arsenal gagal lolos otomatis ke Liga Champions musim depan karena hanya finis di posisi kelima. Hanya gelar Liga Europa yang kini menjadi satu-satunya jalan untuk turun langsung ke fase grup Liga Champions 2019/20 mendatang.

Jeleknya koordinasi barisan pertahanan The Gunners pun berimbas pada disiplin para bek dan gelandang mereka. Ketidakmampuan menjaga area dari tekanan lawan membuat para pemain Arsenal bermain keras sehingga berujung kartu kuning atau bahkan merah.

Statistik mencatat, Arsenal menjadi satu-satunya klub di Liga Primer 2018/19 lalu yang memiliki tiga pemain dengan koleksi sembilan kartu kuning atau lebih. Bila Mustafi mengoleksi sembilan, Granit Xhaka dan Sokratis Papastathopoulos masing-masing mengantongi 10 dan 12 kartu kuning.  

Dari fakta-fakta itulah, tidak sedikit fan Arsenal uang ingin timnya menginvestasikan lebih banyak untuk pemain dengan karakter bertahan. Jika pelatih Unai Emery mampu membuat standar performa barisan belakang mendekati kualitas lini depan, Arsenal bisa menjadi kekuatan menakutkan.

Di depan, Alexandre Lacazette dan Pierre-Emerick Aubameyang sudah menjadi duet maut. Hanya mereka yang mampu membuat gol dua digit dari semua ajang musim ini, Lacazette 19 gol dan Aubameyang 31. Keduanya sudah mencetak 45 persen dari total gol The Gunners musim ini (111).

Satu lagi yang harus diwaspadai Arsenal dari Chelsea di final Liga Europa adalah pengalaman. Emery memang pernah mengantar Sevilla FC tiga tahun beruntun juara Liga Europa (2014, 2015, 2016). Namun, Arsenal hanya memiliki Petr Cech, Mesut Oezil, dan Stephan Lichtsteiner, yang pernah mencicipi final kompetisi Eropa. Bandingkan dengan Chelsea yang memiliki 10 pemain yang pernah merasakan final ajang Eropa sebelumnya.

“Menurut Anda, tim dengan pemain berpengalaman atau skuat yang penuh motivasi yang akan menang? Semua tergantung dari sisi mana Anda melihat,” ucap Mustafi mengacu final ajang Eropa terakhir Arsenal terjadi pada 2006 (Liga Champions, kalah 1-2 dari FC Barcelona).***TRI CAHYO NUGROHO

loading...
I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news