news
UMUM
Bentuk Tim Monitoring, KOI Saingi KONI?
27 May 2019 15:10 WIB
JAKARTA – Jelang berakhirnya masa jabatan, Komite Eksekutif (KE) Komite Olimpiade Indonesia (KOI) periode 2015-2019, memaksimalkan persiapan Merah Putih menuju SEA Games XXX/2019 Filipina, 30 November-10 Desember. Mereka pun membentuk tim monitoring yang mendampingi pengurus cabang olahraga (cabor).

Utamanya dalam menerapkan Program Performa Tinggi (HIPOP) dan Octav Matakupan ditunjuk sebagai koordinator tim monitoring. Menurutnya, Indonesia memang tak membidik target juara umum di Filipina. Namun, jumlah medali yang didapat harus lebih baik daripada edisi sebelumnya di Kuala Lumpur.




Baca Juga :
- Soal Selisih Anggaran, Gatot Dewa Broto Minta Selesai Dibahas Minggu IniĀ 
- Cuaca Ekstrem, Tim Voli Pantai Indonesia Sudah Biasa




Saat itu, Indonesia mendapat 38 emas atau yang terburuk sepanjang keikutsertaan dalam pesta olahraga se-Asia Tenggara tersebut. Octav menuturkan, naiknya level atlet membuat KOI menargetkan 51-53 emas di Negeri Lumbung Padi. Dengan pencapaian ini, Indonesia mungkin ada di peringkat ketiga atau empat.

Ia menambahkan, tim montoring KOI tak akan mengulangi kesalahan saat SEA Games XXIX/2017. Ketika itu, tim yang ada di bawah Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), kurang memantau perkembangan negara peserta lain. Hasilnya, raihan Merah Putih pun menjadi babak belur. 


Baca Juga :
- Harapan Erick Thohir untuk Raja Sapta Oktohari dan Regenerasi KOI
- Raja Sapta Oktohari Terpilih Sebagai Ketua KOI Secara Aklamasi


“Hasil monitoring dan evaluasi SEA Games 2017 meleset karena mereka (Satlak) lupa melihat bagaimana proses yang dijalani negara lain. Kami harus banyak belajar. Seluruh cabor seharusnya dapat memenuhi target,” kata Octav dalam acara buka puasa bersama KOI di Hotel Mulia, Jakarta, Minggu (26/5).

Octav pun memastikan, Indonesia akan menurunkan atlet-atlet hebat di Filipina. Salah satunya rising star lari jarak pendek, Lalu Muhammad Zohri. Saat ini, Zohri berstatus pelari tercepat Asia Tenggara untuk nomor 100 meter. Catatan waktu terbaiknya ada di angka 10,03 detik dan belum mampu ditandingi.

Lebih lanjut, dirinya menegaskan kalau tugas tim monitoring bukan semata-mata sebagai “satpam”, melainkan bersinergi dengan para pengurus cabor agar pemusatan latihan berjalan dengan baik. Menariknya, tugas serupa juga dimiliki KONI, sebagaimana tertuang dalam Perpres Nomor 95 Tahun 2017.

KONI mendapat amanat sebagai pengawas dan pendamping cabor. “Pada dasarnya, tugas tim monitoring ini untuk mendampingi pengurus cabor menggelar pelatnas. Bukan sebagai pengawas karena kami bukan satpam. Pengurus cabor juga bisa berbagi jika ada kesulitan saat menggelar latihan,” ucap Octav, kemarin.

Ketua Umum KOI Erick Thohir mengatakan, meski ingin prestasi SEA Games lebih baik daripada dua tahun lalu, dirinya meminta  pengurus cabor tak lagi menjadikan SEA Games sebagai prioritas. Merujuk pada sukses Asian Games XVIII/2018, sudah waktunya Indonesia membidik Olimpiade sebagai target.

Tahun lalu, Indonesia mampu menempati empat besar perolehan medali Asian Games dengan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Catatan tersebut membuktikan jika Merah Putih sudah “naik kelas”. Zohri yang mampu mendekati di bawah 10 detik, juga menjadi indikator peningkatan atlet-atlet Indonesia.

Belum lagi, panjat tebing yang konsisten di pentas dunia.  “Zohri mencatatkan sejarah, sukses menembus limit Olimpiade (XXXII) 2020. Saya yakin,  cabang olahraga lain juga bisa meraih prestasi yang tinggi seperti ini,” kata pria yang pernah menjabat Presiden Panitia Pelaksana Asian Games Indonesia (Inasgoc) itu.

Erick menambahkan, keinginan KOI untuk membidik level yang lebih tinggi, sejalan dengan cita-cita Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sebelumnya, mereka menyatakan jika Olimpiade dan Asian Games adalah fokus utama, bukan SEA Games.*KRISNA C. DHANESWARA 

 

L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati
news
news