TOP FEATURE FOOTBALL
Robert Fleck : Asisten Guru di Sekolah Khusus
25 May 2019 04:15 WIB
berita
DUKUNGAN penonton kini berubah menjadi keriuhan di kelas. Sorak-sorai setiap kali Robert Fleck membawa bola sekarang menjadi kebisingan di sebuah ruangan. Tidak ada lagi skor pertandingan di stadion. Yang terlihat oleh Fleck setiap pagi adalah tulisan: Be kind to each other (selalu bersikap baik antarsesama), Help each other (saling tolong menolong), atau Good Listening (jadilah pendengar yang baik).

Tulisan tersebut tidak dibuat atau dirancang secara digital melainkan tulisan tangan yang terlihat sangat jelas di atas kertas. Semuanya ada di dinding dengan berbagai foto serta kegiatan anak-anak, penuh dengan berbagai warna. Ada gambar pesawat, perahu layar, hewan, dan lain sebagainya. Ada bunga dengan warna menyegarkan. Semuanya terpampang secara natural begitu saja, di ruangan kelas di sekolah yang bernama The Parkside School, di Norwich.


Baca Juga :
- Indra Sjafri Mantu, Berikut Doa dari Menpora
- Ali Daei Berkibar dengan Daei Sport




Ya, masa-masa karier Fleck sebagai pemain sepak bola telah berlalu. Pria 53 tahun kelahiran Glasgow (Skotlandia) ini salah satu bintang pada masanya ketika memperkuat Chelsea pada 1992-1995. Jauh sebelum The Blues—julukan Chelsea—menjadi salah satu klub kuat di Liga Primer, ada para pioneer di lapangan yang membuat pendukung klub asal London tersebut terhibur. Fleck salah satunya, penyerang ini pernah mendapat tempat dalam hati pendukung Chelesa, ditandai lewat nyanyian suporter The Blues yang kerap menyuarakan We all live in a Robert Fleck world.

Kini, Fleck menjadi idola bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dia menjadi asisten guru di sekolah anak-anak tersebut. Yang dilihatnya adalah wajah-wajah anak-anak yang polos, antusias, dan tentu berbeda dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang normal. “Saya sangat menyukai pekerjaan ini, saya mencintai pekerjaan ini,” kata Flex, tersenyum.


Baca Juga :
- Sukses Mia lewat Winner Never Quit
- Johan Halls : Dari Arsenal hingga Catwalk


Menurutnya, dia sendiri tidak memiliki rencana untuk menjadi guru dalam hidupnya setelah pensiun dari sepak bola. Awalnya, dia khawatir karena tentu tidak mudah menjadi guru anak-anak, apalagi untuk anak-anak berkubutuhan khusus. Namun, sepak bola menolongnya. Dengan kemampuan bermain sepak bola yang masih dia miliki, menjadi pintu masuk untuk menarik perhatian mereka.

Bahkan, sekolahnya tempat bekerja tersebut pun membuat program “Football with Flecky”. Kegiatan tersebut dilakukan setelah pelajaran sekolah. “Awalnya, seseorang dari sekolah menghubunginya lewat telepon apakah dirinya mau mengajar sepak bola. Dan saya menjawab ‘Ya’,” kata Fleck bercerita. Mulanya sesi sepak bola bukanlah program sekolah, dan Fleck hanya menjadi guru tamu. Namun, seiring berjalan waktu, dia kemudian selalu ditelepon dan diminta untuk kembali ke sekolah. Dan, jadilah dia bekerja di sekolah tersebut.*Irfan Sudrajat


 

n
Penulis
nana sumarna
news