FORMULA 1
Mercedes Kehilangan Anutan di F1
22 May 2019 05:14 WIB
berita
Niki Lauda
VIENNA – Salah satu legenda Formula 1 (F1), Niki Lauda, menghembuskan nafas terakhir di Vienna, Austria, Senin (20/5). Kabar meninggalnya kolektor tiga gelar juara dunia F1 itu dikonfirmasi langsung keluarga pria 70 tahun itu. Kondisi kesehatan yang makin memburuk membuat Lauda tak tertolong.

Lauda sempat menjalani transplantasi paru-paru, Agustus 2018, dan harus menjalani rawat inap selama dua bulan. Awal 2019, ia kembali dilarikan ke rumah sakit karena mengalami infeksi flu. Namun, kabar terbaru mengatakan dirinya menjalani dialisis ginjal di Swiss, beberapa hari terakhir.


Baca Juga :
- 5 Momen Tak Terlupakan dari Grand Prix Singapura
- Hamilton Ingin Jajal Batasan Aturan Baru F1




“Dengan kesedihan mendalam, kami mengumumkan bahwa Niki tercinta telah meninggal dunia dengan tenang, Senin (20/5). Pencapaiannya sebagai atlet dan usahawan tak pernah terlupakan. Begitu juga dengan semangat yang tak kenal lelah, serta keberaniannya,” ujar perwakilan keluarga Lauda.

Lauda memang dikenal pencinta olahraga balap jet darat. “Dia merupakan seorang anutan dan tolok ukur bagi kita semua. Selain itu, tanpa diketahui publik, dia adalah suami, ayah, dan kakek yang penuh kasih sayang dan perhatian. Kehadirannya akan kami rindukan,” juru bicara itu melanjutkan.


Baca Juga :
- Kehebatan Charles Leclerc Belum Sampai di Sini
- Hasil Lengkap Formula 1 GP Belgia: Charles Leclerc Akhirnya Catatkan Kemenangan Perdana


Ucapan duka pun mengalir, salah satunya dari McLaren yang notabene jadi tim terakhir Lauda di F1 (1982-1985). “Semua orang di McLaren sangat sedih mengetahui teman, kolega dan juara dunia F1 1984, Niki Lauda, telah meninggal dunia. Niki selamanya dalam sejarah kami,” tulis McLaren.

Toto Wolff  yang menjabat Prinsipal Mercedes AMG Petronas, mengaku sangat kehilangan anutan dalam tim. Bahkan ia mengatakan, tim kehilangan cahaya penuntun. Tim yang bermarkas di Brackley, Inggris itu pun akan berjuang mendapat gelar juara, tahun ini, sebagai bentuk penghormatan.

“Pertama-tama, atas nama tim Mercedes, saya ingin berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada Birgit, anak-anak Niki, keluarga dan kerabat. Niki akan selalu jadi salah satu legenda terbesar olahraga ini. Ia kombinasi pahlawan, kemanusiaan dan kejujuran, di dalam dan luar kokpit,” kata Wolff.

Pria 45 tahun itu juga mengatakan, F1 kehilangan salah satu contoh positif. “Kami tak hanya kehilangan seorang yang melakukan come back luar biasa tapi juga seorang pria yang membawa kejelasan dan keterbukaan dalam F1 era modern. Mercedes juga kehilangan cahaya penuntun,” ujarnya.

Sekadar informasi, Lauda mampu bangkit dari insiden mengerikan, 1976. Ketika itu, mobilnya terbakar usai menabrak pembatas Sirkuit Nurburgring, Jerman. Namun, ia hanya absen dua putaran dan menunjukkan aksi heroik di Grand Prix (GP) Italia. Pada 1979 di Kanada, Lauda pensiun.

Kemudian, ia mengalihkan fokus untuk mendirikan maskapai pribadi dengan nama Lauda Air di Austria. Tiga tahun kemudian, ia memutuskan kembali ke F1 dan pensiun, 1985. Setelah itu, ia wara-wiri di belakang layar dan bekerja dengan Ferrari (1993), Jaguar (2001-2002) dan Mercedes (2012-2019).*MUHAMAD FADLI RAMADAN

L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati
news