LIGA 1
Kisah Inspiratif Mushafry tentang Puasa sambil Bermain Bola
21 May 2019 11:17 WIB
berita
Talaohu Abdul Mushafry berpakaian takwa - Istimewa
MENJALANI puasa sambil tetap berolahraga sama sekali tak dilarang. Namun, dianjurkan intensitasnya diturunkan. Tetapi, bagi seorang atlet, khususnya pemain sepak bola, rumus itu kadang tak berlaku. Sebab, intensitas dalam latihan menjadi gambaran dari pertandingan sesungguhnya.

Karenanya, banyak atlet yang tidak bisa menjaga hal tersebut. Umumnya, terkait bulan puasa Ramadan, dalam sebulan selalu ada satu hingga dua hari yang akhirnya batal. Namun, kisah seperti ini tidak berlaku bagi Talaohu Abdul Mushafry, pemain depan Badak Lampung FC (BLFC).


Baca Juga :
- Taklukkan Barito Putera, Milomir Seslija Sebut Arema Hanya Beruntung
- Borneo FC Perpanjang Rekor Tidak Terkalahkan dalam Sembilan Laga Beruntun




Mushafry menceritakan, selama karier sebagai pesepak bola, dirinya belum pernah membatalkan puasa karena tak kuat menjalani latihan atau kendala terkait pertandingan. “Selama karier profesional, insyaAllah seingat saya puasa tetap jalan walaupun dengan jadwal latihan normal,” ucap Mushafry.

Menurutnya, niat beribadah yang kuat, membuat semua pekerjaan termasuk latihan dengan intensitas tinggi, bisa berjalan dengan baik. Menurutnya, latihan saat puasa pun menjadi bagian dari ibadah. Sebagai atlet, inilah ajang kampanye sosial akan nilai-nilai lihur Islam dan ketakwaan.


Baca Juga :
- Di Markas Perseru Badak Lampung, Persebaya Pantang Dipermalukan Lagi
- Preview Arema vs Barito Putera, Milomir Seslija Menebar Ancaman


Hanya, ada satu kendala yang membuat Mushafry terkadang sedih. Yakni, jika jadwal pertandingan dan latihan berbenturan dengan waktu salat Tarawih. “Hal-hal kecil seperti ini yang membuat kadang saya harus meninggalkannya, tapi saya ganti  dengan salat Tarawih berjamaah bersama teman-teman dan terkadang sendirian,” ucapnya.

Setiap Ramadan tiba, ia pun selalu memiliki kesan positif dan kenangan manis. Salah satunya seperti berbuka bersama teman-temannya setiap seusai latihan. Bahkan, dalam situasi tertentu, ia dan rekan-rekan mengumpulkan uang untuk membeli takjil atau makanan berbuka dan dibagikan ke orang-orang di sekitar masjid.

“Waktu itu saya masih di Sriwijaya FC selama dua musim. Pemain patungan membeli takjil dan dibagikan ke orang di komplek masjid. Indah rasanya bisa berbagi. Lalu, pengalaman berkesan lainnya saat mengimami teman-teman salat berjamaah dan banyak kesan manis lainnya,” kata Mushafry.

Untuk Ramadan tahun ini, 1440 hijriah atau 2019 masehi , diharapkan lebih baik dibandingkan tahun lalu. “Apalagi di 10 malam terakhir, semua bisa umat muslim kerjakan dengan i'tikaf, mengaji Alquran, majelis, salat wajib, sunnah-sunnah, zakat, infaq, sedekah dan lain-lain, saya akan berusaha lebih baik,” ujarnya.

Ia mengatakan, Ramadhan merupakan bulan penuh keistimewaan, yang tidak didapatkan dari  11 bulan lainnya. Ia berharap diberikan umur panjang agar selalu bertemu dengan bulan suci Ramadan. Soal menu wajib Ramadan, Mushafry selalu bersantap kurma dan es pisang ijo buatan istri.* Agustian Pratama

news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news