news
LIGA ITALIA
Karakter Pemain Juara, SMS Jadi Inspirator Lazio Meraih Gelar Piala Italia
17 May 2019 12:06 WIB
berita
Selebrasi Lazio - TopSkor/Istimewa
ROMA – Pemain juara tahu bagaimana cara mengubah pertandingan. Sergej Milinkovic-Savic (SMS) termasuk dalam kategori tersebut. Hanya tiga menit setelah menginjak lapangan sebagai pengganti, gelandang asal Serbia itu langsung mencetak gol vital buat SS Lazio di final Piala Italia, Rabu (15/5). Torehan itu meruntuhkan mental Atalanta BC, sekaligus memuluskan jalan I Biancocelesti menuju gelar Coppa ketujuh dalah sejarah. Helar ini sekaligus membawa mereka tampil di Liga Europa, musim depan.

Sebelum laga di Stadio Olimpico, Milinkovic-Savic sebenarnya absen hampir sebulan akibat cedera ankle. Dia bahkan diragukan untuk tampil melawan Atalanta karena dinilai belum terlalu fit. Namun, sang pemain tahu dirinya bisa memberi kontribusi penting bagi Lazio, tak peduli berapa menitpun turun di lapangan. 




Baca Juga :
- Derbi Jabar Milik Bandung United, Posisi Liestiadi Aman
- Alexis Sanchez Datang




Inilah yang kemudian terjadi. Milinkovic-Savic masuk menggantikan Luis Alberto, mengambil tempat di antara pemain lawan dalam situasi corner, lalu menanduk umpan Lucas Leiva ke pojok gawang Atalanta.  Gol keenam Sergej musim ini memutus enam tahun penantian I Biancocelesti untuk mengangkat Piala Italia. Ya, terakhir kali Lazio memenangkan trofi ini adalah pada musim 2012/13.

Cameo brilian Milinkovic-Savic juga jadi jawaban atas kritik yang diterimanya setahun belakangan. Banyak yang menilai gelandang bernomor punggung 21 itu kehilangan fokus akibat rumor transfer menuju klub-klub besar Eropa, dan hal itu berpengaruh pada performanya di lapangan. Tapi, dalam 15 menit, semua diluruskan: dia tampil penuh determinasi, tak peduli kondisi baru pulih dari cedera. 


Baca Juga :
- Inter Cadas
- Efek Balo


Selebrasi eksplosif Milinkovic-Savic bersama tifosi di Curva memperlihatkan betapa besar cintanya buat Lazio. Jika memang harus pergi, dia telah memberikan kado perpisahan terbaik: sebuah trofi dan tiket ke Liga Europa. Ambisinya untuk tampil di Liga Champions tidak tercapai, tapi itu bisa dilakukan bersama klub lain. Yang jelas, perjalanannya bersama I Biancocelesti cukup sukses.

Permainan hebat Milinkovic-Savic juga menginspirasi kebangkitan Lazio. Tak lama setelah dirinya mencetak gol pembuka, tim asuhan Simone Inzaghi bermain kian agresif. Hasilnya, Joaquin Correa mampu menutup pesta lewat serangan balik cepat di menit terakhir. Inilah kali kedua pemain asal Argentina itu jadi penentu di Piala Italia, pasca merontokkan AC Milan di semifinal.

“Trofi ini sangat berarti bagi kami setelah musim yang tidak terlalu mulus. Para pemain dan tifosi pantas mendapatkannya,” ujar Correa. “Atalanta juga bermain sangat bagus dan merangkai perjalanan luar biasa menuju final, tapi kami tampil lebih baik. Kemenangan ini memberi kebahagiaan luar biasa, kami juga lolos ke kompetisi Eropa.”

Sebagaimana para pemain, Inzaghi juga sangat senang. Dia telah tampil dalam tiga final sejak melatih Lazio, memenangkan dua di antaranya (satu lagi Piala Super Italia 2017). Sekarang, pria 43 tahun itu muncul sebagai pelatih tersukses kedua dalam sejarah I Biancocelesti, hanya kalah dari eks mentornya Sven-Goran Eriksson (7 gelar). “Malam yang indah bagi tim dan fans, kami akan menikmati sukses ini,” katanya.

Gasperini Gusar
Di kubu Atalanta, ada kekecewaan dan kesedihan setelah ambisi juara gagal di langkah terakhir. Tim asuhan Gian Piero Gasperini telah memberikan segalanya, namun harus puas mendapat medali perak. Sang pelatih mengakui keunggulan Lazio yang mampu memanfaatkan peluang, tapi di saat bersamaan mengutuk kinerja wasit yang luput memberi penalti buat Atalanta di babak pertama.

Insiden yang membuat Gasperini gusar adalah ketika Bastos memblok bola sepakan Berat Djimsiti dengan tangan di kotak penalti, namun wasit Luca Banti tidak mengindahkan. Bahkan tidak pula melihat kembali melalui VAR. “Memalukan, itu sama sekali tak bisa diterima. Bagaimana mungkin itu luput dari wasit,” Gasperini meradang. “Kami melakoni laga ini dengan dukungan 21 ribu tifosi yang datang dari Bergamo. Kejadian tersebut seperti hinaan terhadap semangat mereka.”*Dari Berbagai Sumber       


 

n
Penulis
nana sumarna
news
news