UMUM
SIJ Pertanyakan Satgas yang Seperti Tidak Berani Menyentuh Plt Ketum PSSI
16 May 2019 15:05 WIB
berita
JAKARTA - Perkumpulan Sepak Bola Indonesia Juara (SIJ) menyampaikan dukungan kepada seluruh pihak yang berusaha mewujudkan kejayaan sepak bola Indonesia. Oleh karena itu SIJ mendorong penuh Satgas Anti Mafia Bola mengusut seluruh pihak yang diduga terlibat mafia sepak bola, tanpa pandang bulu. 

“Ini demi terwujudnya PSSI yang bersih dan berwibawa,” ungkap Juru Bicara SIJ, Wandi Wanandi, Rabu kemarin.


Baca Juga :
- Seperti Apa Sih Sosok Ketua Umum PSSI yang Ideal?
- PSSI Matangkan Persiapan KLB pada 27 Juli 2019




Salah satu pihak yang diduga terlibat mafia bola adalah Iwan Budianto. Dia sekarang menjabat sebagai Plt Ketua Umum PSSI. Sekarang ini sebetulnya perkara yang melibatkannya sudah naik ke tahap penyidikan. 

Apabila tidak berani menyentuh yang bersangkutan apakah itu bisa ditafsirkan satgas mulai lembek? “Bisa jadi,” ucap Wandi.


Baca Juga :
- FFA Buka Diskusi dengan PSSI untuk Tuan Rumah Bersama Indonesia-Australia
- PSSI Kerja Sama dengan Clear untuk Wujudkan Mimpi Indonesia Lolos Piala Dunia


Menurut Wandi seluruh stakeholders (pemangku kepentingan) sepak bola Indonesia harus bahu-membahu mewujudkan kemajuan dan kejayaan sepak bola Indonesia. 

“Pemilu sudah usai, saatnya energi bangsa ini dimaksimalkan untuk hal-hal lain yang sama pentingnya, seperti kemajuan sepak bola Indonesia,” jelasnya.

Di pihak lain, Wandi berharap PSSI bersikap terbuka. “SIJ mendorong PSSI untuk lebih terbuka menerima masukan dari masyarakat sepak bola, termasuk membuka pintu buat satgas mengusut siapapun pihak yang diduga terlibat,” pintanya.

Hal itu, jelas Wandi, perlu segera dilakukan agar dunia sepak bola Indonesia tidak kehilangan momentum dalam berbenah. 

Satgas Anti Mafia Bola sudah mengusut beberapa individu, termasuk mantan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono, dan berencana mengusut beberapa individu lain, termasuk IB. Diharapkan hal itu bisa mengurai benang kusut persepakbolaan Indonesia, khususnya soal mafia dan match fixing (pengaturan skor pertandingan). 

“Jangan sampai momentum yang sudah bagus ini hilang begitu saja karena energi kita larut dan tersedot ke hal-hal lain,” terangnya.

Kasus mafia bola berupa duagan suap yang menyeret IB ini bermula dari laporan mantan Manajer Tim Perseba Bangkalan, Imron Abdul Fattah, pada delapan besar Piala Soeratin 2009, awal Januari lalu. 

Saat itu Imron mengucurkan dana Rp 140 juta sebagai setoran untuk menjadi tuan rumah fase delapan besar. Satgas menemukan adanya aliran dana kepada IB dan jajarannya ketika masih menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) 2009.*

news
Penulis
Ari DP
Penggemar semua cabang olahraga. Asli Yogyakarta, KTP Sleman, tinggal di Jakarta.
news