LIGA 2
WAWANCARA EKSKLUSIF: Jaya Hartono: Kursi Pelatih Klub Liga 1 Itu Panas Terus
16 Mei 2019 11:33 WIB
berita
Jaya Hartono saat menangani PSCS Cilacap - TopSkor/Sri Nugroho
SERANG – Mendengar nama Jaya Hartono, publik sepak bola nasional niscaya sudah tak asing. Ia salah satu pelatih dengan segudang pengalaman  dan prestasi. Ia sukses membawa Persik Kediri promosi ke Liga Indonesia pada 2002 lantas juara kasta tertinggi pada 2003. Musim lalu, Jaya membawa PSCS Cilacap promosi ke Liga 2 2019.

Namun kini, Jaya sudah tak berada di Cilacap. Mantan pelatih Persib ini telah menetapkan pilihan membesut tim Liga 2, Perserang. Sebagai salah satu pelatih papan atas Indonesia, mengapa Jaya lebih memilih menangani klub kasta kedua dan ketiga? Berikut wawancara ekslusif TopSkor dengan pria 56 tahun tersebut:


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Pemain U-23 Kejar Peluang Main Reguler di Liga 1
- INFOGRAFIS: Yabes Roni, Mutiara dari Alor Milik Bali United




Perserang berada di grup kuat, Grup Barat...

Kalau melihat nama-nama tim di Grup Barat ada beberapa tim-tim besar, seperti Sriwijaya FC dan PSMS Medan, tapi itu menurut saya hanya nama besar saja. Persiapannya sama kok. Mereka juga persiapannya minim.


Baca Juga :
- Pencetak Dua Gol Persib Dipanggil Timnas Turkmenistan, Robert Santai
- Foto foto Edisi Kamis (22/5)


Pemain seperti apa yang dibutuhkan?

Kami sedang mengadakan seleksi tertutup. Jadi hanya pemain-pemain yang kami undang saja yang datang. Memang ada beberapa pemain yang kami pantau itu cukup untuk bisa menambah di dalam tim kami.

Sukses bersama PSCS. Kenapa pergi?

Saya rasa ini merupakan hal yang biasa perpindahan dari satu klub ke klub yang lain. Jadi di mana pun kami melatih ataupun bermain harus menyesuaikan diri. Saya sudah di sini (Perserang) jadi harus cepat juga menyesuaikan diri.

Sepertinya jadi spesialis pelatih Liga 2 dan 3?

Saya rasa tidak ada masalah buat saya. Yang penting saya masih ada aktivitas dalam sepak bola. Memberikan yang terbaik. Untuk apa kita melatih tim Liga 1 tapi hanya menjadi sasaran, yang membuat diri kita tidak nyaman. Kalau di Liga 2 atau Liga 3, mungkin bisa mengatasi semua permasalahan yang ada di dalam tim.

Apa perbedaan tiga kasta kompetisi?

Kalau Liga 1 itu tensinya tinggi. Jadi kalau dilihat dari segi kenyamanan, saya rasa nyaman melatih untuk tim Liga 2 dan Liga 3. Karena, kalau Liga 1 itu kursi pelatihnya panas terus (tertawa). Kecuali kalau tim itu milik kita sendiri. Itu baru aman. Tapi kalau masih numpang sama orang, kursinya panas terus itu. Bisa ditendang kita.

Apa tidak ingin melatih tim Liga 1?

Tahun depan, kalau regulasi lisensi kepelatihannya tidak berubah, saya bisa. Kalau harus menggunakan lisensi A Pro, saya tidak bisa.

Momen paling berkesan sebagai pelatih?

Yang pasti waktu juara dua kompetisi bersama Persik Kediri. Empat tahun menangani Perik dari mulai Divisi Dua juara tiga, Divisi Satu juara satu, dan juara pertama Divisi Utama (Liga Indonesia 2003). Ini momen yang tidak bisa saya lupakan. Karena apa? Karena ini merupakan sejarah buat saya. Dengan prestasi itu saya sempat melatih dua musim tim besar seperti Persib Bandung.

Kegiatan lain Jaya Hartono?

Saya paling kalau tidak ada kegiatan sepak bola, di rumah ya ngontrol sawah. Kemudian kalau pas lagi longgar latihan sama anak kampung, itu juga tidak terlalu ngoyo. Hanya sekadar keluar keringat saja.

Apa mimpi yang ingin belum tercapai?

Sebenarnya, ada satu yang dari dahulu ingin menjadi mimpi saya, yaitu melatih timnas Indonesia. Saya mantan pemain timnas selama 12 tahun. Banyak prestasi yang saya raih untuk timnas Indonesia. Tapi sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melatih timnas. Kalau mungkin dibandingkan pelatih yang sudah ada, mohon maaf ya, saya mungkin pelatih yang memiliki pengalaman dan prestasi di timnas.* Sumargo Pangestu 

news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news