UMUM
Mualaf Eks Persija Rajin Belajar Mengaji ke Wanita Betawi
15 Mei 2019 11:50 WIB
berita
Silvio Escobar - Foto/Istimewa
SEBAGAI mualaf atau non muslim yang kini sudah memeluk agama Islam, Silvio Escobar Benitez, ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ramadan pun menjadi momentum yang paling dinantikan pria Paraguay tersebut. Sejak memilih Islam pada 2016, Escobar terus bertransformasi jadi muslim yang taat.

Dari tiga kali periode bulan puasa sebagai muslim, baru tahun ini ia merasakan nuansa Ramadan yang benar-benar berbeda. Bahkan, striker yang akan membela PSIS karena dipinjamkan Persija, punya target yang mesti dicapainya. Ia tidak ingin ada puasa yang bolong karena hal-hal sepele.


Baca Juga :
- Babak Pertama, Persija Ungguli Barito Putera
- Mengakselerasi Persija Lewat Legenda dan Sejarah Klub




“Saya mualaf tahun 2016, tapi baru mulai ikut berpuasa dari 2017. Jadi ini adalah Ramadan ketiga saya. Tentunya saya ingin pol puasanya tahun ini, tanpa ada yang bolong. Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari ke hari. Sama juga seperti karier sepak bola saya,” kata Escobar.

Awalnya, Escobar mengaku aneh dan tak terbiasa harus menahan lapar dan dahaga. Namun, seiring berjalannya waktu dan semangatnya untuk mempelajari Islam secara mendalam, membuat keteguhannya bertambah kuat. Pada tahun pertama puasa, Escobar mengaku sanggup beberapa hari saja.


Baca Juga :
- Hampir Terwujud dan Bisa Mendominasi Eropa, Ini Formasi Barca di Musim Depan
- Persija Mengakhiri Kiprah di Piala AFC 2019 dengan Pesta Gol


“Saat itu, hari pertama dan kedua terasa sangat berat. Dua tahun itu, saya tidak bisa puasa satu bulan penuh karena masih beradaptasi,” ungkap Escobar. “Tapi sekarang, alhamdulillah tubuh saya semakin kuat dan terbiasa untuk tidak makan minum seharian walau tetap beraktivitas.”

Lingkungan dan jadwal padat saat masih bermain untuk Perseru Serui, jadi salah satu alasan Escobar belum bisa berpuasa penuh. Menurutnya, bagi mualaf yang baru belajar berpuasa, tidak mudah untuk beradaptasi. Apalagi dalam lingkungan yang mayoritas tak puasa, tantangannya dua kali lipat.

“Tahun lalu menurut saya yang paling berat. Bersama tim Perseru saya harus melakukan perjalanan terus menerus dan jauh-jauh pula untuk kompetisi Liga 1. Sulit sekali untuk berpuasa. Saya sudah berusaha tetapi tetap tidak bisa. Tahun ini, saya pikir jauh lebih bersahabat,” katanya.

Meski sempat kecewa dilepas Persija di bulan Ramadan, Escobar memetik hikmah dari situasi tersebut. Justru itu akan membuatnya semakin kuat untuk bisa lebih baik di tempat baru. “Kecewa ya pasti ada, tapi ya saya ambil hikmahnya saja. Karena berkah di bulan Ramadan itu bisa datang tiba-tiba,” katanya.

Ketimbang memikirkan hal-hal yang sudah lewat, Escobar ingin fokus belajar membaca Al Quran. “Saya masih banyak belajar dalam membaca Alquran sama istri. Paling tidak beberapa surat saya baca dalam sehari. Target tidak ada, tapi ya semaksimal saya bisa. Karena saya harus menjadi imam dan contoh keluarga,” kata Escobar.

Untuk diketahui, istri Escobar adalah gadis Betawi asal Depok. Semoga lancar ya ngajinya.* Furqon Al Fauzi 

news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news