ONE CHAMPIONSHIP
Petarung Senior MMA Ini Berbagi Tantangan Hidup
08 May 2019 17:09 WIB
berita
JAKARTA - Sunoto, seorang atlet Indonesia yang berlaga dalam ONE Championship, dikenal sebagai salah satu petarung senior dalam dunia mixed martial arts (MMA). Meski awalnya mengenal seni beladiri dari acara televisi, ia merupakan salah satu petarung yang telah berlaga sejak awal populernya MMA dalam divisi bantamweight. 

Sejak memasuki ONE pada tahun 2015, pria dengan julukan “The Terminator” ini telah mengemas sembilan kemenangan dari 14 laga dalam kariernya. Ia saat ini telah mengumpulkan 11 kemenangan secara keseluruhan kariernya.


Baca Juga :
- Atlet MMA Indonesia Peringati Hari Koperasi Nasional
- Michelle Nicolini Berniat Taklukkan Angela Lee




Dalam laga terakhirnya melawan Paul Lumihi, rekan satu negara yang bertanding perdana di ajang ONE: FOR HONOR Jumat lalu, "The Terminator" berhasil tampil dominan. Pada akhir pertandingan, juri memberinya angka mutlak untuk sebuah kemenangan. Namun, tidak banyak yang mengira bahwa perjalanan Sunoto dilalui dengan berbagai rintangan.

Lahir dari keluarga tidak mampu, kedua orang tua pria kelahiran Blora, Jawa Tengah ini tidak mampu menyekolahkan dirinya. Setelah lulus sekolah dasar ia harus menempuh kelas tambahan untuk mendapatkan ijazah SMP dan SMA.  “Saya datang dari keluarga miskin. Rumah kami tidak karuan dan dindingnya terbuat dari gelam, atau kulit kayu,” tutur anak pertama dari dua bersaudara ini. 


Baca Juga :
- Kemenangan di Malaysia, Petarung Indonesia Ini Ingin Angkat Ekonomi Keluarga
- Apa Yang Dipertaruhkan Dalam ONE: MASTERS OF DESTINY?


Sunoto teringat bagaimana sulitnya mengakses informasi ketika ia bertumbuh dewasa. Untuk menonton televisi, ia harus menumpang ke rumah tetangga, karena orang tuanya sendiri kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Keterbatasannya menjadi tantangan tersendiri untuk mengembangkan potensi beladirinya.

“Saya suka beladiri sedari kecil, tapi bagaimana mau latihan kalau tidak ada tempat belajar. Untuk memenuhi kebutuhan saja susah. Dulu tidak seperti sekarang, gym dulu tidak ada,” ujar ayah satu anak ini.

“Ketika bersekolah, saya selalu memakai pakaian seadanya. Bahkan sering pakai sepatu boots rusak milik ayah saya untuk sekolah.”

Sunoto terpaksa harus mulai hidup mandiri pada usia remaja untuk membantu perekonomian keluarga. Ia merantau ke Surabaya di Jawa Timur demi mendapatkan penghasilan. 

Di kota yang asing ini, Sunoto bekerja di tempat usaha laundry milik seorang saudara jauh. Ia bekerja dan mengantarkan hasil cucian ke berbagai pelosok daerah di Kota Pahlawan tersebut. Sebagai tambahan, ia juga sempat bekerja di tempat penjualan kambing. 

Pengalamannya berkeliling kota akhirnya membuka jalan baginya untuk menempuh jalur beladiri, ketika ia menemukan sasana beladiri Taekwondo. Ia mulai menyisihkan penghasilan dan membagi waktu untuk menekuni hobi barunya.

“Disitu saya mulai belajar beladiri, mungkin sekitar tahun 2003. Karena waktunya fleksibel dan kebanyakan di malam hari, jadi tidak mengganggu waktu kerja,” ungkapnya. 

Lambat laun, ia pun mulai mempelajari bidang olahraga lain seperti Brazilian Jiu-jitsu (BJJ). Dia mulai mencoba terjun ke berbagai kompetisi regional sampai akhirnya bakat terpendamnya tercium. 

“Setelah mendapatkan berbagai medali, termasuk dikejuaraan tingkat Asia, saya mulai dilirik. Ketika itu ada kejuaraan di Bandung dan saya mewakili Jawa Timur,” tuturnya. 

Tidak lama, perjuangannya mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan mempelajari beladiri secara mendalam pun mendapat ganjaran. Ia dilirik oleh ONE Championship, property media olahraga global terbesar dalam sejarah di Asia, pada tahun 2013. Sunoto menjalani pertandingan debutnya di Manila, Filipina, pada tahun 2015, tetapi harus mengakui keunggulan Wang Ya Wei, seorang atlet asal Cina. 

Tetapi, kekalahan ini tidak menghambat dirinya untuk berkembang. Sunoto terus bertanding dan kini menikmati hasil kerja kerasnya. Ia pun berhasil membantu orang tuanya untuk merenovasi rumah mereka di kampung halaman. Sekarang, ia tinggal di Jakarta bersama anak istrinya dan menjadi pelatih beladiri. 

“Selanjutnya, harapan saya adalah bisa meraih sabuk juara, seperti yang diharapkan warga Indonesia,” tuturnya. 

news
Penulis
Suryansyah
news