TOP OPINI FOOTBALL
Tiki-Taka Dipatahkan Gegenpressing, Ujung Jalan Metode Penghasil Banyak Trofi
08 Mei 2019 09:09 WIB
berita
Lionel Messi dikepung pemain Liverpool. -TopSkor.Id/Istimewa-
KEKALAHAN FC Barcelona bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Peristiwa tahun lalu 3-0 lalu 0-4 dari AS Roma dan terulang lagi dengan Liverpool hanyalah sebuah kebetulan. Satu gambaran yang lebih besar tersaji di Stadion Anfield pada 7 Mei waktu setempat. Saat itulah peristiwa berakhirnya kejayaan era Tiki-taka.

Sebuah metode permainan sepak bola yang diusung oleh Johann Cruyff dan disempurnakan oleh Josep Guardiola. Dengan metode ini, Barca meraih banyak sekali trofi, bahkan timnas Spanyol pun mengadopsinya hingga dapat dua kali Piala Eropa dan satu Piala Dunia. Namun, di tangan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, Tiki-taka dipatahkan.


Baca Juga :
- Ada Nama Jawa dalam Timnas Belanda U-17
- Kembali Kuasai Belanda, Ajax Rebut Gelar Eredivisie Pertama sejak 2014




Dibuat tak berdaya oleh metode Gegenpressing yang dibawanya dari jerman, dari Borussia Dortmund. Saat Liverpool dihajar Barca 0-3 di laga pertama, Gegenpressing sudah berjalan tapi tidak beruntung. Magis Camp Nou seperti memberikan kekuatan bagi Tiki-taka yang sudah sekarat.

Setelah laga pertama itu, Klopp terus memperbaiki Gegenpressing. Ini diterapkan ke semua pemain. Mereka yang berada di lapangan, kecuali kiper, harus menempel lawan. Saat menguasai bola langsung menekan dengan cepat. Jika kehilangan, langsung rebut lagi. Jika bola sudah keburu dioper, pemain lain harus merebutnya.


Baca Juga :
- Pilihan Luar Biasa Sulit, Kata Mohamed Salah ke Madrid, Saya Datang tapi Ramos Pergi
- Baru Saja Lolos ke Final Liga Champions, Liverpool Langsung Kejar Winger Cadangan Madrid Ini


Muara dari Tiki-taka dan Gegenpressing sebenarnya sama yaitu bagaimana caranya menguasai bola selama mungkin. Bedanya, Gegenpressing lebih galak dan ternyata tepat untuk menghancurkan Tiki-taka. Sehingga, tanpa Roberto Firmino dan Mohamed Salah, Liverpool tetap bergerak seperti mesin.

Dua gol Liverpool terakhir memang bukan hasil Gegenpressing tapi lebih diakibatkan oleh efeknya. Para pemain Barca kelelahan membangun permainan. Ritme mereka jadi berantakan. Lionel Messi pun tak berdaya lantaran tiap ada kesempatan langsung dikurung hingga bola lepas.

Setelah itu, masing-masing pengurungnya kembali menempel pemain Barca lainnya yang masih menguasai bola. Atau, langsung menyerang jika bola sudah dikuasai mereka. Begitu terus sepanjang pertandingan hingga defisit berapa pun tak masalah bagi Liverpool untuk membalikkan keadaan.

Klopp dan Liverpool seperti berjodoh. Gegenpressing yang dibawanya cocok dengan hampir semua karakter pemain The Reds. Saat menggilas Barca, Klopp seperti memilih pentas yang tepat dan ingin memperlihatkannya kepada dunia bahwa era Tiki-taka sudah berakhir. Kasanya, jika mau mengalahkan Barca, pakailah Gegenpressing.

Satu tim yang mungkin saja “membeli” produk Klopp adalah Real Madrid. Pelatih Zinedine Zidane bisa mulai mempertimbangkan untuk mengekor Liverpool jika ingin menumbangkan Barca. Proyek Los Galacticos memungkinkan Madrid membeli pemain yang bisa menjalankan Gegenpressing.

Gegenpressing identik dengan kekuatan tapi bukan berarti ini mendukung Teori Evolusi Charles Darwin. Sepak bola lebih kompleks dari itu. Gegenpressing sebagai sebuah metode memang menang di hari itu. Jika Gegenpressing bisa membuka cakrawala bahwa cara ini bisa dipakai untuk mematahkan Tiki-taka, juga benar.

Namun, Gegenpressing tetap butuh waktu untuk pengujian lebih lanjut. Masih butuh waktu untuk dikatakan sebagai metode terbaik karena ujung dari strategi bermain adalah trofi. Menarik menantikan trofi-trofi yang bisa dihasilkan dari Gegenpressing. Tapi untuk saat ini, trofi hasil Tiki-taka sudah banyak sekali dan itu adalah bukti konkret.*

D
Penulis
Dedhi Purnomo
news