LIGA 1
Dongeng Cenderawasih Jingga Berakhir Mengenaskan pada Awal 2019
10 February 2019 19:01 WIB
berita
Perseru Serui dalam sebuah pertandingan musim lalu - TopSkor
JAKARTA - Satu lagi klub Indonesia "gantung diri". Kabar itu tersiar pada Sabtu (9/2) siang lewat cuitan akun @kotaserui. Tanpa petir, tanpa badai, tanpa hujan, disebutkan bahwa Perseru Serui mundur dari kompetisi kasta tertinggi liga Indonesia. 

Ini sangat mengejutkan, sebab Perseru sempat berjuang beringat hingga titik darah penghabisan dalam dua musim berturut-turut. Dalam ajang Liga 1 2017 dan 2018, Cenderawasih Jingga nyaris degradasi. 


Baca Juga :
-
-




Perseru mulai dongengnya pada 2011/2012. Tampil di kasta kedua, saat kompetisi sedang terpecah dua, ada ISL dan IPL, perjalan klub kelahiran 1970 ini relatif lancar. 

Hanya dua musim Perseru berjuang di kasta kedua, 2011/12 dan 2013. Pada akhir 2013, Perseru membuat kejutan dengan tampil ke partai final. Ketika itu, nyaris tak ada pemain bintang dalam skuat Perseru. 


Baca Juga :
-
-


Pada 2014, Perseru menghuni peringkat kedelapan wilayah barat. Musim berikunya, kompetisi dihentikan pada pekan ketiga karena force majeure. Saat itu ada konflik antara pemerintah dan PSSI. 

Pada 2016, dalam turnamen berformat kompetisi, Perseru menempati peringkat ke-11. Sedang dalam Liga 1 2017, Perseru bertengger di posisi 15. Sedang musim lalu, Liga 1 2018, menempati posisi ke-14. 

Kiprah Perseru dalam kasta tertinggi memang tidak mudah. Pasalnya, klub dengan warga kebesaran jingga ini masih tradisional. "Kehidupan" Perseru tak bisa lepas dari Pemkab Serui. 

Berdasarkan laporan Tirto, kepemilikan saham di PT Perseru Serui, badan hukum Perseru, saham klub hanya dikuasai tiga orang: Yance Banua (pengusaha), Edward Norman Banua (anak Yance), dan Tonny Tesar Rouw (anggota DPRD). 

Juga tercatat, Bupati Perseru Tonny Tesar sebagai Ketua Umum Perseru. Hubungan inilah yang membuat Perseru hidup. Dalam setiap musimnya, dana pariwisata Serui, lewat sponsor, digelontorkan untuk menghidupi. 

Hujan memang datang tanpa perlu dibuka dengan petir juga badai. Begitu halnya Perseru, tanpa tanda-tanda, saat profesionalitas tak lagi bisa dikelola dengan baik, pada akhirnya kematian yang datang mendatangi. 

Turut berduka cita atas Perseru. Semoga dongeng singkatnya kekal, walau seperti sulit abadi.* 
 

news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news