TOP OPINI FOOTBALL
Nasib Solskjaer Ada di Kaki Pogba, Berbaik Hatilah Dengannya
31 Desember 2018 10:51 WIB
berita
Paul Pogba disinyalir yang menyebabkan Jose Mourinho dipecat. -TopSkor.Id/Istimewa-Baru tiga pertandingan Ole Gunnar Solskjaer memimpin. Dari tiga pertandingan itu, semuanya disapu bersih dengan kemenangan gemilang oleh Manchester United (MU). Cardiff City, Huddersfield Town, dan AFC Bournemouth telah merasakan keganasan Setan Merah yang sesungguhnya. Di tiga laga itu, MU menyarangkan 12 gol dan hanya kemasukan tiga kali. Masing-masing sekali saja kebobolannya. Tidak ada tanda-tanda MU mengendur dan mereka pun sudah mulai menatap laga berikutnya lawan Newcastle United pada Rabu (3/1) pukul 03.00 WIB. Bintang utama di tiga laga sebelumnya dan juga untuk laga selanjutnya tak lain dan tak bukan adalah Paul Pogba. Di tiga pertandingan itu, Pogba menorehkan total empat gol dan tiga assist. Pogba bermain begitu liar dan sesukanya. Dia seperti macan yang lepas dari kandang dan menerkam siapa saja di depannya. Ini berbeda jauh saat MU masih ditukangi oleh Jose Mourinho. Pogba seperti melempem dan tak bisa berbuat banyak untuk timnya. Meski begitu, Pogba tidak disalahkan dan dihakimi fan dan publik. Semua kesalahan itu murni dialamatkan ke sosok Mourinho karena taktik dan strateginya yang salah. Pogba pun ikut mengompori dengan memberikan pernyataan bahwa MU telah berubah jadi tim yang pragmatis. Enggan menyerang dan tidak bisa bermain indah. Memang, Mourinho saat itu memerintahkan Pogba untuk lebih bertahan. Hasilnya bisa dilihat, MU malah jadi seperti tim semenjana alias mediocre. Kalau dicermati, di sini bisa diduga kalau Pogba hanya pura-pura saja main tidak bagus. Pogba telah diakui oleh banyak pelatih sebagai pemain yang cerdas. Seharusnya, dia bisa bermain dengan sama bagusnya saat dilatih oleh siapa pun. Dengan memakai strategi apa pun, Pogba diyakini bisa tetap brilian di lapangan. Pogba punya level yang berbeda. Sama seperti Eden Hazard yang tetap bagus saat Chelsea dilatih siapa pun. Atau, Lionel Messi dan Andres Iniesta di FC Barcelona. Pernah ada satu pertandingan, Pogba memutuskan untuk lebih mundur ke belakang agar timnya menang. Mourinho setuju dan hasilnya benar seperti itu. Strategi Mourinho mungkin tidak jitu tapi Pogba diyakini bisa tetap bermain bagus. Jika Pogba, saat masih ada Mourinho, bermain bagus, bisa jadi pelatih asal Portugal itu masih di MU. Pogba seperti memainkan karakternya sendiri. Mengubah permainannya jadi seperti pesepak bola berkemampuan standar. Perseteruan Pogba dan Mourinho pun tak terelakkan. Ban kapten yang pernah diberikan Mourinho diambil lagi. Puncaknya, MU kalah oleh Liverpool dan tamatlah riwayat Mourinho. Sebelum itu pun, beredar kabar kencang kalau Pogba telah menelepon Ed Wooward, Wakil Pimpinan MU. Woodward adalah penanggung jawab operasional klub. Dia pun langsung menghubungi pemilik MU di Amerika Serikat, Malcolm Glazers. Vonis pun dijatuhkan, Mourinho dipecat. Pogba pun dikabarkan girang dan malah merayakan kepergian Mourinho. Ini tanda kedua. Tanda ketiga, saat Solskjaer datang, tiba-tiba saja Pogba berubah 180 derajat. Tampilnya jadi menggila seperti itu. Memang, Solskjaer langsung memerintahkan semua gelandang untuk ikut menyerang tapi ini gila banget. Pogba seakan-akan ingin menyampaikan pesan bahwa dia akan bermain bagus dengan pelatih yang sepakat dengan pemikirannya. Mourinho mungkin tahu itu makanya dia jengkel kepada Pogba yang terkesan menahan kemampuannya. Pertaruhannya, MU jadi terlempar dari persaingan juara Liga Primer 2018/19. Gelagat ini juga dibaca oleh Zinedine Zidane yang mau ke MU jika Pogba tak ada. Dia yakin sekali, Pogba adalah sosok pemain yang bisa mengganggu kewibawaan seorang pelatih dan bahkan bisa ikut mendepaknya dari tim. Selama masih ada Pogba, lebih baik Zidane cari kerja di tempat lain saja. Dia tidak mau nasibnya ditentukan oleh seorang pemain bintang. Kini, Pogba sedang memanjakan Solskjaer dengan aksi briliannya. Di akhir musim nanti, jika Pogba terus selaras dengan Solskjaer, apa pun pencapaian MU, dia pasti akan meminta manajemen untuk tetap memakai pelatih asal Norwegia itu. Pogba sudah seperti Messi yang bisa menentukan arah langkah tim. Bedanya, Pogba memakai taktik yang lebih halus. Memainkan karakternya di luar dan di dalam lapangan. Selama Solskjaer tak mengusik dirinya, pelatih interim itu aman. Dia akan terus bermain trengginas dan terus memberikan kemenangan untuk timnya. Pada posisi ini, sikap Pogba pasti akan disukai manajemen. Fan dan semua pemain pun pasti suka. Tak ada yang menolak kemenangan meski ada drama nonteknis di balik itu. Drama yang dimainkan seorang oleh Pogba. Lakon yang mampu menggeser pelatih fenomenal macam Mourinho dan mencegah kedatangan pelatih hebat lainnya yaitu Zidane.***
BARU tiga pertandingan Ole Gunnar Solskjaer memimpin. Dari tiga pertandingan itu, semuanya disapu bersih dengan kemenangan gemilang oleh Manchester United (MU). Cardiff City, Huddersfield Town, dan AFC Bournemouth telah merasakan keganasan Setan Merah yang sesungguhnya.

Di tiga laga itu, MU menyarangkan 12 gol dan hanya kemasukan tiga kali. Masing-masing sekali saja kebobolannya. Tidak ada tanda-tanda MU mengendur dan mereka pun sudah mulai menatap laga berikutnya lawan Newcastle United pada Rabu (3/1) pukul 03.00 WIB.


Baca Juga :
- Saatnya Pergi, Liverpool Jual Dua Pemain Pelapis, Harganya Murah
- Guardiola Tidak Boleh Pergi, Man City Sodorkan Kontrak Baru dan Gaji Selangit




Bintang utama di tiga laga sebelumnya dan juga untuk laga selanjutnya tak lain dan tak bukan adalah Paul Pogba. Di tiga pertandingan itu, Pogba menorehkan total empat gol dan tiga assist. Pogba bermain begitu liar dan sesukanya. Dia seperti macan yang lepas dari kandang dan menerkam siapa saja di depannya.

Ini berbeda jauh saat MU masih ditukangi oleh Jose Mourinho. Pogba seperti melempem dan tak bisa berbuat banyak untuk timnya. Meski begitu, Pogba tidak disalahkan dan dihakimi fan dan publik. Semua kesalahan itu murni dialamatkan ke sosok Mourinho karena taktik dan strateginya yang salah.


Baca Juga :
- Niat Membelot, Gelandang Madrid Ini Bercita-cita Main Bareng Messi, Peluang Selalu Ada
- Betah di Atletico dan Lihat Peluang Bagus, Striker Pinjaman Ini Ogah Balik ke Chelsea


Pogba pun ikut mengompori dengan memberikan pernyataan bahwa MU telah berubah jadi tim yang pragmatis. Enggan menyerang dan tidak bisa bermain indah. Memang, Mourinho saat itu memerintahkan Pogba untuk lebih bertahan. Hasilnya bisa dilihat, MU malah jadi seperti tim semenjana alias mediocre.

Kalau dicermati, di sini bisa diduga kalau Pogba hanya pura-pura saja main tidak bagus. Pogba telah diakui oleh banyak pelatih sebagai pemain yang cerdas. Seharusnya, dia bisa bermain dengan sama bagusnya saat dilatih oleh siapa pun. Dengan memakai strategi apa pun, Pogba diyakini bisa tetap brilian di lapangan.

Pogba punya level yang berbeda. Sama seperti Eden Hazard yang tetap bagus saat Chelsea dilatih siapa pun. Atau, Lionel Messi dan Andres Iniesta di FC Barcelona. Pernah ada satu pertandingan, Pogba memutuskan untuk lebih mundur ke belakang agar timnya menang. Mourinho setuju dan hasilnya benar seperti itu.

Strategi Mourinho mungkin tidak jitu tapi Pogba diyakini bisa tetap bermain bagus. Jika Pogba, saat masih ada Mourinho, bermain bagus, bisa jadi pelatih asal Portugal itu masih di MU. Pogba seperti memainkan karakternya sendiri. Mengubah permainannya jadi seperti pesepak bola berkemampuan standar.

Perseteruan Pogba dan Mourinho pun tak terelakkan. Ban kapten yang pernah diberikan Mourinho diambil lagi. Puncaknya, MU kalah oleh Liverpool dan tamatlah riwayat Mourinho. Sebelum itu pun, beredar kabar kencang kalau Pogba telah menelepon Ed Wooward, Wakil Pimpinan MU.

Woodward adalah penanggung jawab operasional klub. Dia pun langsung menghubungi pemilik MU di Amerika Serikat, Malcolm Glazers. Vonis pun dijatuhkan, Mourinho dipecat. Pogba pun dikabarkan girang dan malah merayakan kepergian Mourinho. Ini tanda kedua.

Tanda ketiga, saat Solskjaer datang, tiba-tiba saja Pogba berubah 180 derajat. Tampilnya jadi menggila seperti itu. Memang, Solskjaer langsung memerintahkan semua gelandang untuk ikut menyerang tapi ini gila banget. Pogba seakan-akan ingin menyampaikan pesan bahwa dia akan bermain bagus dengan pelatih yang sepakat dengan pemikirannya.

Mourinho mungkin tahu itu makanya dia jengkel kepada Pogba yang terkesan menahan kemampuannya. Pertaruhannya, MU jadi terlempar dari persaingan juara Liga Primer 2018/19. Gelagat ini juga dibaca oleh Zinedine Zidane yang mau ke MU jika Pogba tak ada.

Dia yakin sekali, Pogba adalah sosok pemain yang bisa mengganggu kewibawaan seorang pelatih dan bahkan bisa ikut mendepaknya dari tim. Selama masih ada Pogba, lebih baik Zidane cari kerja di tempat lain saja. Dia tidak mau nasibnya ditentukan oleh seorang pemain bintang.

Kini, Pogba sedang memanjakan Solskjaer dengan aksi briliannya. Di akhir musim nanti, jika Pogba terus selaras dengan Solskjaer, apa pun pencapaian MU, dia pasti akan meminta manajemen untuk tetap memakai pelatih asal Norwegia itu. Pogba sudah seperti Messi yang bisa menentukan arah langkah tim.

Bedanya, Pogba memakai taktik yang lebih halus. Memainkan karakternya di luar dan di dalam lapangan. Selama Solskjaer tak mengusik dirinya, pelatih interim itu aman. Dia akan terus bermain trengginas dan terus memberikan kemenangan untuk timnya. Pada posisi ini, sikap Pogba pasti akan disukai manajemen.

Fan dan semua pemain pun pasti suka. Tak ada yang menolak kemenangan meski ada drama nonteknis di balik itu. Drama yang dimainkan seorang oleh Pogba. Lakon yang mampu menggeser pelatih fenomenal macam Mourinho dan mencegah kedatangan pelatih hebat lainnya yaitu Zidane.***

 

D
Penulis
Dedhi Purnomo
news