UMUM
Cabor Atletik Terbanyak Distiribusikan Medali Bagi Kota Bandung
08 November 2018 20:17 WIB
berita
ATLET tuna daksa, Wawa Gunawan berteriak histeris usai melakukan pelemparan nomor lempatr cakram cabor atletk di hari kelima PEPARDA V/2018, yang digelar di arena atletik Pakansari, Cibinong, Kamis (8/11)/ Arief NK
CIBINONG –Atletik menjadi cabang olahraga (cabor) terbanyak dalam pendistribusian medali bagi Kontingen Kota Bandung. Sampai hari kelima Pekan Paralympik Daerah V/2018 Jawa Barat (PEPARDA), Kamis (8/11), cabor yang satu ini telah menyumbangkan sebanyak 33 keping emas, 28 perak dan 18 perunggu.

Dipastikan, memasuki hari keenam, Jumat (9/11), perolehan medali emas di ajang  pesta olahraga penyandang disabilitas cabor atletik   yang berlangsung di Kabupaten Bogor itu, akan terus berlanjut mengingat masih banyak nomor yang akan  dipertandingkan seperti lari estafet dan lempar cakram.

Sementara tenis meja menjadi cabor terbanyak kedua setelah mempersembahkan 13 emas, 9 perak dan 9 perungggu.  Di peringkat ketiga, cabor renang dengan mempersembahkan 10 medali emas, 5 perak , 6 perunggu.


Baca Juga :
- PEPARDA V/2018, Minggu Sore Ini Resmi Dibuka
- Atlet NPCI Jabar Terbesar Menyumbangkan Bonus Asian Para Games



Cabor Panahan yang diprediksi akan menjadi cabor kedua yang akan mendulang medali baru menempati peringkat ketiga dengan 5 emas,  12 perak , 7 perunggu. Keempat adalah, bowling yang baru mempersembahkan 3 emas, 1 perak dan 1 perunggu.

Cabor Goalball gagal mengawinkan gelar. Hanya bagian putri yang berhasil merebut medali emasnya sedangkan bagian putra harus puas mendapatkan perak. Disisi lain, tiga cabor yang belum mempersembahkan yakni, Judo, Bulutangkis, Angkat Berat, Bola Voli Duduk dan  Tenis Lapangan.

Perolehan medali yang diraih sampai kelima itu, terbilang mengecewakan. Pasalnya, banyak faktor non teknis yang didapat di lapangan.  “Cara-cara yang tidak semestinya terjadi justru terjadi dalam pelaksanaannya. Misalnya, cabor renang yang pelaksanannya tidak mengacu dan mengabaikan THB (technical handbook). Seharusnya, THB dihormati karena merupakan kesepakatan sebelum pertandingan, tetap kenyataannya tuan rumah yang mengubah sistem saat lomba dilaksanakan,” tandas Zulkaranen, Manajer Tim Renang, Kota Bandung.

Cabor renang yang sebelumnya telah memprediksi akan mendapatkan 15 medali emas, ternyata hanya 10 yang berhasil direbut. “Lima medali emas kita hilang bukan karena kita kalah dalam lomba, tetapi ada permainan non teknis yang dilakukan tuan rumah sehingga merugikan tim kita, seperti pelaksanaan  lomba tidak sesuai dengan buku acara lomba., hal yang mencolok adalah amburadul aturan klasikasi, atlet yang tampil dalam salah satu klasifikasi untuk bermain dalam limirt tapi limit itu tidak diperlihatkan dalam papan skor sehingga membuat atletnya kesulitan apakah berhasil tidaknya meraih medali emas,” papoar Zulkarnaen.


Baca Juga :
- Atletik Catat Prestasi Apik di APG 2018, Pemerintah Pikirkan UU Olahraga Disabilitas
- Dipoles Pelatih 9-10 Bulan, Arianti Hasilkan 2 Perak


Besar kemungkinan, kata Zulkarnaen, upaya tuan rumah untuk menjegal Kota Bandung tidak hanya dilakukan kepada cabor renang saja.. Di beberapa cabor lainnya pun kata dia, permainan non teknis untuk upayan  dilakukan pihak tuan rumah.

“Ada lagi, seperti masalah mutasi,  atlet yang sebelumnya tidak ada dalam buku acara lomba tiba-tiba muncul  namanya, jelas ini sebuah permainan kotor tuan rumah,” tegasnya. **

A
Penulis
Arief N K