UMUM
Atlet NPCI Jabar Terbesar Menyumbangkan Bonus Asian Para Games
26 October 2018 10:33 WIB
berita
SEORANG atlet disabilitas asal Jabar ini tekun berlatih demi mengangkat nama NPCI/ Arief NK
BANDUNG - National Paralimpik Committee of Indonesia  (NPCI) adalah wadah bagi penyandang disabilitas untuk dapat berbicara  di ajang olahraga. Mereka dibina, diarahkan dan dicetak menjadi pribadi yang mandiri melalui olahraga.

Alhasil, melalui latihan dan tampil di  berbagai even dari mulai Pekan Olahraga Paralimpik Daerah (PEPARDA), Pekan Olahraga Paralimpik Nasional (PEPARNAS), ASEAN Paragames, Asian Para Games sampai yang tertinggi Paralimpiade, beberapa penyandang disabilitas dapat berbicara  berkat wadah yang satu ini,




Baca Juga :
- Toyota Indonesia Majukan Dunia Olahraga Nasional Lewat Semangat Start Your Impossible
- Jelang Liverpool vs Chelsea, Moh Salah Berlatih dengan Anak-anak Disabilitas




Organisasi yang dulunya bernama BPOC (Badan Olahraga Cacat) ini, berpusat di Solo. Kini, NPCI tersebar di seluruh Indonesia dengan pengakuan resmi dari pemerintah.

Hebatnya,  mereka tidak melulu mengandalkan pemberian pemerintah untuk memajukan roda organisasinya.  Tetapi,  melalui kesadaran masing-masing dan  mereka mengerti apa yang harus dilakukan setelah sukses  menjadi seorang atlet handal dan berprestasi.


Baca Juga :
- NPCI Jabar Gelar Kejurda
- Atlet hingga Pejabat Rasakan Pijatan Saiful


Apabila  pendapatan bonus dari pemerintah  atas jerih payahnya mendapatkan medali emas, perak maupun perunggu di berbagai even mereka sumbangkan bagi organsiasinya, tidaklah berlebihan.

Karena memang, kesadaran mereka terpatri berkat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga  (AD/ART) NPCI itu sendiri  yang sudah disepakati bersama-sama. Jadi, dibuatnya  AD/ART tersebut karena meman bertujuan  untuk menghindari persoalan di kemudian hari mengenai bonus dan konsekuensinya bagi para atlet setelah keberhasilannya.

Dalam AD/ART itu telah diatur dan tertata bahwa  pemberian uang kontribusi dari atlet untuk organisasinya   sebesar 30 persen, masing-masing  15 persen untuk NPCI Pusat, 10 persen untuk NPCI daerah dan 5 persen lagi untuk  NPCI asal atlet yang bersangkutan yakni,  Pengcab Kabupaten dan Kota.

Dan, jika melihat keberhasilan NPCI Indonesia di ajang Asian Para Games 2018 lalu, jelas NPCI Jawa Barat bukan sekedar penyuplai atlet terbanyak, tetapi sudah menjadi daerah terbesar dalam memberikan kontribusi itu untuk pembinaan dan menjalankan organisasi.

Pada Asian Para Games 2018 lalu, NPCI Jawa Barat menyumbangkan 44 persen dari total medali emas yang diraih kontingen Indonesia yakni, 37 keping. Artinya, atlet NPCI Jawa Barat berhasil menyumbangkan 16 medali, 12 perak dan 14 perunggu.

“Jelas, pada  Asian Para Games lalu kontribusi atlet NPCI Jawa Barat yang terbesar untuk organisasi dan saya yakin, semua atlet kita memiliki loyalitas tinggi dan memiliki kesadaran sendiri untuk memegang teguh kepada AD/ART kita, “ kata Sekertaris Umum NPCI Jabar, Supriatna Gumilar di Sekretariat NPCI Jabar, Kamis (25/10).     

Menurut dia, perolehan medali yang diraih atlet NPCI Jabar di ajang Asia Para Games sebanyak itu, menandakan pembinaan atlet di daerah yang satu ini mengalami peningkatan dibandingkan Asian Para Games sebelumnya yang digelar di  Incheon, Korea Selatan 2014 silam yang hanya menyumbangkan lima medali emas.

"Oleh karena itu  rasa bangga kita sebagai pembina NPCI Jabar, semakin lengkap karena dibarengi dengan kesadaran para atlet kita yang siap untuk memberikan kewajibannya terhadap organisasi setelah mereka mendapatkan bonus, “ Supriatna menambahkan.

Supriatna mengakui, bahwa pembinaan atlet di internal NPCI Jabar selama ini dilakukan secara  serius dan berkesinambungan. “Jadi, tidak ada hambatan bagi atlet  kita yang telah sukses  terutama yang baru saja mengikuti Asian Para Games lalu, memberikan kontribusi kepada NPCI baik pusat, Jabar maupun kabupaten/kota, ini akan menjadi sikap terpuji sebagai atlet NPCI,” ujarnya.

Supri-panggilannya, menyadari bahwa roda organisasi yang menaungi para atlet disabilitas tidak  bisa terus mengandalkan anggaran dari pemerintah. Tetapi, akan sangat kuat dan kokoh apabila roda organisasi berjalan dengan tambahan dari sumbangsih para atletnya yang telah  sukses.

“Semuanya kesadaran masing-masing, AD/ART adalah sebagai payungnya, jadi tanpa harus memanggil-manggil lagi,  mereka sudah menyadari apa yang harus dilakukannya atas keberhasilannya itu untuk organisasi yang membinanya selama ini,” tegasnya. *

A
Penulis
Arief N K