BASKET
Duet Maut Tim Basket Pelajar Putri Indonesia: The Ice Lady
14 September 2018 19:03 WIB
berita
Adelaide Callista Wongsohardjo (kiri) dan Faizzatus Shoimah (kanan) / Foto: istimewa
YOGYAKARTA – Perhelatan Asian School Basketball Championship 2018 memang sudah usai. Tim pelajar Thailand, baik itu putra maupun putri, mendominasi kejuaraan tahun ini, berbanding terbalik dengan pencapaian yang diraih Indonesia.

Indonesia harus puas menempati posisi juru kunci, lantaran gagal mencatatkan satu kemenangan pun. Kelam memang melihat pencapaian yang ditorehkan oleh para pebasket muda merah putih di gelaran kedelapan Kejuaraan Basket Pelajar se-Asia. Tapi, setidaknya masa depan basket Indonesia berada di tangan yang tepat.

Sejak pertandingan pertama pada Minggu (9/9) kemarin, terdapat dua pemain tim putri yang mencuri perhatian saya. Dua pemain tersebut adalah Faizzatus Shoimah dan Adelaide Callista Wongsohardjo.


Baca Juga :
- Indonesian Sport Award 2018 sebagai Apresiasi Pahlawan Olahraga
- Kemenpora Gandeng BRI untuk Wujudkan Smart Office



Faizzatus merupakan kapten dari tim putri Indonesia. Menjadi yang tertua di dalam skuat Tjetjep Firmansyah membuatnya memiliki sifat bijaksana dan dewasa. Sedangkan Adelaide dipercaya menjadi motor penggerak permainan tim.

TopSkor.id mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan dua penggawa tim basket pelajar putri Indonesia ini. Pemilik jersey bernomor punggung 11 dan 12 ini memang terlihat kompak saat tampil di atas lapangan.

(Faizzatus Shoimah / Foto: Topskor.id, Muhammad Pratama Supriyadillah)

Faizzatus, atau biasa disapa Ais, merupakan jebolan Development Basketball League (DBL) Jawa Timur. Dirinya juga merupakan pemain andalan di sekolahnya, yakni SMAN 8 Malang. Tapi, ternyata Ais sebelumnya tidak pernah menggeluti olahraga basket.

“Ya dulu itu aku sebenarnya main bulutangkis waktu kecil, dari TK sampai SD. Terus aku berhenti pas SMP,” ucap Ais.

Dan sejak berhenti menggeluti olahraga tepok bulu itulah, Ais mulai mengenal basket.

“Jadi di SMP itu ada demo basket, terus aku tuh liat, kok ini ramai, seru ya? Ya akhirnya di situ aku mulai tertarik,” ungkapnya.

Ais memiliki hobi mendengarkan musik, ya bisa dibilang hobi kalangan remaja putri seusianya. Yang menjadikannya unik, dirinya tidak mendengarkan musik aliran K-Pop, yang memang digandrungi pemudi Indonesia saat ini.

“Hobi sih mendengarkan musik, tapi tidak dengerin musik K-Pop,” ujarnya sambil tertawa.

(Adelaide Callista Wongsohardjo / Foto: Dokumentasi Kemenpora)

Berbeda dengan Ais, Laide, sapaan akrab Adelaide, memiliki latar belakang yang kental dengan basket. Dirinya memang sudah mengenal basket sejak kecil.

“Pertama kenal basket itu dari papa, karena papa itu hobi main basket. SD itu aku diajak papa main,” ungkapnya.

“Pas pertama-tama masih cuma lari-lari aja kalau di lapangan. Terus saat kelas 4 SD itu baru mulai main, karena dipaksa papa,” ucap Lady sembari tertawa.

Selain bermain basket, Laide juga ternyata seorang pemain futsal. Hanya, itu sebatas hobi bermain di sekolah.

“Aku juga main futsal sih mas. Tapi tidak sampai kejuaraan, cuma sebatas hobi aja,” ungkapnya.

Selain Futsal, Laide ternyata seorang gamer. Saat ditanya apa gim yang suka dimainkan, dara kelahiran 16 tahun ini menyebut gim Mobile Legends.

“Suka main gim juga mas. Aku main Mobile Legends. Biasanya sih main sama teman, cuma kalau lagi sendiri ya main sendiri.”

Prestasi duo putri Malang ini tidak main-main loh. Ais merupakan jawara Honda DBL East Java Series 2018, bersama SMAN 8 Malang. Sementara Laide sudah lebih dulu masuk ke dalam skuat Timnas Indonesia untuk Asian Games 2018 kemarin, menjadi pemain termuda di dalam skuat.

Jika merujuk pada sapaan akrab mereka, Ais dan Laide, yang memiliki bunyi sama dengan kata bahasa Inggris ‘Ice’ dan ‘Lady’, dikombinasikan dengan permainan kompak mereka di atas lapangan, saya menjuluki keduanya ‘The Ice Lady’.  Selain kompak, keduanya juga merupakan pemain yang tenang, cocok dengan julukan yang saya berikan.


Baca Juga :
- GEBBER Sepakat Sepeda Nusantara Digelar Periodik
- Trans Media Juarai SMLBT 2018


Saat ini, memang basket Indonesia, baik itu basket putra maupun putri, belum bisa memberikan prestasi besar seperti bulutangkis. Di Asian Games kemarin saja, Indonesia tidak mendulang medali, sama seperti di ajang Asian School Basketball Championship sekarang.

Akan tetapi, basket di Indonesia sedang menuju ke arah yang benar. Jika banyak pemain seperti Ais dan Laide ditempa dengan baik, masa depan basket merah putih, khususnya basket putri, pastinya akan cerah. ***

M
Penulis
Muhammad Pratama Supriyadillah