TOP OPINI FOOTBALL
Game Changer
28 Mei 2018 04:15 WIB
berita
Bagus Priambodo
Final Liga Champions 2018! Gemes juga menyaksikan pertandingan final yang penuh dengan drama. Pertandingan yang menurut saya memiliki dua wajah penting, yaitu Before Salah out dan After Salah out. Persisnya di menit ke-30 saat penyerang Liverpool Mohamed Salah menangis karena tak kuasa menahan sakit di bahu, lalu dia digantikan Adam Lallana. Tepatnya, terpaksa digantikan.

Sejujurnya, Real Madrid memang tim yang lebih matang untuk bermain di babak final Liga Champions. mereka sudah melakukan nyaris tiap tahun dalam beberapa tahun terakhir. Meski begitu, Liverpool mampu mengimbanginya kok. Memang, Salah sedikit terkunci namun Mane dan teman-teman lainnya mampu membombardir gawang Keylor Navas.

Bahkan seorang Trent Arnold yang baru lepas remaja berani menantang Marcelo dengan melakukan sejumlah manuver serangan. Tak banyak tim yang mampu tampil berani melawan Madrid yang serbamewah. Tapi, ini final. Partai puncak. Perkara perbedaan status dikesampingkan terlebih dahulu. Bermain harus lepas, ngotot, dan berusaha ekstramaksimal demi gelar. Terlepas dari siapa pun lawannya.


Baca Juga :
- Lagu Lama
- A Cup of Hope



Kendati demikian, wajah pertandingan sesungguhnya adalah ketika Mohamed Salah harus keluar karena cedera bahu. Di luar insiden itu menjadi tren di dunia Maya, arah angin berubah. Liverpool masih tetap tampil berani, buktinya mereka masih bisa menyusul usai mendapatkan gol konyol. Semangat pasukan The Reds yang kepalang tinggi tampaknya tak mengendurkan upaya meski tak ada lagi Salah di lapangan.

Di sinilah perbedaan itu kemudian muncul. Zinedine Zidane memiliki seorang “Game Changer” bernama Gareth Bale. Ketika Cristiano Ronaldo tak tampil istimewa, Real Madrid masih memiliki pemain yang berpotensi untuk mengubah jalannya pertandingan. Tepatnya, mengarahkan pertandingan ke posisi yang dia mau.

Hanya dalam waktu singkat, pemain asal Wales yang musim ini cukup sering jadi penghangat bangku cadangan merebut panggung di Stadion Olimpinski, Kiev. Statistik Bale di La Liga 2017/18 menunjukkan, dia hanya punya 26 caps. Lalu, 16 di antaranya tidak bermain penuh. Tempat di skuat utama tampaknya bukan lagi permanen milik pemain 28 tahun itu. 

Namun, malam itu Bale mampu menghapus segala statistik negatif itu. Tak penting juga dia baru masuk ke lapangan di menit ke-61 menggantikan Isco. Umpan tak sempurna Marcelo berhasil ia gunakan untuk mencetak gol terindah malam itu. Mungkin salah satu yang terindah dalam sejarah final Liga Champions.

Disitulah perbedaan Real Madrid dan Liverpool. Seorang Game Changer, seorang yang mampu menginspirasi ketika tim menemui kuldesak. The Reds memiliki itu pada sosok Mohamed Salah dan Sadio Mane, tapi di bangku cadangan tak punya banyak pilihan atau bahkan boleh dikatakan tak ada. 

Berbeda dengan Madrid yang mewah. Siapa pun yang duduk di bangku cadangan adalah pemain dengan kemampuan yang mumpuni. Sudah jadi ciri khas sebuah tim superelite, bahwa pemain utama dan pelapis punya kemampuan yang sama tingginya.

Sebelum laga pada Sabtu (26/5), Bale baru mencetak satu gol di sepanjang Liga Champions musim ini. Dia tidak menyelesaikan kompetisi kali ini dengan sempurna karena cedera tapi disinilah kebintangannya teruji. Memang, hanya pemain berstatus bintang saja yang direkrut Madrid, termasuk Bale.

Ketika kesempatan bermain sejak menit pertama tak lagi menjadi jaminan, Bale mampu beradaptasi dengan sangat cepat. Dia mengolah situasi yang ia miliki sehingga tetap tampil fantastis dari bangku cadangan. Seorang Game Changer tidak dilahirkan semata, tapi juga harus diciptakan. Lewat sebuah proses yang dijalankan oleh pelatih. Baik berupa kesempatan bermain yang cukup dan strategi yang jitu.

Mungkin musim depan Liverpool tak sekedar berusaha mempertahankan Mohamed Salah dan Sadio Mane, tapi juga menciptakan seorang Game Changer. Siapa dia? Bisa siapa saja. Sala, Mane, atau Roberto Firmino. Bisa juga pemain di luar trisula mau The Reds itu. Bisa pemain yang sudah ada saat ini atau rekrutan baru di bursa transfer musim panas 2018 yang sudah berlangsung di Liga Primer.

Pencarian Milla
Pekan ini Luis Milla kembali mengumpulkan pasukannya guna melakoni pelatnas. Thailand sudah menunggu untuk menjalani dua laga uji coba. Sang arsitek asal Spanyol memanggil pemain naturalisasi lagi bernama Alberto “Beto” Goncalves, penyerang Sriwijaya itu menjadi nama baru diharapkan akan memberikan nafas segar.

Pemanggilan Beto tak sekadar sebagai usaha untuk mencari solusi di lini depan yang hingga kini terlihat mandul, tapi Milla butuh seorang Game Changer. Tentu saja kita tak akan mendapatkan kata ini keluar dari mulut Milla atau bahkan pengurus PSSI sekalipun. Apalagi, usia Beto yang sudah 37 tahun tentu kurang berpihak pada popularitas sebuah keputusan.


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi


Faktanya atau setidaknya tim nasional U-23 sudah berjalan di jalur yang tepat. Mereka sudah memiliki mental bertanding yang cukup bagus. Gaya permainan juga sudah terlihat.  Permainan bola silang dengan menitik beratkan pada dua sisi luar yang cepat dan pintar. Semua berjalan baik, tapi tim ini butuh seseorang yang mampu mengubah situasi ketika taktik bagus tak cukup. Utamanya saat bertemu dengan tim yang di atas lapangan, permainanannya lebih bagus.

Jatah tiga pemain senior sepertinya tak sekadar diisi oleh pemain yang mampu membimbing anak-anak muda. Namun juga, mendorong mereka mengeluarkan kemampuan terbaik. Bahkan kemampuan yang selama ini belum pernah diperlihatkan. Ya, para pemain memang diperintahkan mengeluarkan daya magis mereka. 
 
Kehadiran para pemain senior terutama di lini depan rasanya tak hanya sekadar jadi pencarian senjata pamungkas. Tapi, harus menjadi pemacu para pemain muda agar mereka mampu menaikkan level permainan berkali-kali lipat. Ini memang perlu lantaran para pemain ini sangat diharapkan oleh ratusan juta rakyat Indonesia. Mereka harus ingin menjadi Game Changer! Karena kini, orang tidak membicarakan Cristiano Ronaldo yang menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champions. Mereka sedang memuja Gareth Bale yang mengubah nasib Real Madrid malam itu.*Bagus Priambodo

n
Penulis
nana sumarna