TOP OPINI FOOTBALL
Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
18 Mei 2018 04:10 WIB
berita
Drs.Supartono, M.Pd.
Pemerintah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1439 pada Kamis (17/5). Dengan ketetapan pemerintah diharapkan semakin menguatkan kebersamaan umat Islam pada khususnya dan umat beragama lain pada umumnya. Terlebih, Indonesia baru saja didera oleh serangan bom teroris. Tentu adanya kesamaan awal bulan Ramadan bisa menguatkan dan memberikan kesejukan dalam beribadah selama bulan suci.

Setali tiga uang, suasana awal Ramadan yang jatuhnya bersamaan, tentu wajib menjadi refleksi bagi segenap pelaku sepak bola nasional. Ramadan harus menjadi momentum kembalinya segala persoalan sepak bola nasional ke garis kebenaran karena kini berapa bagian telah melenceng dari statuta, norma, dan budaya yang ada.

Tahun 2018 yang didambakan oleh publik sepak bola nasional menjadi lumbung prestasi timnas. Tentu, PSSI tidak dapat berdiri dan mengambil keputusan sendiri dalam upaya merengkuh prestasi. Segala kegiatan PSSI untuk kepentingan timnas dan kompetisi tentu bersumber dari sponsor sebagai pemasukan terbesar. Sponsor mau terlibat karena melihat pangsa obyeknya, yaitu publik sepak bola nasional yang menggaransi keuntungan. 


Baca Juga :
- Lagu Lama
- A Cup of Hope



Selain dari sponsor, publik sepak bola nasional, secara langsung juga menjadi sumber pemasukan bagi klub dan PSSI. Sayang, PSSI kurang mendengar saran dan masukan dari publik pencinta sepak bola nasional khususnya menyoal pelatih dan pemain nasional.

Selain itu, sepanjang gelaran Liga 1, 2, dan 3, sudah berapa banyak keputusan Komdis PSSI dan PT LIB yang dianggap janggal. Berat sebelah, memihak, dan tidak adil hingga ada klub yang merasa dianaktirikan dan ada yang dianggap anak emas PSSI.

Di tengah padatnya agenda timnas dan kompetisi domestik, PSSI juga terkesan memaksakan program-program yang lebih mencari keuntungan seperti digulirkannya Piala Indonesia. Saat PSSI kurang memerhatikan sektor pembinaan usia dini dan usia muda, PSSI justru memberikan lampu hijau kepada Kemenpora yang menjadi PSSI baru di Indonesia dengan menggelar kompetisi usia dini dan muda secara nasional. Hasilnya, Asprov, Askab, dan Askot pun mati suri.

Apa salahnya, bila PSSI merangkum semua masukan dan saran dari publik sepak bola nasional tentang persoalan-persoalan sepakbola nasional yang tidak beres. Yakin bila segenap pengurus PSSI mau instrospeksi dan mawas diri, tentu persoalan-persoalan itu dapat disikapi bersama-sama tanpa ada yang merasa dirugikan, merasa dianak tirikan, dan semua akan merasakan keadilan.

Eksploitasi Usia Dini
Saat PSSI dengan gaweannya di level atas dengan produk dan program yang memberikan dampak penghasilan dan keuntungan di Liga 1, 2, dan 3 serta timnas, maka sepak bola akar rumput (usia dini dan muda) juga tidak lepas dari sorotan. Bila kini PSSI telah memulai menggelar kompetisi Piala Suratin di dua level umur (U-13/14 dan U-16/17) di tingkat Asprov (Askot dan Askab), namun sepak bola usia dini tetap menjadi persoalan.

Banyaknya pembina SSB, orangtua, dan publik sepak bola nasional yang mulai merasakan bahwa pembinaan sepak bola usia dini (12 tahun ke bawah), kini sudah diselewengkan dari jalur pembinaan dan pelatihan hingga kompetisi yang benar. Tidak terhitung jumlah festival antar SSB yang diselenggarakan di seantero Indonesia. Dari banyaknya jumlah festival antar SSB yang mempertandingankan kelompok umur di bawah usia 12 tahun, ironisnya diselenggarakan oleh SSB-SSB yang baru tumbuh. Demi memeperkenalkan SSB-nya, maka mereka menyelenggarakan festival. 

Ada juga SSB yang menyelenggarakan festival sebagai perayaan hari ulang tahunnya dan banyak alasan lainnya. Nah, di dalam festival-festival SSB inilah, anak-anak dieksploitasi. Bahkan, bukan hanya festival SSB yang tanpa sadar telah melakukan tindakan eksploitasi anak, kompetisi-kompetisi SSB pun kini telah melakukan hal yang sama. 

Eksploitasi anak adalah pemanfaatan untuk keuntungan sendiri melalui anak di bawah umur. Dengan kata lain anak-anak digunakan sebagai media untuk mencari uang. Bila ditelisik dan diungkap, menjamurnya SSB yang tidak dapat dikendalikan oleh PSSI, pun menjamurnya festival SSB dan kompetisi SSB, kini benar-benar telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan uang saja.

Banyak SSB yang hampir selalu mengikuti setiap event festival SSB. Banyak pula SSB yang sering menyelenggarakan festival SSB. Ada perorangan atau lembaga yang mengadakan kompetisi SSB. Demi menarik minat peserta, maka ada iming-iming hadiah uang.

Pembina, pelatih, hingga orangtua SSB peserta festival/kompetisi pun tidak lagi memandang event tersebut sebagai bagian dari pembinaan dan pelatihan, namun semua karena uang. Lalu, karena terpancing hadiah uang, maka demi mencapai target juara, cabut pemain dari sana-sini, pinjam ke SSB lain pun dilakukan, bahkan dengan membayar. 

Inilah fenomena yang kini terjadi dan sudah beberapa kali saya dapatkan masukan. Bahkan ada publik pecinta sepak bola nasional yang langsung menghubungi saya. Mengungkapkan kekecewaan atas pembinaan sepak bola usia dini yang kini jelas-jelas mengeksploitasi anak demi mencari untung.

Harusnya, PSSI menyadari akan hal ini. Sepak bola anak usia dini kini benar-benar dijadikan lahan mencari uang oleh pelaku sepak bola dewasa. Bahkan terang-terangan hadir akademi-akademi sepak bola asing yang ujungnya juga mencari uang. Siapa yang harus menyaring dan membuat pembinaan sepak bola usia dini kembali ke jalur yang benar? Sementara, PSSI pun sibuk mengurus program yang menguntungkan di level atas.

Atas maraknya eksploitasi anak usia dini di sepak bola nasional, di bulan penuh berkah ini, sewajibnya ada kesadaran dari seluruh pembina SSB. Khususnya para pemilik SSB, pelatih SSB, dan orangtua siswa, dapat memilah mana kegiatan pelatihan dan pembinaan di SSB yang tidak harus menggunakan anak sebagai tempat mencari keuntungan. Sertakanlah anak-anaknya dalam festival atau kompetisi SSB yang tidak menjanjikan hadiah uang.


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer


Ayo PSSI, refleksi diri, bersikaplah bijak, lihat diri sendiri, tangkap masukan, dan saran publik sepak bola nasional menjadi pijakan perbaikan. Lihat sepak bola usia dini, sangat butuh perhatian. Jangan biarkan anak-anak usia dini dieksploitasi demi uang.*


Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

n
Penulis
nana sumarna