TOP FOTO
Analisis Taktik: Setop Ketergantungan terhadap Delvecchio
05 April 2018 12:27 WIB
berita
Fabio Delvecchio berduel dengan bek Cibinong Raya, Adam Andriansyah. (Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)
SEPAK bola merupakan permainan kolektif. Sah saja jika ada satu, dua, atau tiga pemain yang menonjol di lapangan.

Banyak contoh pemain hebat, duet maut, hingga tridente yang mencuat dalam sejarah bal-balan. Teranyar, Cristiano Ronaldo yang jadi mesin gol Real Madrid saat mengecundangi Juventus pada perempat final Liga Champions (3/4).

Jika Anda besar pada era 1990-an, tentu tidak asing dengan duet maut Alessandro Del Piero-Filippo Inzaghi. Tarik satu dekade ke belakangnya, ada trisula mematikan dari AC Milan, yaitu Frank Rijkaard-Ruud Gullit-Marco van Basten.


Baca Juga :
- Bandung Barat Kalah WO
- Bionsa Ditahan Young Guns



Seperempat abad berselang, tepatnya pada Liga NIVEA MEN TopSkor (LNMT) U-16 2018, bermunculan aksi individu nan memesona dari pemain muda berbakat di Tanah Air. Salah satunya, diperlihatkan Fabio Delvecchio bersama Sekolah Sepak Bola (SSB) Buperta.

Winger kelahiran 19 Agustus ini merupakan motor serangan Buperta. Sebagai sayap, Delvecchio juga rajin membobol gawang lawan.

Itu jadi nilai lebih dari pemain yang namanya terinspirasi dari legenda AS Roma, Marco Delvecchio ini. Hanya, seperti kata pepatah.

Air bisa membuat perahu berlayar, tapi juga dapat mengaramkannya. Itu berlaku bagi Delvecchio yang keberadaannya justru jadi bumerang bagi Buperta.

Sisi positifnya, pemain yang akrab disapa Delvi ini memiliki kecepatan luar biasa. Kelincahannya mengingatkan pada Javier Saviola ketika era kejayaan.

Empat gol sudah dilesakkan Delvecchio sepanjang LNMT U-16 2018 ini. Itu belum termasuk assist dan kontribusi maksimal bagi Buperta yang membuatnya diganjar dua Man of the Match (MotM).

Di sisi lain, jika Delvecchio dalam kondisi bukan terbaik, ini jadi masalah bagi timnya. Sebab, Buperta kerap mengandalkannya sebagai pengacak-acak barisan belakang lawan.

Imbasnya, alur serangan tim asal Cibubur, Jakarta Timur ini jadi mandek. Fakta itu bisa terlihat saat Buperta menelan dua kekalahan beruntun pada babak Championship Grup A dari ASAD 313 Jaya Perkasa dan Cibinong Raya (Ciray) masing-masing dengan skor 0-1.

Delvecchio memang masih memperlihatkan skill menawan terhadap barisan belakang dua tim tersebut. Sayangnya, dalam situasi krusial, justru penggemar Chelsea ini sulit mengerahkan kemampuan terbaik.

Pasalnya, setiap mendapat bola, selalu ada satu atau dua pemain lawan yang menjaga dengan ketat. Sekali dua kali, Delvecchio mampu melepaskan diri untuk berlari ke arah gawang.

Namun, tidak dengan 60 menit. Ini yang harus jadi catatan bagi pasukan Nana Hernawan jika ingin terhindar dari degradasi.

Bisa dipahami mengingat Buperta sudah menelan dua kekalahan dari empat laga. Alias, hanya ada dua pertandingan sisa yang harus disapu bersih.

Jika gagal, mereka bersiap untuk tampil di Divisi Utama LNMT pada 2019 mendatang. Tentu, itu bukan salah Delvecchio, Nana, para pemain, atau jajaran pelatih.

Sebab, bagaimana pun, sepak bola merupakan permainan kolektif. Menang bersama tim dan sebaliknya ketika kalah.

Mengandalkan bakat Delvecchio memang sah saja. Hanya, itu harus dibarengi dengan pergerakan rekan-rekannya dan strategi di lapangan.

Maklum, dalam dua laga yang berujung kekalahan itu, Delvecchio diplot sebagai striker. Kendati memiliki naluri di depan gawang, itu bukan posisi idealnya sebagai sayap yang cenderung bergerak di sisi lapangan.

Apalagi, jika dipaksakan sebagai bomber, keberadaan Delvecchio bisa mereduksi striker lain. Misalnya, Deva Aryarendra, Henggar Penggalih, M. Raihan, atau Fabian Zulfan.

Kendati, kekurangan Buperta minus pada target-man. Pasalnya, barisan striker itu cenderung sebagai sprinter, alias bukan ujung tombak.

Solusinya, jika selama ini Nana mengusung pola 4-3-3 atau 4-4-2, bisa mengubahnya jadi 4-2-3-1. Henggar yang memiliki postur mumpuni bisa diplot sebagai ujung tombak.

Sementara, Delvecchio dikembalikan ke posisi semula sebagai sayap kiri berdampingan dengan Deva, dan Zulfan atau Raihan (kanan). Tentu, jangan lupakan sektor belakang.

Sebab, penggawa Buperta kerap asyik mengintimidasi lawan tanpa sadar pertahanan sendiri mendapat serangan balik. Sebelumnya, itu terjadi ketika menyerah 2-4 dari ASAD pada pekan keenam Grup Top (11/3).

Akhir kata, kurangi ketergantungan terhadap Delvecchio. Dan, berikan porsi yang sesuai kepada pemain lainnya. Termasuk, Delvecchio yang lebih alami sebagai sayap ketimbang juru gedor.***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 

***

 


Baca Juga :
- Saint Prima Kokoh di Puncak Klasemen Liga Topskor Zona Bandung
- Saswco Redam Galuh Putra


 

 

news
Penulis
Choirul Huda
Juventini pemilik akun twitter dan instagram @roelly87