TOP FEATURE FOOTBALL
Sepak Bola Dalam Pusaran Pragmatisme
14 Maret 2018 16:10 WIB
berita
Foto/BR
Kaum penikmat sepak bola, baik yang datang langsung ke stadion atau lewat layar kaca pasti sama-sama ingin disuguhkan permainan yang menarik. Hal ini wajar, mengingat manusia kodratnya memang senang dan mencintai sesuatu yang bagus dan indah.

Kewajaran ini juga berlaku di dalam dunia sepak bola, dimana keindahan permainan jadi ajang hiburan. Sepak bola di titik ini bertujuan memberi kegembiraan sepanjang pertandingan, bukan sekadar saat raih kemenangan. Sepak bola dengan gaya ini sering kita kenal dengan nama Total Football atau Juego de Posicion.

Ada Johan Cruyff dari Belanda dan Cesar Luis Menotti dari Argentina serta Ariggo Sacchi dari Italia yang akrab dengan sepak bola agresif dan penganut sistem permainan yang estetik.


Baca Juga :
- Pogba Enggan Bicarakan Rumor Masa Depannya di Manchester United
- Manchester United Siap Bujuk Willian untuk Tinggalkan Chelsea



Mereka mungkin dapat dikatakan sebagai representasi sepak bola yang baik. Para jago taktik tersebut sangat idealis dalam berprinsip dan amat mementingkan kualitas permainan untuk menghibur banyak orang. Tujuan mereka besar nan elegan, menang dengan gaya. Jika ditelisik dari langgam permainannya, sepak bola macam begini sangat identik dengan akar filosofis idealisme.

Tapi sepak bola bukan hanya milik orang-orang idealis, dalam olahraga ini juga banyak bersemayam kaum pragmatis yang lebih mementingkan manfaat atau hasil. Disebut pragmatis, karena pendekatan sepak bolanya memang secara substansi dekat dengan aliran filsafat pragmatisme yang dibangun oleh William James dan John Dewey. 

Dalambukunya yang terbit di tahun 1907 berjudul  Pragmatism: A New Name for Some Old Ways of Thinking, James menulis "Seorang pragmatis akan berpaling dari proses berpikir yang panjang dan prinsip-prinsip yang kaku kepada hal-hal yang konkret dan realistis untuk melakukan tindakan yang paling bermanfaat."

Aliran filsafat ini menekankan pentingnya realisme dan menerapkan langsung gagasan. Dalam aliran ini tidak ada yang benar atau salah, yang ada adalah berhasil atau tidak. Secara implisit dapat dikaitkan ke dalam sepak bola, tidak penting bermain indah atau buruk, yang paling utama hanyalah menang atau kalah.

Terdapat beberapa nama yang dapat dijadikan representasi dari aliran ini. Kita bisa sebut Herbert Chapman dengan formasi bertahan khasnya yang sangat mengandalkan serangan balik.

Formasi itu dikenal dengan sebutan W-M yang populer di sepanjang tahun 1920-an dan 1930-an yang memberikan hasil baik saat di adaptasikan ke Huddersfield Town maupun Arsenal kala itu. Terdapat juga Carlos Bilardo pelatih Argentina di tahun 1980-an yang mengantarkan negaranya tersebut menjuarai Piala Dunia 1986.

Bilardo adalah seorang yang apatis terhadap persepsi publik tentang pendekatan taktik sepak bolanya. Dia adalah tipikal manusia yang realis dan penuh semangat, serta dipengaruhi kuat oleh teori anti-futbol. Lalu ada juga Helenio Herrera dari Italia yang di tahun 1960-an memperkenalkan karya agungnya, catenaccio. Sebuah taktik yang secara kejam melumpuhkan semangat bermain lawan dan menimbulkan efek frustasi yang besar. Pendekatan pragmatis dalam sepak bola ini sering dihujat, bahkan dianggap mewakili citra tentang sepak bola yang buruk. 

Di era sepak bola modern yang sangat mengandalkan teknik dan kecepatan, sisa-sisa purbakala taktik pragmatis masih terus terwariskan. Jose Mourinho mungkin jadi pewaris terbaik yang bisa disebutkan. Sistem permainan yang diusungnya begitu pragmatis, bahkan terkadang ultra defensif sampai-sampai dijuluki taktik parkir bus.

Pendekatan taktik The Special One ini jelas tidak bisa disalahkan. Setidaknya untuk dua hal, pertama rentetan gelar yang sudah diraihnya menjadi bukti keberhasilan taktiknya. Kedua, ada asumsi logis bahwa sepak bola itu dimainkan untuk menang bagaimana pun caranya. Karena pada akhirnya ukuran dari seberapa hebat dan berkualitasnya sebuah tim dilihat dari posisinya di klasemen.

Di sisi lain ada hal yang patut di ingat dalam aliran ini dan mungkin terlupakan oleh Mou dini hari tadi, bahwa pragmatisme berjalan bergantung kepada keadaan. Mengingat pragmatisme bukanlah apa-apa tanpa ditopang logika. Dini hari tadi Mou terlihat kurang cermat dalam mengukur kapasitas lawan. Mou seperti masih terjebak dengan kemenangan atas The Reds dan lupa, bahwa Sevilla bukanlah Liverpool dan Klopp bukanlah Montella. Secara materi pemain Liverpool memang dapat dikatakan satu level dengan Manchester United. Dan Klopp memang memiliki gaya taktik yang terkenal ofensif dengan sebutan 'gegen pressingnya', maka pendekatan pragmatis Mou jadi anti tesis yang tepat. Lain halnya dengan Sevilla yang jelas berbeda. Kualitas tim asal Andalusia tersebut masih dibawah Setan Merah dan pendekatan taktik ofensif Montella tidaklah se-agresif Klopp.

Mantan pelatih Rossonerri itu jelas tipikal pelatih yang mencintai keseimbangan permainan dan tak ingin frontal menyerang. Di titik inilah taktik Mou terjebak dan mengalami keraguan untuk memilih bermain bertahan dengan serangan balik, atau bermain menyerang dengan resiko diserang balik. Dalam situasi permainan seperti itulah pragmatisme Mou berada dalam kegamangan. Padahal keragu-raguan tak boleh muncul berbarengan dalam sikap pragmatis.


Baca Juga :
- Ronaldo Hattrick, Mourinho Bersimpati dengan Kesalahan De Gea
- Usain Bolt Kesal Man-United Racikan Mourinho Membosankan

Kekalahan Mourinho oleh Montella dini hari tadi tidak hanya membuat Manchester United tersingkir oleh Sevilla di babak 16 besar Liga Champions, tapi juga memperpanjang diskursus tentang dikotomi yang tak pernah usai, yaitu pragmatisme dan idealisme dalam sepak bola. Keduanya punya argumentasi filosofis yang sama-sama penting dan akan selalu memiliki tempat khusus di hati para penikmat sepak bola. Jika idealisme akan selalu dipuja, maka efektifitas pragmatisme adalah penggoda yang mampu mengiming-imingi hasil berupa trofi juara.***Surya Chandra Jayaatmaja

???

news
Penulis
Surya Chandra .J
Milanisti. Pecinta Sepak Bola dari berbagai segi.