TOP OPINI FOOTBALL
Milan Harus Tetap Move On
12 Maret 2018 04:10 WIB
berita
Rizky Maheng
AC MILAN kalah dari Arsenal sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan mengingat The Gunners bukan klub kacangan Eropa tetapi kalah dari Arsenal menjadi mengejutkan bagi I Rossoneri. Tim asuhan Gennaro Gattuso memasuki laga leg pertama babak 16 besar Liga Europa dengan catatan 13 laga tak terkalahkan dan 8 clean sheet. Sebaliknya Arsenal datang ke San Siro membawa rentetan empat kekalahan beruntun.

AC Milan yang bermain di kandang sendiri sejatinya diunggulkan menang atas Arsenal. Tren performa terkini Arsenal dan Milan yang bagai langit dan bumi jadi rujukan utamanya. Apalagi pada laga kandang terakhir Milan atas Arsenal di ajang Liga Champions berakhir dengan kemenangan telak 4-0. Namun fakta tersaji berbeda, Arsenal menang 2-0.

Apa yang salah dengan Milan? Gattuso menyatakan pasukannya tidak bermain seperti biasanya. Menurutnya, Milan  tidak bermain sebagai sebuah tim sehingga tiap kali Arsenal menyerang, memberikan ancaman bagi timnya. Dia juga mengakui bahwa timnya bermain buruk. Atas analisis Gattuso itu, Milan tidak memiliki keberanian untuk mendominasi dalam penguasaan bola dan menutup aliran bola. “Milan terlalu gelisah,” kata kapten Milan, Leonardo Bonucci.


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer



Gattuso dan Bonucci benar. Milan bermain buruk karena terlalu gelisah. Penguasaan bola Milan yang dicatat situs resmi UEFA mencapai 55 persen tidak berarti banyak meski berhasil melesakkan 16 upaya melakukan tekanan, hanya satu yang mengarah ke gawang. Sebaliknya Arsenal bermain sangat efektif dengan empat tembakan mengarah ke sasaran dari delapan percobaan. Nah, dua dari empat yang mengarah ke gawang itulah yang berbuah gol kemenangan tim asuhan Arsene Wenger.

Ya, dua gol yang menjadi akumulasi buruknya penampilan Milan pada laga tersebut. Meski membaik pada babak kedua, segalanya sudah terlambat karena Milan juga tidak mampu memanfaatkan peluang menjadi gol. Kini Milanisti patut berharap agar kinerja Bonucci dan kawan-kawan pada babak kedua menjadi starting point performa Milan pada leg kedua di kandang Arsenal nanti. Hanya dengan itu Milan punya peluang untuk membalikkan keadaan.

Memang sulit untuk dipahami mengapa Milan, tim yang sebelumnya tidak terkalahkan dalam 13 laga malah gagal meledak. Dalam sepak bola boleh jadi hal seperti ini biasa. Menurut saya, Milan tidak boleh terpengaruh dengan kekalahan di laga pertama. Jika kejutan seperti di laga itu biasa terjadi dalam sepak bola, membuat keajaiban juga bisa di pertandingan kedua nanti.

Milan bisa belajar dari Juventus yang sukses di kandang Tottenham. Gattuso bisa belajar dari Massimiliano Allegri. Milan juga bisa melihat dari kondisi Lazio yang hanya imbang 2-2 dalam laga kandang lawan Dynamo Kiev. Langkah Lazio di laga kedua tentu lebih mudah tapi inilah tantangan yang memang harus dihadapi Milan.

Milan harus mempertahankan atmosfer move on yang telah berhasil mereka bangun. Jangan terpengaruh oleh kekalahan dari Arsenal. Tentu saja, laga kedua akan menjadi jauh lebih sulit karena mereka harus menang tanpa gol kemasukan pula, minimal 2-0 di Stadion Emirates jika masih ingin lolos ke perempat final.

Kemenangan atas AS Roma dalam laga tandang di Seri A pada 25 Februari lalu, bisa menjadi refleksi pasukan Gattuso untuk mencoba membuat keajaiban tersebut. Hasil yang mereka raih saat lawan Genoa dini hari tadi, menang atau kalah, juga sejatinya tidak akan memengaruhi target mereka untuk membuat keajaiban di Emirates.*


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

 

Rizky Maheng
Pemerhati Sepak Bola Internasional

n
Penulis
nana sumarna