TOP OPINI FOOTBALL
Ide Zidane Masih Oke untuk Membahagiakan Madrid
06 Maret 2018 04:18 WIB
berita
Fhilip Makati Sitepu
Pada Januari lalu, Zinedine Zidane mengakui bahwa jabatannya sebagai pelatih Real Madrid berada dalam pertaruhan. Sungguh sebuah ironi nasib yang sulit dicerna, namun nyata adanya. Bila enggan dipecat, Zidane wajib membawa “Los Blancos” menyingkirkan Paris Saint Germain (PSG) di Liga Champions. 

Ada banyak faktor, yang menjadikan status Zizou bak “hero to zero” di Madrid. Misalnya, selisih poin yang mencolok di La Liga (15 angka) dengan rival abadi, FC Barcelona. Peringkat yang tercecer ke urutan ketiga, juga tersingkir dari Piala Raja oleh tim semenjana, Leganes. 

Ditambah beberapa laga lain, yang gagal dimenangkan di ajang La Liga 2017/18. Semua faktor tersebut menyeret kelangsungan nasib pekerjaan Zidane yang semula pantang dipertanyakan, berubah penuh keraguan. Walau performa Cristiano Ronaldo cs jauh membaik sepanjang Februari, pertaruhan terhadap jabatan Zizou tetap hidup! 


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer



Zidane sendiri terlihat legawa menerima perlakuan dari direksi Madrid. Pria berusia 45 tahun itu bahkan rela dikambing hitamkan terkait kegagalan “El Real” menguntit Barcelona. Tapi di balik kepasrahannya, Zidane sesungguhnya siap menjawab dengan tepat terkait mandat menyingkirkan PSG.

Terbukti, setidaknya dalam pertemuan pertama (15/2) lalu, Madrid menumbangkan PSG 3-1. Zidane bukan hanya membuktikan dengan baik, melainkan ide-idenya pun masih oke untuk membahagiakan Madrid. Hasil laga di Santiago Bernabeu tersebut seakan merepresentasikan cara kerja sentuhan ajaib Zizou. Lebih dulu tertekan oleh situasi yang terjadi, tapi pada akhirnya memutarbalikan keadaan! PSG boleh saja unggul duluan, namun Zidane tahu bagaimana caranya membuat kubu Madrid tersenyum. 

Mungkin ada di antara Anda, yang menilai sukses Madrid menumbangkan PSG itu dinaungi keberuntungan dapat hadiah penalti. Tapi, saya justru ingin memberi jempol kepada Zidane, yang tetap fokus dan sanggup memotivasi pasukannya.

Contoh, saat Zidane memercayai Nacho terus bermain meski pada awal laga kerap melemahkan pertahanan. “Kami harus memberi tekanan dan terus tampil seperti itu walau dalam keadaan tertinggal,” ujar Zizou. Ide lain yang lebih brilian dari pelatih asal Prancis tersebut muncul pada 10 menit terakhir.

Zidane berani menarik keluar gelandang jangkarnya, Casemiro, untuk memasukkan Lucas Vazquez yang notabene penyerang sayap. Mengorbankan pemain yang fungsinya melapisi area pertahanan serta menyeimbangkan lapangan tengah sejatinya amat berisiko. Terlebih karena lawannya adalah PSG, yang memiliki sejumlah gelandang serang kreatif serta striker tajam.

Zidane bergeming, ia bahkan turut memasukkan Marco Asensio (pengganti Isco Alarcon) dan sebelumnya Gareth Bale (pengganti Karim Benzema). Zizou sadar mencoba kreasi serangan dari area tengah rumit dilakukan, lantaran menumpuknya pemain di sana. Ia lalu memerintahkan tim agar menggencarkan serangan dari sayap kiri dan kanan.

Bayangan Kegelapan
Membicarakan strategi melatih seorang Zidane memang tak akan bisa jauh dari ide-ide brilian. Sama seperti kala ia masih aktif bermain, Zizou tetaplah maestro dengan banyak kreasi menawan. Maka jangan heran, karier kepelatihannya (meski tergolong baru) juga tidak bisa dijauhkan dari gelontoran trofi.

Punya materi skuat berisikan para pesepak bola hebat nan berkelas memang sebuah keuntungan dalam mengejar prestasi. Tapi, tanpa kemampuan melatih yang mumpuni dan sepadan, materi dahsyat tim bisa berakhir sia-sia. Itu sebabnya manajer seperti Josep Guardiola, Antonio Conte, dan Zidane, punya kelas berbeda.   
 
 Mereka adalah ahli-ahli strategi yang menjadikan klub asuhannya tim pemenang, bahkan menang dengan gaya. Kredit khusus untuk Zidane karena permintaan belanjanya, dalam menjadikan Madrid sebagai tim pemenang, tak segila Guardiola atau Conte.  
    
Fakta tersebut seharusnya dicermati baik-baik presiden Madrid Florentino Perez ataupun penguasa “El Real” lainnya. Mengganti Zidane dengan sosok lain, sama artinya mengulang proses pembentukan tim pemenang dari awal lagi. Ketika keadaan seperti itu muncul, peluang Madrid bakal meraih sukses atau gagal total jadi sama tak menentunya.

Padahal, di bawah kendali Zidane, setiap tahun Madrid mendapatkan gelar. Kalaupun jalan sukses terasa lebih sulit tahun ini, tak serta merta situasi itu terjadi seterusnya. Kubu Madrid malah harus cemas, bila “era kegelapan” pascakepergian Vicente del Bosque (2003) berpotensi terulang.

Kala itu, Madrid sampai mengganti tujuh pelatih dalam empat tahun untuk bisa kembali memenangkan sesuatu. Dan, yang dimenangkan pun tidaklah banyak apalagi simultan, hanya La Liga, kemudian tertatih mencari lagi. Perjuangan selama satu dekade lebih dilalui Madrid untuk berprestasi secara kontinyu, itu didapat bersama Zidane!

Ketimbang bersusah payah selama 13 tahun, bukankah setahun menderita kali ini tak ada apa-apanya? Terlepas dari nantinya benar-benar sukses atau tidak mengeliminasi PSG, posisi Zidane patut dilindungi. Saya juga melihat bagaimana para penggawa Madrid masih amat mendukung dan mempercayai Zizou.

Tengok saja, sebuah momen ketika Marcelo berselebrasi merayakan gol pamungkas Madrid ke gawang PSG. Ia berlari penuh semringah, menunjuk dan memeluk erat Zidane. Lihat pula betapa nurutnya Asensio, Vazquez, Bale dan Isco menjalani rotasi, serta tetap memberikan kemampuan terbaik begitu Zidane memanggil. 

Ketimbang memecat, lebih baik petinggi Madrid “memaksa” Zidane untuk mau belanja pemain. Bukan sekadar pesepakbola muda potensial tapi belum terasah, melainkan pemain berkelas sungguhan! Zidane tak perlu menjadi anomali, dengan menjayakan Madrid bermodalkan bujet belanja minimum. 

Tidak perlu juga harus gila-gilaan, rasanya cukup dengan tambahan dua muka baru. Seorang bek tengah untuk mengurangi jatah Sergio Ramos dan satu gelandang box-to-box. Ramos memang sosok krusial dan kerap jadi jimat keberuntungan, namun sudah saatnya Madrid membatasi sang kapten.

Bukan bermaksud meremehkan, hanya saja sejak awal dipasang sebagai bek tengah Ramos terkenal kerap kecolongan. Zidane perlu berani berpaling kepada Raphael Varane yang telah siap jadi suksesor Ramos. Sebagai tandem defender asal Prancis ini, dibutuhkan sosok lebih segar serta mampu tampil berkualitas di setiap laga.

 Jawabannya tentu bukanlah sosok Nacho, Theo Hernandez, atau Jesus Vallejo. Kalau demikian adanya, Zidane terpaksa terus mengeksploitasi tenaga Ramos yang sesungguhnya lebih pas dijadikan pemeran pendukung ketimbang aktor utama. Lalu kebutuhan urgent lainnya ada dalam peran gelandang box-to-box.


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

Toni Kroos memang cerdik bergerak menyusuri lini antar lini, mengalirkan bola serta membangun serangan. Yang kurang dari gelandang asal Jerman itu adalah kemampuan merebut bola atau mematahkan serangan lawan. Zidane butuh tambahan gelandang seperti Casemiro, agar Madrid tidak terus timpang ke depan. Karena juga, tidak semua lawan bisa dikalahkan dengan cara seperti ketika menghadapi PSG!*


Fhilip Makati Sitepu  
Pengamat Sepak Bola Internasional 

n
Penulis
nana sumarna