TOP OPINI FOOTBALL
Duri Dalam Daging yang Tak Melukai AC Milan
02 Maret 2018 04:10 WIB
berita
Fhilip Makati Sitepu
Partai laga kedua semifinal Piala Italia 2017/18 di Olimpico memasuki pengujung babak extra time. Seketika, pada menit ke-116, satu kesempatan emas hasil serangan balik kilat didapat AC Milan. Sayang, asa gol di depan mata harus lenyap seketika pula gara-gara Nikola Kalinic.

Sepakan ngawur Kalinic memaksa Milan berjuang sampai ke babak adu penalti, demi mengamankan tiket final. Rasanya bukan cuma saya, mayoritas Milanisti seantero jagad pasti juga menghujat penyerang asal Kroasia itu. Untuk kesekian kali sepanjang musim ini, Kalinic gagal menceploskan bola yang notabene menjadi tugas utamanya. 

Dari rentetan kegagalan Kalinic, kejadian di markas Lazio itu yang paling bikin keki. Bukan perkara mudah, bagi suatu tim apalagi suporternya, untuk terus tegar menunggu kemenangan melalui drama tos-tosan. Beruntunglah “I Rossoneri” akhirnya lolos, kalau tidak, entah perlu berapa lama meratapi ulah Kalinic tersebut. 


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer



Sejak diboyong dari Fiorentina (Agustus 2017), performa Kalinic memang rutin dicemooh fan Milan. Tiga bulan jelang musim 2017/18 berakhir, striker berusia 30 tahun itu masih mencari ketajamannya. Padahal, selama dua musim berseragam “I Viola”, Kalinic sanggup mencetak 33 gol di semua ajang. 

Kini, koleksi Kalinic (empat gol) tertinggal jauh dari Patrick Cutrone (14). Padahal, Cutrone tergolong baru saja dipromosikan dari level primavera ke skuat utama. Maka jangan heran, bila Milanisti menganggap pembelian Kalinic merupakan transfer sia-sia belaka!

Kian tidak habis pikir, baik Vincenzo Montella (eks pelatih Milan) ataupun Gennaro Gattuso, sangat memercayai Kalinic. Berkali-kali membuang peluang, nyatanya jatah bermain tetap datang kepada Kalinic. Seperti dalam duel versus Lazio di laga kedua semifinal Piala Italia tersebut.

Begitu melihat Kalinic bersiap masuk lapangan (menggantikan Cutrone), saya sontak merasakan ada “duri dalam daging”. Bagaimana bisa Gattuso lagi dan lagi menggunakan dia guna memecah kebuntuan Milan? Bukankah lebih baik, memainkan Andre Silva yang impresif dan lagi produktivitasnya mengungguli Kalinic. 

Mungkin, Gattuso mengharapkan kejadian seperti akhir pekan lalu terulang (melawan AS Roma). Kejadian yang mana Kalinic muncul dengan peran berbeda, yakni sebagai pemberi assist menentukan. Tapi, bayangan tentang berbagai penyelesaian akhir minor Kalinic sebelumnya terlanjur membuat pikiran serta hati berkecamuk.

Seolah tertular oleh Kalinic, sosok duo Riccardo malah ikut-ikutan menjelma bak duri dalam daging. Yang saya maksudkan itu adalah Ricardo Montolivo dan Ricardo Rodriguez. Performa minor keduanya dalam adu penalti, turut melipat-gandakan rasa cemas skuat dan tifosi Milan. 

Kalau sejak awal tahu sepakan Rodriguez sebutut itu, lebih baik tak menunjuknya sebagai algojo penalti. Ini malah dijadikan eksekutor pertama, yang seharusnya pantang gagal supaya mengangkat kepercayaan diri rekan setim. Terlihat jelas, mental pemenang Rodriguez belum bisa diharapkan Milan muncul dalam situasi genting. 

Dengan kegagalan tersebut, berarti Rodriguez belum mencetak gol via penalti lagi dalam dua kesempatan beruntun. Tapi ada yang lebih menjengkelkan dari bek sayap asal Swiss ini, yaitu Montolivo. Salah seorang sosok penggawa senior, yang justru nyaris menjegal langkah “I Rossoneri” sendiri. 

Montolivo tak kuasa menetralkan tekanan suporter tuan rumah, sehingga terburu-buru bertindak. Pengalaman berkarier 15 tahun seakan belum mengajarkan Montolivo untuk memberi perbedaan di atas lapangan. Beruntung ada Gianluigi Donnarumma, yang dengan dua penyelamatannya menutupi keteledoran duo Riccardo!

Mantan Juventino!
Pada akhirnya, setelah 120 menit lebih, Milan sukses menaklukan segala ujian yang menerpa. Ada ujian dari kubu lawan, berupa serangan bertubi-tubi Ciro Immobile cs dan sorakan Laziale. Ditambah ujian dari pemainnya sendiri, namun semua duri dalam daging tersebut tidaklah melukai Milan. 

Kira-kira dua bulan lagi, 9 Mei, kubu “I Rossoneri” harus kembali ke Olimpico untuk menantang Juventus. Di ajang serupa, venue dan lawan yang juga sama seperti dua tahun silam. Namun kali ini, pasukan Milan ingin revans!
“Saya masih belum bisa melupakan final 2016 (Piala Italia). Kali ini kami akan membalas,” ujar Donnarumma. “Kami makin kompak, berkat Gattuso kami menjadi unit yang solid serta sulit dikalahkan.”

Milan memang sah-sah saja berhasrat mengambil harapan juara mereka yang dahulu terenggut. Kebetulan, hal seperti itu pernah dua kali terjadi sepanjang sejarah perjalanan “I Rossoneri”. Masih ingat ketika Milan membuat perhitungan pada Liverpool FC di final Liga Champions 2007 (pembalasan terhadap final 2005).

Atau, tatkala Milan melakukan revans kepada Boca Juniors di ajang Piala Dunia Klub 2007. Itu menjadi balasan setimpal untuk final ajang serupa pada 2003, yang juga digelar di Yokohama, Jepang. Tahun ini, Gattuso beserta anak-anak didiknya giliran Juve.

Menariknya, Milan bakal dipimpin eks Juventino untuk berjibaku dalam final Piala Italia 2018. Sosok tersebut siapa lagi kalau bukan Leonardo Bonucci, kapten sekaligus benteng pertahanan andalan Milan! Perlahan tapi pasti, kontribusi bek berusia 30 tahun itu kian krusial nan tak tergantikan.

Bonucci mencontohkan agar tidak pernah menyerah dengan momen sulit. Dia selalu membakar semangat juang Giacomo Bonaventura dan kawan-kawan serta memberi rasa aman di lini belakang. Berhubung lawan di final nanti adalah Juve, banyak rahasia kelemahan musuh yang dapat dibocorkan Bonucci.

Dengan waktu yang cukup lama, bukankah Juve berkesempatan mematangkan strategi-strategi baru? Lagipula, pelatih maupun skuat “I Bianconeri” pastinya juga tahu letak kekurangan Bonucci. Jadi, masing-masing pihak memegang kunci rahasia. Pertanyaannya, kunci rahasia milik siapa yang nanti lebih cocok untuk mengeksploitasi kelemahan lawannya?

Sebagai seorang fan, saya jelas lebih menjagokan Milan yang punya kunci rahasia dalam diri Bonucci. Tidak banyaknya perubahan di tubuh Juve, membuat informasi dari Bonucci bakal sangat berharga. Sebaliknya, gaya bermain Bonucci sekarang berbeda dibandingkan ketika masih berseragam hitam-putih “La Vecchia Signora”. 

Dulu, Bonucci mengawal baris pertahanan yang terdiri dari tiga pemain sekarang dengan empat bek. Kini, dia tidak sendirian lagi menghalau serangan lawan di pusat kotak penalti. Bonucci mendapat dukungan dari Alessio Romagnoli atau Matteo Musacchio – kemungkinan berduet dengan Romagnoli lebih difavoritkan.

Jadi sekadar menaklukan Bonucci, belumlah menjamin kubu Juve lantas bisa membobol pertahanan Milan. Karena, di samping Bonucci terdapat tembok tangguh lain, kemudian di belakangnya ada Donnarumma. Pastinya saya tak sabar menantikan berlangsungnya laga ini.


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

Tidak ada tontonan duel lebih seru, selain yang melibatkan satu kubu dengan hasrat untuk membalas! Milan punya gairah itu menyusul kegagalan pada final dua tahun lalu. Ditambah sosok Bonucci, duri dalam daging bagi Juve yang justru siap menambah derita “Si Nyonya Besar”.*


Fhilip Makati Sitepu  
Pengamat Sepak Bola Internasional 

 

n
Penulis
nana sumarna