TOP OPINI FOOTBALL
Edukasi dan Persuasi, Cara Jitu Redam Suporter Anakis
22 Februari 2018 04:15 WIB
berita
Drs. Supartono, M.Pd.
AKIBAT peristiwa yang menimpa Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan taman di sekitarnya, Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games Indonesia (Inasgoc) 2018, Erick Thohir, di Jakarta (19/2/18) dengan tegas akan mengambil sikap. Untuk mencegah aksi serupa yakni perusakan yang dilakukan sejumlah suporter sepak bola terhadap fasilitas SUGBK dan lingkungan GBK, pada saat Asian Games mendatang, hanya akan ada satu pintu yang dibuka untuk akses menuju venue dengan tiga lapis zona pengamanan.

Saat pelaksanaan, pintu yang dibuka hanya di dekat Jalan Jenderal Sudirman, dekat parkir timur. Di zona tiga, dekat parkir timur,  setiap penonton yang datang ke venue Asian Games akan dicek terlebih dulu barang bawaannya. Penonton dicek,  tidak boleh membawa tas. Berikutnya di zone dua, dicek kembali, memastikan wajib memiliki tiket.Tidak ada lagi membeli tiket di venue, tiket semua sudah dibeli secara daring (online).  Pintu terakhir adalah zona satu.  Semua penonton akan dicek lagi, tempat duduknya di mana dan lain sebagainya.

Upaya ini sejatinya sangat penting bagi masyarakat Indonesia khususnya di Jakarta dan di Palembang, sejak dini mengetahui bahwa untuk menyaksikan langsung pertandingan olahraga Asian Games, kontrol, penjagaan, dan pengamanan terhadap suporter yang akan menonton sangat ketat. Bahkan, panitia juga akan membuat area di dekat venue pesta olahraga terbesar di Asia tersebut akan bersih dari kendaraan.


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer



Hanya kendaraan Presiden dan Wakil Presiden serta Presiden Olympic Council of Asia (OCA) atau Dewan Olimpiade Asia yang boleh melintas. Tidak ada mobil masuk  area venue pada saat seremonial opening dan closing. Semua naik bus, jadi sangat ketat, termasuk penonton VVIP.

Sikap tegas yang akan diterapkan oleh Inasgoc menyoal penonton yang akan masuk ke setiap venue Asian Games,bisa jadi cara paling tepat dalam rangka mengamankan aset dan fasilitas stadion, khususnya  SUGBK dan seluruh lingkungan GBK. Serta seluruh lingkungan Komplek Olahraga Jakabaring, Jakabaring Sport City (JST) Palembang.

Kontraproduktif?
Namun, rencana Inasgoc, sepertinya kurang sejalan dengan program revolusi mental  yang diserukan oleh Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Dengan adanya program Revolus Mental, optimisme memperbaiki mental bangsa menggelora. Pertanyaannya, cara-cara ketat yang akan diterapkan oleh Inasgoc kepada penonton yang akan hadir di semua venue Asian Games, apakah justru akan membuat penonton Indonesia, terlebih sebagai tuan rumah akan menjadi tertarik hadir di pertandingan olahraga Asian Games? 

Atau sebaliknya, membuat penonton malas untuk hadir karena ketatnya pengamanan yang akan berakibat lelahnya fisik dan pikiran demi sekadar menonton pertandingan olahraga. Cara masuknya saja sudah menguras tenaga, belum lagi harus menyiapkan fisik karena pintu masuk GBK hanya akan ada satu pintu. Tidak terbayang juga, bagaiamana parkir kendaraan, sistem lalulintas masuk area GBK. Intinya, demi menonton dan membela pemain timnas Indonesia berlaga di Asian Games, kini tidak akan mudah.
 
Padahal, penonton atau suporter olahraga, adalah satu di antara aset yang mendatangkan income bagi panitia. Susah dan repotnya masuk stadion demi menonton pertandingan sepok bola dan lainnya, justru akan menjadi persoalan tersendiri bagi penonton yang ingin datang dengan tujuan untuk hiburan. Lalu untuk apa menonton sepa kbola di stadion atau olahraga lainnya, bila cara masuknya saja sudah menjadi persoalan?

Olahraga salah satu bidang yang dapat menjadi mesin utama pembangunan mentalitas generasi muda. Membangun generasi muda melalui bidang olahraga bukanlah semata bicara kebugaran fisik dan pencapaian prestasi melainkan juga mental tangguh bela negara. Olahraga prestasi mengajarkan tentang kedisiplinan hidup, sportivitas, taat aturan, pantang menyerah, berjiwa kompetitif, bahkan semangat bekerja sama. Olahraga pula yang mampu menggelorakan nasionalisme masif.

Bila cara-cara ketat memerlakukan penonton diterapkan tanpa ada upaya lain, justru malah akan menimbulkan masalah baru, seperti rasa malas hadir ke stadion, dan akan membuat stadion sepi penonton. Maka siapa yang akan dirugikan? Sementara harapan lahirnya mentalitas suporter yang cerdas dan santun menjadi penonton dengan sikap yang benar justru akan jauh dari harapan.

Sentuh di Hati
Membuat penonton, khususnya suporter sepak bola Indonesia yang cerdas dan santun di dalam dan di luar stadion, harus dengan cara-cara persuasif dan edukatif. Bukan dengan pengetatan sistem apalagi ancaman! Mungkin, lirik lagu ciptaan Ahmad Dani dapat dijadikan analogi, dalam persoalan suporter yang belum cerdas dan masih belum sopan hingga berbuat anarkis.

Ahmad Dani memberikan tips, bahwa untuk menaklukkan seorang wanita yang dicintainya, cara yang paling tepat adalah dengan menyentuh hatinya. “Sentuhlah dia tepat di hatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan setulus cinta, buat hatinya terbang melayang. Sentuh hatinya dengan sangat hati-hati bila ingin rebut hatinya, karena bagian itu sungguh sangat bisa buat perempuan dimabuk kepayang, dimabuk ...”

Sesuai lirik lagu tersebut, bila menyoal suporter yang anarkis disentuh hatinya dengan cara dan pendidikan yang tepat, yakin, hati suporter Indonesia akan mabuk kepayang dalam persoalan menjadi suporter yang santun dan benar. Dengan bekal pendidikan dan pemahaman teori-teori menjadi suporter sepak bola atau olahraga lain dengan benar yang menancap di pikiran dan hatinya, akan lebih bermakna.

Setidaknya dibanding dengan cara-cara yang menekan, ancaman, pengetatan dan sikap lainnya. Semua itu justru jauh dari tindakan persuasif yang membangun mental suporter agar bersikap santun dan menjadi penonton yang benar karena memahami tata cara dan ilmunya.

Mengapa lirik lagu Ahmad Dhani tersebut ada dalam komposisi refrain lagu berjudul Rahasia Perempuan? Karena lirik tersebut menjadi tujuan utama, dari pesan yang ingin disampaikan Ahmad Dhani kepada pendengar lagunya, maka diletakkan dalam komposisi refrain, yaitu komposisi yang diaminkan/dinyanyikan berulang-ulang.

Apa artinya bila dikaitkan dengan soal suporter? Bila edukasi suporter dilakukan berulang dan menyeluruh kepada suporter sepak bola Indonesia, akan lebih menyentuh dan lebih menghasilkan mental suporter yang berjiwa taat aturan, dispilin, sportif, dan berbudi perkerti luhur, hingga akhirnya dapat menjadi suporter olahraga khususnya sepak bola dengan benar.

Perlu diingat oleh kita semua, penyelenggaraan Asian Games hanya akan berlangsung di dua kota, Jakarta dan palembang,  sementara di Indonesia tersebar stadion-stadion khususnya untuk pertandingan sepak bola Liga 1, 2, Liga 3 dan seterusnya. Tidak mungkin seluruh panitia penyelenggara pertandingan sepak bola dapat menyelenggarakan pengamanan ketat seperti yang kini direncanakan Inasgoc.

Bila suporter terlebih dahulu diarahkan dan diedukasi bagaimana tata cara menjadi penonton sepak bola yang benar, tidak perlu dilakukan model pengamanan suporter dari pihak lain (panitia/polisi/tentara), karena suporter telah terdidik. Dengan demikian, adanya program edukasi suporter sepak bola Indonesia, maka SUGBK yang menjadi stadion dengan status bangunan bersejarah dan menjadi cagar budaya Indonesia, akan senantiasa terjaga dan dilindungi oleh suporter.

Begitu juga seluruh stadion yang tersebar di seluruh Indonesia, akan aman dari sikap bengal dan anarkis suporter, karena suporter telah terdidik bukan hanya saat peristiwa Asian Games, namun di seluruh peristiwa olahraga di stadion-stadion seantero Indonesia.


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

Apakah pesan dari Inasgoc untuk masyarakat Indonesia yang akan menonton laga-laga timnas di Asian Games menyoal ketatnya sistem masuk stadion bagi penonton yang akan diterapkan, menjadi pesan yang produktif atau malah membuat stadion sepi? Lalu bagaimana pengamanan penonton untuk laga-laga kandang Persija dalam event Piala AFC dan Liga Indonesia yang rencannya ber-homebase di SUGBK sebelum gelaran Asian Games, sedang di Final Piala Presiden saja anarkisme masih terjadi.*


Drs. Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepak Bola Nasional

n
Penulis
nana sumarna