TOP OPINI FOOTBALL
Final Piala Presiden: Momentum Cerdasnya Suporter Indonesia
15 Februari 2018 04:21 WIB
berita
Drs.Supartono, M.Pd.
Laga pemungkas, partai final Piala Presiden edisi ketiga akan tersaji pada Sabtu, 17 Februari 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta. Presiden Joko Widodo memastikan dirinya akan hadir. Sejauh ini, laga-laga di ajang Piala Presiden berlangsung lancar, aman, dan terkendali. Bukti lain dari suksesnya Piala Presiden 2018 adalah animo suporter yang memadati stadion saat tim kesayangannya berlaga berimbas pada rating tinggi bagi televisi yang memiliki hak siar.
 
Selain itu, Piala Presiden ternyata juga menjadi berkah bagi pedagang asongan. Ini membuktikan bahwa Piala Presiden bukan hanya menjadi hiburan bagi rakyat, namun juga tempat mengais rezeki rakyat kecil. Inilah cermin bahwa sepak bola nasional telah menjadi industri. Bagaimana kesiapan SUGBK menyambut hajatan ketiga sejak diresmikan pemakaiannya oleh Presiden pada tanggal 14 Januari 2018 sebelum partai uji coba timnas Indonesia meladeni timnas Islandia?

Menghadapi partai final Piala Presiden, pihak pengelola SUGBK, tentu saja tidak mau terjadi peristiwa ulangan adanya sikap-sikap suporter saat menonton pertandingan dengan tidak sopan dan tidak etis. Jangan sampai ada lagi perusakan kursi di tribune penonton. Perlu kiranya pihak SUGBK mengantisipasi situasi ini.

Secara historis, melihat perjalanan dan sejarah fasilitas stadion-stadion di Indonesia termasuk SUGBK, suporter Indonesia sudah terbiasa menonton dan hadir di tribune penonton yang hanya terdiri dari beton. Sebelum SUGBK direnovasi, bahkan kecuali tribune VIP, seluruh area tribun penonton terdiri dari jajaran tempat duduk dari kayu yang memanjang. Kini, kendati seluruh tribune penonton di SUGBK sudah berubah wujud dengan hadirnya single seat, ternyata budaya suporter menonton dengan posisi berdiri di atas kursi masih ada.


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer



Tragedi Heysel
Sejatinya, sejarah perilaku penonton yang tidak etis memerlakukan tempat duduk penonton bukan hanya di Indonesia. Dahulu, suporter klub Inggris tidak jauh berbeda dengan suporter di Indonesia saat ini.

Dulu, suporter Inggris dikenal bengal dan brutal. Hingga puncaknya terjadi kerusuhan yang dilakukan suporter Liverpool saat melawan Juventus saat final Liga Champions di Belgia pada 29 Mei 1985. Dikenal dengan nama Tragedi Heysel yang mengakibatkan 39 orang harus kehilangan nyawa. Tak hanya itu, sepak bola Eropa mengalami dampak yang luar biasa.

Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) tak mau hal ini terulang lagi. Hukuman yang tegas bagi Liverpool pun dijatuhkan. Liverpool tak boleh lagi main di Eropa selama lima tahun. Bahkan uniknya, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga ikut menghukum semua klub Inggris. Bukan hanya Liverpool tapi semua klub tidak boleh main di luar Inggris selama lima Tahun. Siapa yang membuat semua klub Inggris dihukum? Suporterlah pemicunya, tapi yang kena getah adalah klub sekaligus seluruh stakeholder sepak bola Inggris.

Untuk mengubah budaya suporter yang bengal dan brutal di dalam stadion, FA pun meluncurkan terobosan gila dengan menghilangkan pagar pembatas penonton dan lapangan. Lalu, mengganti tiket berdiri dengan tiket single seat. Meskipun cara ini awalnya ditentang, namun dengan tidak adanya pagar pembatas, menjadikan penonton sadar dan dewasa sendiri. Penghapusan tiket berdiri yang murah juga menjadi cara terampuh untuk dapat mengidentifikasi suporter yang bengal dan brutal.

Pembelian tiket single seat secara daring wajib mencantumkan identitas pembeli. Hal ini menjamin pihak panitia pelaksana dapat cepat mengidentifikasi suporter yang bersikap tidak etis di dalam stadion, siapa pelaku kerusuhan, dan sebagainya. Bila terjadi kerusuhan di dalam stadion, petugas keamaan dapat mengidentifikasi area mana yang menjadi sumber atau pemicu kerusuhan, lalu dapat mengidentifikasi penonton dari data pembelian tiketnya.

Di Indonesia, cara pembelian tiket pesawat dan kereta api secara daring dengan mencantumkan identitas pembeli telah jadi budaya yang baik Dulu naik kereta tak ubahnya menonton sepak bola di tribune tanpa tempat duduk. Berdesakan dan pedagang asongan di dalam kereta hilir mudik dengan bebas. Naik kereta kelas bisnis pun sangat tidak nyaman. Kini, jangankan kereta kelas eksekutif, kelas ekonomi pun sudah sangat nyaman dan fasilitas kereta semua sudah ber-AC. Apa sebabnya? Karena, semua penumpang kereta kini terdeteksi sejak mulai awal membeli tiket baik secara daring maupun yang datang ke stasiun.

Di laga Grup A, International Champions Cup 2014 antara Manchester United dan Real Madrid yang memecahkan rekor penonton terbanyak pertandingan sepak bola di Amerika Serikat yang berlangsung di Stadion Michigan pada 2 Agustus 2014, tercatat sebanyak 109.318 penonton. Kendati jumlah penonton sangat banyak, suasananya tetap sejuk, aman, nyaman, dan sangat indah bila situasi suporter diabadikan dalam benutk foto atau video. Bayangkan, sejumlah 109.318 pasang mata duduk tertib, penuh sopan santun di tempat duduknya masing-masing.

Momentum SUGBK
Dari berbagai contoh yang dipaparkan di atas dan bertepatan dengan momen final Piala Presiden 2018, seharusnya bisa dijadikan sebagai momen spesial. Momen lahirnya  suporter cerdas dan penuh etika di stadion kebanggaan Indonesia, SUGBK. Dengan memperlakukan tempat duduk penonton dengan benar, turut menjaga, dan melidungi SUGBK sebagai milik sendiri.

Semoga akan ada panduan khusus dari SUGBK atau panitia tentang bagaimana suporter bersikap di dalam SUGBK sebelum laga berlangsung. Ini adalah momentum yang sangat tepat, sekaligus sebagai test event, sebelum seluruh komplek GBK dihadiri kontestan Asean Games 2018. Panduan dapat berbentuk demo seperti yang dilakukan oleh awak kabin pesawat melakukan demo keselamatan kepada penumpang. Demo oleh pramugari tidak pernah menggurui dan menyinggung perasaan penumpang. Tidak pernah menjadi persoalan, meski setiap demo, seolah seluruh penumpang pesawat dianggap penumpang yang bodoh dan belum memahami prosedur keselamatan, dan selalu wajib dilakukan.

Untuk seluruh suporter yang akan hadir menyaksikan langsung Piala Presiden 2018, juga harus menyiapkan diri dengan perencanaan personal yang baik. Pada akhirnya, jadilah suporter yang baik dan benar di dalam SUGBK. Sukses final Piala Presiden 2018, terjaga SUGBK, cerdaslah suporter Indonesia. Amin.***


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

 

Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

n
Penulis
nana sumarna