KICK OFF
Bisa Menentukan Nasib Zidane
14 Februari 2018 04:00 WIB
berita
KALAU saja laga Real Madrid vs Paris Saint Germain (PSG) hanya melihat rapor kedua pelatih, tentu Zinedine Zidane pemenangnya. Tapi, duel yang digelar Rabu (14/2) atau Kamis dini hari WIB ini tidak hanya sekadar soal pencapaian Zidane atau Unai Emery. Keduanya hanya berperan dalam soal strategi, memotivasi, dan tentu kejelian dalam memilih pemain. Untuk aspek tersebut, peran keduanya sangat penting. Namun, setelah kick-off sejak detik pertama hingga menit ke-90+, yang akan menentukan adalah masing-masing 11 pemain di lapangan.

Zidane memang akan tampil dalam laga ini dengan membawa atmosfer mampu bangkit dari situasi sulit. Akhirnya, pelatih asal Prancis ini menghadapi laga lawan PSG dengan kondisi yang positif. Dalam empat laga terakhir La Liga, Madrid tidak terkalahkan, dengan tiga di antaranya menang. Dari tiga kemenangan itu pula terlihat produktivitas Los Merengues sudah pulih dengan total menorehkan 18 gol, termasuk lima gol ke gawang Real Sociedad, Sabtu (10/2) lalu.

Lebih spesifik lagi, dalam laga itu, Cristiano Ronaldo menorehkan hattrick. Intinya, untuk sementara, Zidane berhasil mengeluarkan timnya dari krisis. Tentu ini sangat berharga sebagai modal menghadapi Les Parisiens. Harus diakui bahwa PSG saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan Madrid. PSG telah mengalahkan Madrid dalam hal jumlah gol di penyisihan grup Liga Champions. Sebelumnya, Borussia Dortmund mencatat rekor pada 2016/17 dengan mengumpulkan 21 gol.


Baca Juga :
- Krusial bagi Conte dan Spalletti
- Tidak Cukup dengan Liga Europa



Emery telah memecahkan rekor itu dengan mencetak 24 gol, dengan 16 gol di antaranya diciptakan Neymar (6 gol), Edinson Cavani (6 gol), dan Mbappe (4 gol). Fakta pula bahwa Emery tahan banting. Meski bukan pelatih dengan gelar seperti Liga Champions, pencapaiannya meraih trofi Liga Europa bersama Sevilla membuktikan dia memiliki pangalaman.

Emery mampu mengatasi tekanan, menghadapi egoisme para barisan pemain bintangnya seperti Neymar atau Cavani. Keduanya sempat menjadi perhatian karena berebut menjadi penembak penalti. Dia pun berani untuk memilih dan mencadangkan pemain. Angel Di Maria contohnya yang kabarnya mulai tergusur dari starter. Dari fakta tersebut, terlihat bahwa Emery memang memperlihatkan pencapaian menanjak bersama PSG. Bukan hanya ketika dirinya melatih PSG melainkan juga di klub sebelumnya. Sejak Zidane resmi sebagai pelatih Madrid pada Januari 2016 lalu dan meraih total delapan gelar dengan Los Merengues, Emery meraih lima trofi.

Saat ini, Zidane telah memainkan 126 laga sedangkan Emery 131 pertandingan sejak melatih PSG pada 4 Januari 2016. Zidane memenangkan 90 pertandingan sedangkan Emery 92 kemenangan. Emery mengalami 19 kekalahan sedangkan ZIdane 13 kekalahan. Kekalahan terbanyak yang dialami Emery tentu ketka dirinya masih melatih Sevilla. Khususnya dalam masa-masa terakhir: 12 laga (tujuh kalah, dua imbang, dan tiga menang).


Baca Juga :
- Morata Cocok untuk Juve
- Peluang Marseille Mengibarkan Prancis

Di ajang Liga Champions, Zidane meraih 17 kemenangan dalam 26 laga sedangkan Emery meraih sembilan kemenangan dari 14 laga. Persaingannya tidak terlalu jauh berbeda. Karena itu, duel Madrid vs PSG juga menjadi pertarungan taktik kedua pelatih ini. Meski demikian, pemenangnya akan ditentukan di lapangan oleh barisan pemainnya. Bagi Zidane, risikonya jauh lebih besar. Isu pemecatan, pergantian pelatih Madrid, sempat mencuat ketika Los Merengues tidak pernah menang dalam tiga laga La Liga secara beruntun lalu terlempar pula dari Piala Raja.

Dengan kondisi hampir tidak mungkin lagi mengejar Barcelona yang memimpin klasemen sementara La Liga, praktis hanya Liga Champions trofi utama satu-satunya yang bisa diraih. Gagal, Madrid di atas kertas tidak bisa lagi meraih gelar utama. Tentu saja, fakta tersebut akan sangat sulit diterima bagi suporter Los Merengues. Karena itu laga pertama 16 besar ini menjadi krusial bagi Madrid dan tentu masa depan Zidane.*Irfan Sudrajat

n
Penulis
nana sumarna