TOP FEATURE OLIMPYC
Subwing Berikan Sensasi Sayap Bawah Laut
13 Februari 2018 04:22 WIB
berita
Subwing - TopSkor/Istimewa
Siapa yang tidak menyukai keindahan bawah laut? sebut saja Taman Laut Raja Ampat, Bunaken, Wakatobi, dan beberapa tempat yang sering disebut surga dalam air itu biasanya menjadi favorit pencinta olahraga menyelam untuk menjamahnya.

Sensasi Subwing menjadi alternatif bagi penikmat alam biota laut sambil meluncur seperti lumba-lumba, melakukan akrobat bawah air sesuai imajinasi, atau hanya bersantai di permukaan dan menikmati perjalanan. 

Subwing benar-benar menemukan kembali cara lain untuk kita mengeksplorasi dan berinteraksi dengan kehidupan laut. Subwing terdiri dari dua sayap hidrodinamika, tergabung di tengah dengan baja dan karet yang dapat diputar, ini memungkinkan mereka untuk berputar independen satu sama lain. 


Baca Juga :
- Berlari sambil Berpikir tapi Naik Podium
- Melawan Arus demi Kesuksesan



Rider bertahan menggunakan grip karet di depan sayap, atau dengan memegang lingkaran karet di bagian belakang. Tali serat Dyneema yang melekat pada permukaan atas dari kedua sayap dan bergabung dengan tali yang diderek oleh speedboat. Untuk kenyamanan rider subwing, kecepatan laju speedboat ada di kisaran 2-4 knot atau setara dengan 3-7 km/jam.

Tidak hanya kenyamanan untuk menikmati alam bawah laut saja yang diberikan sayap yang bergambar hewan-hewan laut ini. Subwing juga punya tantangan bagi mereka yang mencobanya. Pasalnya, dalam olahraga terbang di bawah air ini tidak dipergunakan alat bantu pernapasan seperti layaknya snorkeling atau diving. 


Baca Juga :
- Lempar Parasut, lalu Terjun Mengejarnya
- Si Cantik yang Merasa Bebas saat Meluncur

Biasanya penikmat Subwing hanya memakai kaca mata renang saja dan bahkan ada juga dengan cara menaiki sayap untuk bermanuver. Kepiawaian memainkan sayap menyerupai kupu-kupu itu sangat diperlukan untuk meliuk-liuk ke dalam atau ke atas permukaan untuk mengambil oksigen.

Lahirnya Subwing bermula ketika Simon Sivertsen, 18 tahun, asal Norwegia, melakukan perjalanan berlayar di Laut Mediterania pada musim panas 2010. Saat berlayar melewati pulau-pulau Yunani, pria yang berusia 25 saat ini tercengang dengan kejernihan air. Gagasannya adalah membuat sayap bawah laut yang ditarik di belakang kapal jenis perahu bermotor. Dalam perjalanan itulah Simon akhirnya menyulap bahwa sayap tidak hanya di udara tetapi juga bisa di dalam air.*CR6

n
Penulis
nana sumarna