TOP OPINI FOOTBALL
Anomali dalam Performa Impresif Sterling
08 Februari 2018 04:23 WIB
berita
Fhilip Makati Sitepu  
Dalam sepak bola kerap terdengar istilah peluang “99 persen gol”. Itu merujuk pada suatu momen terbuangnya kesempatan yang sangat mudah untuk mencetak gol. Saking terlalu mudahnya, sulit menerima bila peluang tersebut berujung kegagalan yang ditakar hanya satu persen. 

Walau tidak selalu menyebabkan kekalahan tim, “peluang 99 persen gol” ini mesti dihindari pemain manapun. Sebab, secara otomatis, dampak dari hal tersebut bakal menghadirkan kritik atau sorotan tajam kepada pelakunya. Situasi tidak nyaman seperti itulah yang dirasakan Raheem Sterling, akhir pekan lalu.

Sebuah finishing yang jelek, membuat Sterling dikambinghitamkan publik atas kegagalan Manchester City menaklukan Burnley. Di media sosial “The Citizens” banyak diolok dan panen seruan minor untuk Sterling. Bahkan, ada yang berpendapat kalau Sterling mencuri kemenangan timnya sendiri!


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup



Ya, winger City ini memang paling cocok dijadikan contoh bila membicarakan “peluang 99 persen gol”. Bahkan sejak lama, penulis mendapati Sterling berkali-kali gagal mendorong bola masuk ke “gawang kosong”. Pemain berumur 23 tahun itu seolah tak kuasa, mencetak gol melalui sentuhan yang terlalu mudah. 

Problematika Sterling bukanlah soal faktor teknik. Mempertimbangkan jumlah kejadian yang cukup banyak, ada masalah mentalitas juga turut andil di dalamnya. Penulis ingat betul, aksi nyeleneh di babak kedua dalam final Carling Cup 2016 (versus Liverpool). 

Menerima umpan dari David Silva, Sterling yang mendapati gawang di hadapannya justru menembak ke samping. Padahal, ia berdiri tanpa terkawal dan punya banyak timing serta celah untuk menaklukan kiper Liverpool. Mungkin kala itu, Sterling “tak tega” memperlebar keunggulan City yang bisa saja sekaligus menyudahi perlawanan.  

Gara-gara “peluang 99 persen gol” Sterling ini, “The Citizens” dipaksa bekerja keras hingga adu penalti untuk memenangkan trofi keempat Carling Cup (sekarang bernama Capital One Cup). Sterling mungkin masih merasa berutang budi kepada Liverpool, jadi tidak siap melukai mereka. 

Masih ada sejumlah contoh kasus yang melibatkan Sterling dengan “peluang 99 persen gol”. Kalau penasaran, Anda bisa melihat rekamannya di Youtube berjudul: Farewell Raheem Sterling, We’re Gonna Miss Moment Like This. Terlepas dari itu, saya sempat berpikir kalau bimbingan jenius Josep Guardiola akan “merevolusi” Sterling. Nyatanya adalah kemajuan performa seorang Sterling belum terjadi secara klimaks. Masalah pada penyelesaian akhir yang supermudah masih saja terjadi.

Dalam dua laga beruntun, laga West Bromwich Albion dan Burnley, Sterling mengulangi kesalahannya. Guardiola pun enggan memberikan lagi “ciuman pengampunan” kepada Sterling, seperti saat menghadapi West Brom. Mungkin karena City menang telak dan Sterling menyumbang dua assist di partai tersebut.

Namun, satu penyelesaian akhir bermasalah dalam duel versus Burnley, membuat   Guardiola keki. Dugaan saya, juga gara-gara “peluang 99 persen gol” inilah yang menyebabkan Sterling digantikan. Tanpa menunggu lama, empat menit selepas kejadian tersebut, Pep memasukkan Brahim Diaz. 

Bertanding tanpa David Silva dan Leroy Sane di stadion Turf Moor, Guardiola sesungguhnya mengharapkan Sterling. Apa mau dikata, justru Sterling yang membuang peluang City. Semoga saja kejadian di Burnley tak berbuntut panjang dan hati Pep bisa berdamai dengan Sterling.   

Tampak Janggal!
Hal yang mengherankan, terkait kebiasaan Sterling terlibat dengan “peluang 99 persen gol” adalah soal momentum. Jujur saja, sebelumnya terasa lebih mudah mengampuni Sterling ketika ia membuang-buang peluang. Karena secara keseluruhan, performa penggawa tim nasional Inggris ini memang belumlah stabil.

Performa Sterling masih perlu ditingkatkan,” kata Guardiola setahun lalu. “Dia masih kerap keliru dalam mengerjakan hal-hal yang sederhana, namun demikian Sterling itu berbakat.” Sejak Guardiola melatih City, khususnya musim 2017/18, kualitas penampilan Sterling meningkat drastis. Pesepak bola kelahiran Jamaika tersebut lebih jago dalam “mengobrak-abrik” pertahanan musuh. Terasa sekali, bagaimana Sterling lebih kreatif membangun serangan dan juga lebih produktif. 

Sekadar gambaran, Sterling telah mengumpulkan enam assist di Liga Primer musim ini. Pencapaian tertinggi sejak eks Liverpool ini mendarat ke Etihad (2015). Sterling pun tercatat melesakkan 19 gol, rinciannya 14 gol di Liga Primer, 4 di Liga Champions, dan 1 di FA Cup.

Padahal dalam enam musim sebelumnya, produktivitas Sterling keseluruhan hanya 11 gol per musim. Sterling yang sekarang, dengan masukan dan bimbingan Guardiola, sejatinya menjadi individu berkelas. 

Maka itulah, janggal rasanya melihat pesepak bola yang sedang on fire justru kesulitan menuntaskan peluang mudah. Momentumnya sungguh tidak pas dan tak semestinya terjadi, inilah anomali yang mencederai performa impresif Sterling! Seharusnya, koleksi gol Sterling lebih banyak dari pada Sergio Aguero. 

Kenyataanya, sejauh ini Sterling tertinggal lima gol di belakang Aguero (24) padahal unggul sekitar 250 menit bertanding. Karena dua alasan, saya memprediksi jarak tersebut akan terus melebar. Pertama, Aguero tak perlu berbagi jatah main dengan Gabriel Jesus yang masih cedera, kemudian karena Sterling yang masih suka buang-buang peluang.  

Berebut Perhatian
Untuk laga-laga selanjutnya, Sterling jelas harus bisa mengurangi kesalahan serupa. Bakal lebih bagus, kalau ia benar-benar tidak terjebak lagi dengan “peluang 99 persen gol”. Bukan apa-apa, sebab Guardiola merupakan tipe pelatih yang menuntut kesempurnaan di lapangan.

Hal itu diakui sejumlah penggawa City, seperti Kevin De Bruyne, Ilkay Guendogan, dan Bernardo Silva. Jangan sampai setitik anomali, membuat sisi-sisi positif penampilan Sterling lainnya dilupakan Guardiola. Jangan sampai Pep berpaling dari Sterling dan melirik sosok-sosok lain.

Guardiola sempat mengatakan dirinya memang selalu tertarik bekerja sama dengan para pemain terbaik dunia! Berkat dukungan dana melimpah Pep bisa mendatangkan pemain yang disukainya. Sejauh ini, ada tiga winger milik klub lain yang kabarnya dipantau Guardiola. 

Mereka adalah Riyad Mahrez (Leicester City), Douglas Costa (Juventus), dan Marco Asensio (Real Madrid). Secara teknis, ketiga nama tersebut punya gaya main yang identik dengan Sterling. Satu saja di antara Mahrez, Asensio atau Costa direkrut, persaingan di lini sayap City dijamin kian sengit. 

Kalau situasi itu sampai terjadi, jatah menit bermain pun bakal lebih banyak terbagi. Padahal, kalau Sterling ingin terus berkembang, tampil sesering mungkin menjadi keharusan pada usianya sekarang ini. Namun untuk rutin berada di lapangan, juga perlu memberikan jaminan tinggi sehingga meyakinkan hati Guardiola. 

Bagaimana pun, Sterling belumlah mencapai tingkat kematangan terbaik apalagi menjadi pemain menentukan. Dia masih membutuhkan banyak perhatian dan arahan Guardiola. Tanpa bantuan magis pelatihnya sekarang ini, Sterling hanya bisa terus bermimpi menyamai level De Bruyne, David Silva, atau Aguero.*


Baca Juga :
- Juventus Menangis dan Madrid Tertawa
- Mengelola Industri Kangen

 

Fhilip Makati Sitepu  
Pengamat Sepak Bola Internasional 

n
Penulis
nana sumarna