TOP OPINI FOOTBALL
Piala Presiden: Untung atau Buntung?
06 Februari 2018 04:25 WIB
berita
Bagus Priambodo
SEBUAH gelas terisi air hanya setengahnya saja. Bagaimana kita ingin menyebutnya? Gelas yang sudah terisi setengah atau gelas yang masih kosong setengah? Saya sudah beberapa kali berpindah kantor, dan setiap ada masalah pelik yang didiskusikan maka perumpamaan ini selalu muncul. Menjadi sebuah pertanyaan di antara kami, bagaimana kami harus memilih sudut pandang yang digunakan. Karena, apa pun yang menjadi pilihan, bukan cuma akan menghasilkan jawaban yang berbeda tapi juga memberikan pendekatan berbeda untuk mencapai tujuan. Rasanya, pola pikir bisa diterapkan di semua bidang. Tak hanya melulu soal pekerjaan.

Demikian juga dengan cara kita melihat Piala Presiden 2018. Turnamen yang awalnya digelar sebagai penyelamat roda aktivitas sepak bola di tanah air, kini menjadi sebuah turnamen pramusim bagi setiap klub peserta. Dinamika terus terjadi sejak awal hingga kini yang telah memasuki babak semifinal.  Contohnya, Persipura Jayapura yang memutuskan absen dari ajang ini dengan alasan keterbatasan, baik dari segi dana maupun persiapan. Posisinya kemudian digantikan oleh Kalteng Putra yang berasal dari Liga 2.

Ada juga tim yang merasa ajang ini hanya merusak jadwal persiapan, karena dilangsungkan hanya satu-dua minggu setelah hari pertama latihan mereka. Namun, tak sedikit pula yang bersyukur karena memiliki uji coba kompetitif sebelum berjalannya kompetisi musim mendatang. Pro dan kontra juga jadi hal biasa saat sebuah bahasan mengemuka. Apalagi, di Piala Presiden 2018 yang memang menyedot perhatian publik sepak bola nasional.


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup



Hadiah Mewah
Seorang kawan berseloroh kalau hadiah turnamen ini terlalu besar, sehingga setiap peserta mendadak bermain terlalu serius. Seorang pemain senior juga sempat bercanda dengan wasit dan calon lawannya, supaya bermain santai saja karena ini masih masa pramusim. 

Namun, kawan tadi kemudian juga berucap, “mendingan gini daripada latihan terus tiap hari.” Turnamen ini memang memiliki banyak sudut pandang, jika kita mengambil contoh keberadaan turnamen pramusim Internasional seperti ICC maka sesungguhnya Piala Presiden menjadi ajang bagus bagi klub untuk mempersiapkan diri.

Dari segi teknis. Inilah kesempatan klub untuk menguji arah kebijakan mereka yang akan digunakan di kompetisi sesungguhnya. Seperti Arema FC yang memutuskan untuk menggunakan generasi pemain zaman now, dengan melepas nama-nama besar di generasi 2010 seperti Ahmad Bustomi dan Benny Wahyudi. Meski akhirnya terhenti di babak delapan besar, namun jelas Joko Susilo jadi punya waktu untuk menimbang-nimbang  pasukannya. Uji coba Arema pun dinilai sangat efektif menentukan siapa saja yang sudah pantas masuk skuat reguler.

Sebuah fenomena bagus ditunjukkan beberapa klub yang menurunkan dua tim berbeda, hal ini bisa menjadi solusi bagi pelatih yang ingin memperkuat kedalaman. Piala Presiden secara teknis bisa menelanjangi seluruh tim peserta sekaligus menunjukkan adanya ruang improvisasi. Mungkin di masa mendatang, ajang ini bisa memberikan ruang lebih longgar kepada seluruh peserta. Misalkan dalam konteks seleksi pemain asing, di Piala Presiden bisa saja setiap tim mendaftarkan lebih dari empat pemain namun hanya menurunkan empat saja di setiap pertandingan. 

Pedagang Asongan
Salah satu hal yang paling menarik di setiap pertandingan Piala Presiden adalah data pedagang asongan. Awalnya terkesan pencitraan saja, tapi setiap klub bisa membuat terobosan dari data ini. Mengingat budaya sepak bola kita memang berbeda dengan negara anutan lain seperti Inggris atau Spanyol. Kenapa tidak dilibatkan saja para pedagang tersebut secara utuh. 

Tidak sekadar mengatur keberadaan mereka di sekitar stadion, namun juga menjadikan mereka sebagai atribut stadion. Misalkan, dengan memilih pedagang tertentu dengan sistem yang saling menguntungkan untuk berjualan di antara para penonton. 

Tentu saja mereka harus dibekali dengan atribut tertentu dari panpel sehingga sedap dipandang mata. Dengan pendekatan tertentu, keberadaan pedagang asongan tak sekadar menjadi lips service dari sepak bola yang ramah terhadap ekonomi kerakyatan, tapi bisa menjadi  mesin ekonomi bagi klub itu sendiri.

Umpan Terobosan
Saya memandang Piala Presiden itu ajangnya berbuat salah atau lebih tepatnya ajangnya bereksperimen dari segi teknis maupun nonteknis. Klub bisa menggunakannya untuk menyeleksi pemain asing, mencoba pemain muda, dan tentunya mencoba beragam taktik. Berpekan-pekan menguji itu semua dengan lawan yang nantinya akan mereka hadapi di kompetisi yang sesungguhnya.

Di sisi non teknis, berbagai ide untuk mengembangkan diri bisa dicoba baik dari segi bisnis hingga penyelenggaraan. Tim yang berkesempatan untuk menjadi tuan rumah, bisa mencoba berbagai terobosan agar mereka sukses meraug keuntungan dan sukses menyuguhkan tontonan menarik. 


Baca Juga :
- Juventus Menangis dan Madrid Tertawa
- Mengelola Industri Kangen

Ya, Sepak bola zaman now tak melulu menggelar pertandingan yang lancar dan aman sesuai dengan kitab putih FIFA. Tapi juga, memerhatikan unsur hiburan bagi para penonton yang hadir. Kemasan pertandingan sepak bola sudah tidak bisa berjalan dengan seadanya saja.

Kiranya saya akan memilih setengah gelas kosong untuk melihat ajang Piala Presiden, karena begitu banyak ruang berkreasi yang ditawarkan. Dan, sudah sewajarnya di tahun-tahun mendatang. Penyelenggara tetap membuka ruang kreatif ini agar semua peserta bisa mengembangkan diri, tidak sekadar datang untuk memburu uang hadiah ataupun match fee semata. Setengah kosong atau setengah terisi, itu pilihan Anda.*Bagus Priambodo

n
Penulis
nana sumarna