TOP OPINI FOOTBALL
Magis Sihir Brasil Memperindah Kibasan Sayap Barca
09 Januari 2018 04:15 WIB
berita
Lebih baik terlambat, ketimbang tidak sama sekali! Adagium lawas ini, yang sepanjang enam bulan terakhir, rasanya terus menggoda FC Barcelona. Godaan yang tentu erat kaitannya dengan ambisi melabuhkan Little Magician Brasil: Philippe Coutinho. 
Sudah bukan rahasia bahwa klub asal Katalunya itu amat mendambakan kedatangan Coutinho sejak Agustus silam. Barca memproyeksikan eks penggawa Liverpool tersebut sebagai suksesor Neymar Jr. Tawaran perdana sebesar 72 juta Poundsterling (Rp 1,3 triliun) dilayangkan Barca ke Anfield. 

Upaya itu gagal, serupa dengan dua tawaran Barcelona selanjutnya yang bernilai lebih tinggi. Barcelona tetap ngotot mendapatkan Coutinho, bahkan walau telah merekrut bakat belia Borussia Dortmund, Ousmane Dembele.
 
Di mata para petinggi “Blaugrana”, hanya Coutinho yang saat ini paling pantas menggantikan peran Neymar. Dembele memang punya potensi untuk bersinar, tapi bukan dalam waktu dekat. Kebetulan pula, sepak terjang striker berusia 20 tahun tersebut sempat tersendat lantaran cedera hamstring.

Sementara, bersama Liverpool, Coutinho stabil mempertontonkan aksi-aksi berkelas. Rentetan gol dan assist-nya, memaksa Jurgen Klopp menjadikan Coutinho salah satu tonggak harapan The Reds. Jangan heran, bila sepanjang paruh pertama musim 2017/18, Liverpool berusaha mati-matian mempertahankan Coutinho.


Baca Juga :
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup
- Juventus Menangis dan Madrid Tertawa



Namun apa boleh buat, karena pemain yang bersangkutan kadung terlena oleh minat serius Barcelona. Hingga akhirnya, saga transfer Coutinho terealisasi pada Sabtu (6/1). Barcelona dikabarkan mendapatkan tanda tangannya dengan mahar 142 juta paun (sekitar 2,6 triliun).

Meski melonjak dua kali lipat, Barca tak mau ambil pusing soal banderol selangit Coutinho. Mereka terlihat tidak ambil pusing, apakah kelak perekrutan ini berdampak positif atau malah sia-sia? Setidaknya sejak era millenial, Barcelona beberapa kali kecele akibat transfer mahal pesepak bola yang berujung kegagalan.

Tapi, mari sejenak abaikan kemungkinan buruk tersebut dan meyakini Coutinho merupakan sosok tepat untuk Barca. Mengapa saya berasumsi demikian? Karena Coutinho adalah pesepak bola Brasil dengan kualitas, kreativitas serta skill individual yang mumpuni. 

Para pemain Brasil, terlebih yang posisi bermainnya sebagai penyerang sayap kiri, seakan ditakdirkan untuk berjaya di Barcelona. Bukan hanya berjaya secara individual, melainkan turut menjayakan prestasi Blaugrana. Paling tidak dalam dua dekade terakhir.

Diawali oleh Rivaldo, kemudian Ronaldinho, hingga Neymar. Ketiganya sama-sama pantas disebut sebagai “Penyihir Sepak bola” lantaran penampilan yang memiliki magis. Gaya bermain mereka semua mirip, suka bergerak dan sanggup menjamin dahsyatnya daya serang tim di sayap kiri. 

Rivaldo, Ronaldinho, Neymar, serta kini Coutinho tahu cara melesakkan banyak gol, namun mereka bukanlah striker murni. Keempatnya seperti perpaduan antara finisher dan seorang kreator, tipikal setengah penyerang dan winger. Soal bakat, skill, fantasi bermain, atau apapun aspek positif lainnya, para pesepak bola tersebut tak usah diragukan!  

Matang dan Siap!
Mungkin, kalaupun masih ada keraguan atas Coutinho, lebih terkait soal kesiapannya menjalani karier di Barcelona. Tidak dapat dipungkiri, level kesulitan dan tekanan untuk bersinar bersama “Blaugrana” berbeda ketimbang di Liverpool. Tanpa bermaksud merendahkan, namun saya menganggap Liverpool dewasa ini hanya sebagai klub “batu loncatan”.

Adapun Barcelona merupakan tempat untuk pertaruhan karier bagi setiap pesepak bola, khususnya yang sedang meroket. Mereka wajib meneruskan cerita indah dari klub lama ke Camp Nou. Terkadang tampil sekadar apik saja belum cukup, mesti brilian dan rajin berkontribusi dalam pencapaian tim.

Bakal sulit bagi Coutinho berlama-lama di Barcelona bila gagal menjawab ekspektasi tinggi publik Katalan. Rasanya, mudah saja bagi Coutinho balik ke Anfield walau tidak memukau bersama Barca. Terlepas dari hal itu, saya pribadi menilai Coutinho telah menjalani proses penanjakan karier secara matang.

Saya memang mempertanyakan nilai transfernya yang kelewat mahal, bahkan jauh di atas banderol Cristiano Ronaldo. Namun tak ada pertanyaan, soal kesiapan Coutinho menghadapi petualangan di Barcelona. Jalan yang ditempuh pria 25 tahun tersebut mirip dengan seniornya, Rivaldo dan Ronaldinho.

Setelah mencuri perhatian di kampung halaman, bukan berarti semua menjadi serbamudah nan instan. Rivaldo, Ronaldinho dan Coutinho perlu mencari batu loncatan sebelum mendapat perhatian kubu “Blaugrana”. Rivaldo melakukannya bersama Deportivo La Coruna (1996/97), sedangkan Ronaldinho berjuang di PSG (2001 – 2003).

Praktis, hanya Neymar yang tak mencari batu loncatan di Eropa usai meninggalkan Santos FC. Bagaimana dengan Coutinho? Potensi jebolan akademi Vasco Da Gama ini malahan nyaris mati di Italia, bersama FC Internazionale (2008 – 2012). 
“Dia akan memberi banyak hal. Saya melihat bagaimana Coutinho bermain dalam berbagai peran di Liverpool dan tim nasional Brasil. Dia dapat beroperasi di sisi sayap dan dalam,” kata Valverde.

Saya pribadi menilai peran sebagai penyerang sayap kiri paling sempurna untuk mengeksploitasi kemampuan Coutinho. Memang, sejauh ini Valverde begitu mengandalkan pola 4-4-2. Tapi perlu diingat, skema 4-3-3 atau 4-2-3-1 (yang memakai penyerang sayap dalam penerapannya) berkali-kali membawa Barca memenangkan trofi.

Sudah selayaknya, klub kebanggaan Barcelonistas itu memiliki kembali trisula maut. Pernah ada trio Rivaldo–Patrick Kluivert–Luis Figo yang mengantar Barca mempertahankan juara La Liga (1998/99). Lalu muncul kombinasi Ronaldinho–Samuel Eto’o–Ludovic Giuly, yang menandai kebangkitan hegemoni Barcelona di kancah lokal dan Eropa.

Hingga akhirnya, Luis Enrique (eks pelatih Barca) membentuk trio MSN dan sempat memenangkan lima trofi semusim (2014/15). Sepak terjang fantastis Blaugrana ketika mengandalkan Messi-Luis Suarez–Neymar, sangat mungkin ditiru formulanya oleh Valverde. Jika memang demikian, lahirnya trio MSC tinggal menghitung waktu.

Terkait penerapan taktik 4-4-2 yang dipakai sejauh ini, sebetulnya Valverde tetaplah bisa melibatkan Coutinho. Si “Little Magician” kemungkinan di tempatkan sebagai gelandang sayap. Atau, malah dijadikan gelandang tengah mempertimbangkan pernyataan Valverde sebelumnya.

Hanya, ada risiko besar bila Coutinho diposisikan di sektor lapangan tengah. Dia akan banyak terlibat persinggungan dengan Messi dan ruang gerak Coutinho terancam menjadi minim. Coutinho memang punya kecepatan, kelincahan serta kreativitas luar biasa sehingga ruang sekecil apapun bisa dimaksimalkan. 

Tapi, masih beranikah dia memamerkan semuanya itu bila seorang Messi ada di hadapannya? Biar bagaimanapun, El Messiah masih menjadi otak serangan nomor satu Barcelona. Daripada Coutinho merecoki Messi yang sedang bekerja di lapangan. Bukankah akan lebih bijak, bila si “penyihir kecil” berdiri di sisi sang “juru selamat” itu dan membantunya.***


Baca Juga :
- Mengelola Industri Kangen
- Guardiola : Cintailah Pekerjaanmu!

 

Fhilip Makati Sitepu  
Pengamat Sepak Bola Internasional 

n
Penulis
nana sumarna