TOP FOTO
Galeri Foto Sisi Lain Play-off NIVEA MEN Liga TopSkor
02 Januari 2018 00:03 WIB
berita
Bek Parung SS, M. Jakiyuddin berebut bola dengan gelandang Persira Rajeg, A. Musyaddad, dalam duel di Lapangan Wing 1 Paskhas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (31/1). (Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)
SEPAK bola merupakan permainan tim. Bukan melulu tentang 22 pemain di lapangan. Melainkan juga pelatih, wasit, ofisial, tim medis, dan panitia pelaksana (panpel) pertandingan.

Ibarat anggota tubuh, mereka membentuk satu kesatuan. Ada indera penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap.

Tanpa salah satunya, tentu jalannya suatu pertandingan bakal kurang. Termasuk, pada play-off NIVEA MEN Liga TopSkor (NMLT) U-16 2018 yang memasuki fase krusial.


Baca Juga :
- Babek, Candrabhaga, dan PCM Lengkapi Peserta Divisi Utama
- Tersingkir di Play-off Motivasi Astam untuk Hadapi Divisi 1



Di babak ini, nyaris setiap pertandingan berlangsung keras. Wajar saja mengingat terdapat 20 tim yang mengikuti play-off NMLT U-16 2018.

Sementara, kuota yang tersedia hanya tiga. Tak jarang jika setiap tim ngotot untuk bisa lolos ke NMLT U-16 2018 yang dimulai 27 Januari mendatang.

Tensi panas pun hampir terjadi pada setiap laga. Khususnya, melibatkan pemain di lapangan. Baik itu benturan langsung, tak langsung, atau terkait protes.

“Sebagai wasit, kami tidak hanya memimpin pertandingan saja. Namun juga harus jeli mengamati situasi di sekitar yang dibantu dua hakim garis,” kata C. Suganti, yang kerap memimpin pertandingan di Liga TopSkor.

Menurutnya, kadang korps pengadil harus mengeluarkan kartu kuning atau merah bukan sebagai hukuman. Melainkan pengingat kepada pemain untuk tidak mengulanginya lagi.

Sekaligus, efek jera dalam menghadapi pertandingan berikutnya. Bisa dipahami mengingat peserta play-off NMLT ini masih remaja yang kerap terbawa emosi.

“Sebelum dan sesudah pertandingan kami selalu memberikan arahan kepada setiap pemain. Baik di lapangan atau di bench (cadangan). Bermain keras boleh, namanya juga sepak bola. Namun, tidak kasar,” salah satu panitia NMLT, Deden Kurniawan, menjelaskan.


Baca Juga :
- PCM Genapi 3 Tim yang Lolos ke Divisi Utama
- Jadwal Pamungkas Play-off NMLT U-16 2018, Remci Jaga Asa

Agung Kuncoro Yakti, sesama panitia menambahkan, “Usai wasit meniup peluit panjang, kami mewajibkan kedua kesebelasan untuk saling bersalaman. Kami ingin menekankan sportivitas sejak dini. Agar, jika jadi pemain profesional dalam beberapa tahun mendatang, mereka tetap menjunjung tinggi fair-play.”

Yupz, ada kemungkinan dua atau tiga tahun mendatang, bibit potensial untuk tim nasional (timnas) Indonesia, tercipta sejak play-off NMLT ini.***

news
Penulis
Choirul Huda
Juventini pemilik akun twitter dan instagram @roelly87