news
LIGA ITALIA
Revolusi Milan Belum Terlihat Dampaknya
09 January 2020 12:16 WIB
berita
Trio direksi (ki-ka), Paolo Maldini, Zvonimir Boban dan Frederic Massara, menjadi otak skuat AC Milan.-Topskor.id/istimewa-
MILAN – Transformasi dalam tubuh klub tak selamanya membawa hasil positif. Inilah pelajaran yang diambil AC Milan dalam 30 bulan terakhir. I Rossoneri telah mengeluarkan dana sebesar 467 juta euro untuk mendatangkan pemain, pelatih, sampai mengganti jajaran direksi, namun prestasi tak kunjung berkembang. Mereka adalah raksasa Eropa, tapi tidak lagi berpartisipasi di Liga Champions sejak 2013. Di Seri A pun, sang Setan Merah sulit menembus papan atas.

Kesulitan tidak dimulai di era Elliott Management (Juli 2018) atau Li Yonghong (April 2017). Sinyal krisis pertama kali terasa pada Januari 2012, ketika Silvio Berlusconi meminta Adriano Galliani membatalkan operasi Carlos Tevez. Saat itu, neraca finansial I Rossoneri sudah  mendekati garis merah. Mereka bahkan terpaksa menjual Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva sekaligus, dua pemain terpenting dalam tim.




Baca Juga :
- Ancaman dari Sayap Kiri Milan
- Donnarumma Absen Kontra Genoa




Sejak itu, prestasi Milan terus menukik. Setelah Massimiliano Allegri meninggalkan San Siro pada Januari 2014, tak ada lagi pelatih yang benar-benar mampu membangun skuat kompetitif. Dua eks pemain, Clarence Seedorf dan Filippo Inzaghi, cuma bisa mengantar tim finis di peringkat ke-8 dan ke-10. Sementara Sinisa Mihajlovic yang lebih berpengalaman juga dipecat sebelum musim berakhir. Setidaknya, Miha mewariskan Gianlugi Donnarumma dan Alessio Romagnoli buat masa depan.

Trofi baru kembali hadir di era Vincenzo Montella: Piala Super Italia 2016 dengan mengalahkan Juventus FC. Namun, perjalanan sang pelatih diwarnai ketidakjelasan soal pergantian pemilik klub. Ketika Li Yonghong akhirnya mengambil alih Milan dari Berlusconi, dan menyediakan lebih dari 200 juta euro buat belanja pemain, justru manajemen yang tak kompeten. Para amunisi yang datang tak sesuai dengan kebutuhan tim, gagal mengangkat prestasi di lapangan.


Baca Juga :
- Milan Konfirmasi Cedera Kjaer dan Saelemaekers
- Milan Dikabarkan Sepakat Kontrak Bekas Pelatih Valencia


Montella tak mampu mendapatkan tiket Liga Champions, membuat dirinya digantikan oleh Gennaro Gattuso pada November 2017. Tapi, problemnya masih sama: peralihan kepemilikan klub dari Mister Li ke Elliott, kemudian mercato yang tak memuaskan.  Rhingio sebenarnya berhasil memoles Jesus Suso dan kawan-kawan untuk bermain lebih baik,tapi petinggi klub tak punya banyak waktu buat bersabar. Dirinya didepak bersama Direktur Olahraga Leonardo Araujo, berganti Marco Giampaolo dan trio Paolo Maldini, Zvonimir Boban, Ricky Massara.

Di luar dugaan, Giampaolo cuma bertahan 111 hari, menampilkan Milan terburuk dalam satu dekade terakhir. Stefano Pioli, yang ditunjuk sebagai suksesor, sampai kini juga belum memperlihatkan pengaruh signifikan. I Rossoneri masih inkonsisten, di luar lapangan juga mengalami kerugian 30 persen dari sisi komersial. Mendatangkan Ibra adalah langkah positif, tapi satu pemain tak bisa menyelamatkan seluruh tim. Perlu kerja sama dari seluruh elemen karena perjalanan Milan untuk bangkit masih sangat panjang.* Dari berbagai sumber

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news