news
LIGA CHAMPIONS
Catatkan Rekor 100 Persen Kemenangan, Muenhcen Dibayangi Kutukan
13 December 2019 15:10 WIB
berita
Gelandang serang Bayern Muenchen Thomas Mueller (kedua dari kiri) merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Tottenham bersama rekan-rekannya, Rabu (11/12) lalu./AFP
MUENCHEN – FC Bayern Muenchen mengukir pencapaian impresif di Liga Champions 2019/20. Mereka menjadi satu-satunya tim yang memiliki rapor perfek sepanjang fase grup. Keberhasilan menekuk Tottenham Hotspur FC, 3-1, di Stadion Allianz Arena, Rabu (11/12) malam, membuat Die Bayern mencatatkan 100 persen kemenangan.

Tak hanya itu, Philippe Coutinho dan kawan-kawan juga klub paling produktif. Mereka sukses mencetak 24 gol dalam enam pertandingan di penyisihan grup. Ini menjadi rekor terbaik kedua dalam sejarah Liga Champions. Muenchen berada di bawah Paris Saint Germain FC (PSG) yang membukukan 25 gol selama fase grup 2017/18 lalu.




Baca Juga :
- Inilah Daftar Skuat Barca untuk Laga Melawan Napoli, Braithwaite Dibawa!
- Derby London Chelsea vs Tottenham, Mourinho Tahu Taktik Lampard, tapi Emoh Beberkan




Meski begitu, Die Bayern mampu membuat sejumlah rekor di turnamen antarklub elite Eropa itu musim ini. Selain tim terproduktif, pasukan Hans-Dieter Flick itu juga menjadi klub dengan selisih gol terbaik dan torehan gol tandang tertinggi. Dominasi Muenchen terbilang impresif mengingat mereka memecat pelatih Niko Kovac pada November lalu.

Namun, kini dengan rapor impersif tersebut, pasukan Flick akan menghadapi tantangan lebih berat di fase knock-out. Sebagai juara grup, mereka berpotensi bertemu tim-tim seperti Real Madrid CF, Atletico Madrid, SSC Napoli, atau Chelsea FC di babak 16 besar nanti. Selain itu, Muenchen juga harus bersiap melawan kutukan.


Baca Juga :
- Cheryshev: Valencia Akan Bermain Seperti Singa di Leg Kedua
- Atalanta Taklukkan Valencia, Gasperini Sesalkan Kebobolan Satu Gol


Sepanjang sejarah turnamen, tim yang berhasil mencatatkan 100 persen kemenangan sepanjang penyisihan grup, selalu gagal juara. Hal ini pernah dialami oleh Madrid pada 2014/15 dan 2011/12. Ketika itu, raksasa Spanyol tersebut hanya mampu melangkah hingga semifinal.       

FC Barcelona dan FC Spartak Moscow juga merasakan pil pahit itu. Keduanya mampu menyapu bersih kemenangan di fase grup, tetapi harus tersingkir dari Liga Champions di perempat final, masing-masing pada 2002/03 dan 1995/96. Namun hasil paling mengecewakan jelas didapatkan AC Milan.

Pada 1992/93 silam, Milan yang ketika itu diasuh pelatih legendaris, Fabio Capello harus mengakui keunggulan kuda hitam, Olympique Marseille pada laga final. Franco Baresi dan kawan-kawan kalah tipis, 0-1 dalam pertandingan yang berlangsung di kandang Muenchen kala itu, Olympiastadion.

Fakta tersebut tentu menjadi tantangan bagi skuat Die Bayern. Apalagi mereka juga harus membagi fokus ke Bundesliga. Muenchen tengah mengalami musim yang sulit di ranah lokal. Mereka sekarang masih berada di urutan ketujuh klasemen liga domestik, tertinggal tujuh poin dari sang pemuncak, Borussia Moenchengladbach.

Kemenangan atas Spurs juga membuktikan Muenchen tidak bergantung kepada top scorer mereka, Robert Lewandowski. Tanpa sang striker, mereka tetap punya cara untuk menghujani gawang lawan dengan gol. Dalam laga pamungkas itu, Kingsley Coman, Thomas Mueller, dan Coutinho bergantian mencatatkan namanya di papan skor.

Tak Menyesal

Di sisi lain, pelatih Tottenham Jose Mourinho tidak menyesal mengistirahatkan pemain-pemain andalannya di Allianz Arena, termasuk striker Harry Kane dan gelandang serang Dele Alli. Juru taktik berjulukan Special One itu memang sengaja menyimpan komposisi terbaiknya mengingat Spurs telah mengamankan tiket ke babak 16 besar.

Tottenham membuat gol hiburan lewat aksi brilian winger muda, Ryan Sessegnon. Kendati gagal membalas kekalahan memalukan 2-7 pada leg pertama di London, Mourinho tetap melihat banyak sisi positif dari pertandingan melawan Muenchen. Ia menjadi lebih tahu potensi para pemain muda dan pelapis Spurs.    

“Beberapa pemain baru tampil untuk kali pertama sejak saya melatih tim ini. Dan penting bagi saya mengumpulkan informasi tentang semua pemain,” kata Mourinho. “Saya tidak menyesali keputusan merombak tim, saya pikir fan akan mengerti.”***

Kutukan Tim dengan Rekor 100 Persen Kemenangan
(Di Fase Grup Liga Champions)

Real Madrid - 2014/15
Selisih gol: +14
Pencapaian: Semifinal

Real Madrid – 2011/12
Selisih gol: +17
Pencapaian: Semifinal

Barcelona – 2002/03
Selisih gol: +9
Pencapaian: Perempat final

Spartak Moscow – 1995/96
Selisih gol: +11
Pencapaian: Perempat final

PSG – 1994/95
Selisih gol: +9
Pencapaian: Semifinal

AC Milan – 1992/93
Selisih gol: +10
Pencapaian: Runner-up

  

  

 

loading...
I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news