news
LIGA INGGRIS
Guardiola Tidak Pedulikan Kritik soal Taktik
09 December 2019 13:30 WIB
berita
Pelatih Man. City Josep “Pep” Guardiola (kiri) terlihat memberikan arahan kepada gelandang Bernardo Silva saat melawan Man. United, Sabtu (7/12) lalu.
MANCHESTER – Kegagalan merebut poin dari Manchester United FC (MU) pada Sabtu (7/12) malam lalu, membuat Manchester City FC tertinggal semakin jauh dari puncak klasemen. Kekalahan 1-2 di kandang, Stadion Etihad, itu membuat City masih tertahan di peringkat ketiga klasemen Liga Primer. Tetapi, dengan koleksi 32 poin dari 16 pertandingan, skuat pelatih Josep “Pep” Guardiola itu kini tertinggal hingga 14 poin dari Liverpool FC di peringkat pertama.

Secara matematis, sangat sulit bagi City untuk menutup defisit 14 poin kendati masih ada 22 laga ke depan. Sejarah pun menyebut, sejak era Liga Primer (mulai 1992/93), belum ada klub yang mampu mengangkat trofi pada akhir musim setelah sempat tertinggal hingga 14 poin.




Baca Juga :
- Man-United Tak Sanggup Tebus Bruno Fernandes, Kesepakatan Dianggap Batal
- Valencia Ingin Pulangkan Otamendi




Pep pun mulai bersikap realistis dengan menyebut ambisi untuk mencetak hattrick—tiga kali beruntun—gelar Liga Primer harus sudah dikubur dalam-dalam. Ditambah, fakta juga menunjukkan bila selama berkarier sebagai pelatih Pep tidak pernah tertinggal sejauh ini di awal hingga jelang tengah musim liga.

Melawan MU, pelatih asal Spanyol tersebut tahu benar bila rival sekotanya itu musim ini selalu bermain bagus setiap melawan tim di atas mereka. Pep juga sadar bila Setan Merah kini sangat solid dengan pertahanan yang terorganisasi rapi serta serangan balik yang sangat cepat, terukur, dan efisien.


Baca Juga :
- Man-United Makim Memble, Legendaris Ini Marah, Hilang Kepercayaan pada Solskjaer
- Kiper MU Kecelakaan, Lamborghini Seharga Rp 3,1 Miliar Ringsek


Karenanya, kekalahan dari Setan Merah membuat strategi Guardiola mulai dipertanyakan. Dengan segudang masalah di sektor pertahanan—banyaknya bek andalan cedera dengan pelapis kurang sepadan hingga berujung mengubah posisi natural pemain lain—mengapa Pep tidak “mengorbankan” filosofi gaya menyerang demi memperkokoh pertahanan.

Meskipun pertahanan sedang rapuh, City tetap mempertahankan gaya bermain menekan dengan penguasaan bola tinggi. Pep juga terkesan tidak peduli bila Kevin De Bruyne dan kawan-kawan tidak mampu clean sheet (tak kemasukan) dalam sembilan pertandingan terakhir.

“Saya menyukai cara tim ini bermain. Kami tahu MU memiliki kecepatan dalam diri (Daniel) James, (Anthony) Martial, dan (Marcus) Rashford. Kadang, tidak mungkin kami cepat kembali mengontrol bola saat Anda sudah kehilangan,” ucap mantan pelatih FC Bayern Muenchen dan FC Barcelona itu.

Dengan mulai melupakan peluang merebut gelar di Liga Primer, wajar bila Guardiola dan timnya mengubah target untuk fokus memenangi Liga Champions. Yang menjadi pertanyaan, apa yang akan Guardiola untuk mengembalikan performa timnya bila ia tidak bersedia mengubah strategi dan taktik?

Masalah terbesar City saat ini memang cedera pemain, utamanya bek tengah Aymeric Laporte dan winger Leroy Sane. Di belakang, John Stones, Nicolas Otamendi, dan Rodri sering kesulitan menahan serangan. Sementara, Benjamin Mendy masih mencari bentuk terbaik setelah cedera panjang.

Sejumlah gelandang serang juga terlihat mulai kehilangan sentuhan. Bernardo Silva, David Silva, dan Riyad Mahrez juga tidak konsisten dalam mengkreasi serangan. Hingga kini, Guardiola belum menemukan pemain yang mampu menjadi pembeda di sepertiga akhir serangan seperti yang biasa dilakukan Sane.

“Seperti sudah sering saya bilang, jika musim ini gagal (juara), kami akan mencobanya tahun depan,” kata Guardiola seraya menguatkan asumsi dirinya memang enggan mengubah strategi dan taktik tim.***TRI CAHYO NUGROHO DARI BERBAGAI SUMBER

loading...
T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news
news