news
TOP FEATURE FOOTBALL
Kiper Asal Spanyol Ungkap Masalah Rambut, Cuaca, dan Bahasa Inggris
05 December 2019 15:00 WIB
berita
Kiper Crytal Palace asa Spanyol, Vicente Guaita mengaku kini telah mampu beradaptasi dengan kehidupan di Inggris./Istimewa
ADA dua insiden yang tidak menyenangkan bagi Vicente Guaita kala melakoni debutnya di Liga Primer bersama Crystal Palace FC musim lalu. Pertama, hujan turun sangat deras ketika dia harus menggantikan Wayne Hennessey yang cedera, melawan Leicester City FC di Selhurst Park pada 15 Desember 2018. Insiden kedua melibatkan rambutnya.

Saat itu Guaita belum menguasai bahasa Inggris karena baru tiba dari La Liga, Spanyol, di mana dia menghabiskan seluruh kariernya bersama klub kota lahirnya Valencia CF, lalu Getafe CF. Lucunya, dari dua insiden di atas, masalah rambut yang membuat Guaita menyadari kesenjangan budaya bagi orang-orang yang baru pindah ke negara baru.




Baca Juga :
- Pickford: Pemain Inggris Dibenci
- Tak Betah di Liga Cina, Yannick Carrasco Mendekat ke Tim Gurem Inggris




“Beberapa waktu sebelumnya, saya pergi ke penata rambut, ingin highlight di rambut saya. Saya tak ingin mengubah warna rambut, hanya beberapa larik. Namun, ketika selesai, ternyata mereka mengecat seluruh rambut saya dengan warna platinum!” kata Guaita mengisahkan dalam bahasa Spanyol seraya tertawa lebar.

“Saya lalu memutuskan untuk memperbaikinya dan karena itu saya bicara dengan putra Deano (pelatih kiper Dean Kiely) tentang kemungkinan pilihan warna abu-abu. Namun,  setelah beberapa minggu warnanya memudar jadi saya harus mewarnainya lagi dengan teratur. Sekarang ini warna alami rambut saya,” lanjut Guaita.


Baca Juga :
- Impian Arteta Nyaris Hancur Gara-gara Problem Jantung
- Mantan Striker Liverpool Bertekad Bayar Waktu yang Terbuang akibat Cedera


Namun, dalam aspek lainnya, Guaita seperti tidak memiliki masalah. Dia, istri dan ketiga anaknya telah beradaptasi dengan kehidupan di London Selatan. Bahwa mereka sengaja memilih tinggal di Kawasan Croydon dengan alasan “di atas segalanya, pada tahun pertamanya, dia ingin berada di dekat stadion dan tempat latihan.”

Guaita tak pernah menyangka kehidupan baru di Inggris bahkan lebih mudah dihadapi daripada yang diprediksinya. Tahun pertamanya sebagai pemain The Eagles pun berlalu lebih cepat. Ketiga anaknya bahkan belajar bahasa Inggris dengan cepat dan masing-masing memiliki banyak teman di sekolah mereka.

Bahkan cuaca London yang dingin, hampir setiap hari hujan, dan berangin pun tak jadi problem. “Semua orang mengatakan hal yang sama kepada saya. Bahwa setiap hari suasananya kelabu. Ya, memang seperti itu, tetapi matahari tetap muncul dan suhunya tidak begitu buruk. Memang tidak seperti Spanyol, dan kami baik-baik saja.”

Satu hal pasti, Guaita mengaku bermain dengan gaya yang lebih mirip David De Gea. Ia tak pernah berniat mengubahnya. “Semua orang punya gaya sendiri. Bisa dibilang yang terbaik dari saya adalah bermain dengan tangan rendah, sama untuk David (De Gea), dan ada banyak penjaga dengan gaya berbeda yang tidak kebobolan gol juga,” ucapnya.

Namun Guaita percaya takhayul. Dia punya beberapa rutinitas: jabat tangan yang beda-beda dengan masing-masing rekan setimnya, selalu mengucapkan terima kasih pada tiang gawang ketika berhasil menggagalkan bola masuk ke dalamnya. Atau tanda salib yang dibuatnya di atas rumput depan gawangnya. Katanya, semua itu menenangkannya.

Belajar dari pengalaman tahun pertamanya di Inggris sebagai pemilik jersey No 1 skuat Palace, Guaita menatap musim keduanya dengan penuh percaya diri. Termasuk soal bahasa. “Anda hanya perlu mengambil buku dan belajar setiap hari. Masalahnya adalah berbicara dalam bahasa itu! Lafal beda dengan tulisan. Tapi saya pekerja keras.”*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

loading...
I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news