news
LIGA 1
Cerita soal Gol Janggal, Makanan Indonesia yang Pedas, dan Ingin Melatih Manchester United
05 December 2019 10:07 WIB
berita
Pelatih Bhayangkara FC Paul Munster - TopSkor/Jessica Margaretha
JAKARTA – Semenjak datang pada awal putaran kedua Liga 1 2019,  Paul Munster mengubah Bhayangkara FC menjadi tim yang cukup disegani. Sentuhan pelatih asal Irlandia Utara itu terbukti sejak debutnya. Secara keseluruhan, pria 37 tahun itu mencatatkan 12 laga dan baru mengalami satu kali kekalahan.

Pemegang lisensi UEFA Pro itu mempunyai impian tinggi. Selain ingin membawa The Guardian, julukan Bhayangkara FC bersinar, dirinya juga mempunyai impian melatih tim-tim besar Eropa seperti Manchester United. Bagaimana kisahnay? Berikut wawancara ekslusif TopSkor:




Baca Juga :
- Man-City Lawan MU, Guardiola Lakukan 7 Perubahan, Begini Susunan Pemainnya
- Solskjaer Tidak Takut Dipecat Manchester, Begini Alasannya




Bagaimana Anda melihat kompetisi Indonesia?

Kompetisinya sebenarnya sangat bagus dan banyak pemain bagus. Namun, terkadang ada masalah, seperti gol-gol janggal yang disahkan walau offside atau adanya tendangan pinalti. Hal ini seharusnya dibenahi musim depan. Saya harap aspek penting dalam pertandingan mutlak harus sempurna.


Baca Juga :
- Solskjaer Bikin MU Terpuruk daripada Mourinho dan Pendahulunya, Begini Analisisnya
- Coppa Italia: Terus Cetak Gol, Maurizio Sarri Berterima Kasih pada Ibunda Ronaldo


Selain sepak bola apa yang Anda pelajari?

Terkadang saya senang melihat di televisi budaya di sini yang unik dan sangat beragam. Selain itu, saya juga senang dengan Indonesia karena orang-orang di sini sangat ramah. Setiap daerah bisa menerima orang baru. Saya rasa itu juga bentuk budaya yang sudah tertanam sejak lama.

Cocok dengan makanan dan iklim Indonesia?

(Tertawa). Saya rasa perlu pilih-pilih. Kalau iklim dengan berjalannya waktu saya bisa adaptasi. Tetapi kalau makanan saya harus memilih. Bukan saya tidak suka makanan Indonesia, tetapi saya tidak terlalu suka makanan pedas. Di sini rata-rata makanan pedas. Saya punya pengalaman di India, sering makan pedas membuat perut saya sakit dan sempat turun tiga kilogram dalam seminggu.

Ada hobi baru yang ditekuni?

Sepak bola adalah salah satu bagian hidup saya. Setiap hari saya selalu isi hidup saya dengan sepak bola, menonton sepak bola, mempertajam taktik tim. Saya memang terlalu cinta dengan sepak bola. Tak jarang pasangan saya sendiri heran dengan aktivitas saya yang selalu diisi dengan sepak bola.

Usia Anda terbilang muda sebagai pelatih. Bagaimana kisahnya?

Saya dapatakan lisensi B selama dua tahun saat usai 32 tahun. Dua tahun berikutnya, saat usia usia 34 dapat lisensi A, dan usia 35 tahun saya dapatkan lisensi Pro. Saya banyak bertemu pelatih bagus, pemain bagus, dan saya dilatih Harry Curley dan Danny MaCarthy. Beberapa tahun lalu, saya juga sempat mengunjungi Manchester City selama sepekan, mengunjungi akademi dan tim utamanya. Kami melihat mereka berlaga di Liga Champions. Saya juga ke Swiss untuk mengambil beberapa kursus lagi. Sampai akhirnya saya mempunyai lisensi UEFA Pro.

Rencana berapa lama melatih di Indonesia?

Untuk tahun ini dan musim depan tentu saya masih di sini, karena itu yang ada dikontrak, tetapi jika mereka memungkinkan jangka panjang saya juga senang menerima tawaran itu. Selama mungkin yang saya bisa. Karena dalam sepak bola banyak sekali perubahan.

Apa mimpi besar Anda?

Saya rasa saya sangat menyukai negara ini, sepak bola, liganya, hingga pemain-pemain di sini. Saya bisa beradapatasi dengan cepat di sini. Namun, tak menutup kemungkinan juga bahwa saya ke depan ingin melatih di negara-negara atau klub besar. Impian terbesar saya ingin melatih Manchester United. Entah itu mulai dari klub muda atau akademi. Saya rasa bisa mencapai ke sana, namun memang perjalannya masih panjang.* Nizar Galang Gandhimar 

loading...
news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news
news