news
LIGA 1
Antara Efektivitas Bhayangkara FC dan Rapuhnya Sistem Pertahanan Macan Kemayoran
05 December 2019 11:43 WIB
berita
Pemain Persija Riko Simanjuntak (tengah) di antara kegirangan pemain Bhyangkara FC - TopSkor/Jessica Margaretha
JAKARTA – Bhayangkara FC (BFC) tampil menggila. Perfoma positif The Guardian, julukan BFC, dalam tujuh laga sebelumnya berlanjut. Pada Rabu (4/12) malam, giliran Persija yang diperdaya dengan skor 3-0 di Stadion PTIK. Hebatnya, tiga gol pasukan tempur Paul Munster itu tercipta pada babak pertama.

Gelandang asal Korea Selatan Lee Yu Jun, tampil sebagai katalisator dengan satu assist dan satu gol. Mantan pemain Persija Adam Alis membuka pesta gol tuan rumah pada menit ke-22. Delapan menit berselang, giliran Herman Dzumafo. Derita Persija berlanjut lewat tembakan roket Yu Jun dari luar kotak penalti, menit 36.




Baca Juga :
- Jacksen Tiago Tantang Uji Coba Arema, Persita, dan Bhayangkara
- Berlabuh ke Bhayangkara FC, Eze Patahkan Rumor ke Arema FC




Efektivitas dan ketetapan taktik bermain diakui Munster menjadi kunci keberhasilan. “Kami mengatasi taktik lawan dengan baik. Ya kadang, kami harus bertahan begitu dalam dan middle block. Namun kami menjalankan transisi dengan tepat dan kami melakukannya dengan sangat efektif," ucap Munster.

Ini bukan sekadar kemenangan yang berbuah tiga poin bagi BFC. Lebih dari itu, rekor tak pernah menang atas Persija selama era Liga 1 sejak 2017, akhirnya dipatahkan. BFC memang selalu kesulitan mendapat poin penuh setiap kali jumpa Persija, baik dalam partai kandang maupun tandang.


Baca Juga :
- Pengakuan Wasit Terbaik Liga 1 2019 soal Match Fxing, Tekanan, dan Cerita FIFA
- Patahkan Rekor Tiga Tahun dan Selamat dari Degradasi, Djanur Bakal Dapat Kontrak Baru


“Saya ingin membangun mentalitas pemenang kepada semua pemain di dalam klub ini. Dan itu mulai terlihat dari hasil yang kami raih belakangan ini,” Munster menambahkan. Tambahan tiga poin ini membuat BFC melejit ke peringkat keempat klasemen sementara Liga 1 2019.

Bagi Persija, ini menjadi kekalahan terbesar dalam era pelatih Edson Tavares. Ketidaktepatan dalam memilih starter, membuat Macan Kemayoran tak bisa berbuat banyak sepanjang babak pertama. Memasukkan Ramdani Lestaluhu dan Heri Susanto menjelang akhir babak pertama, tak mengangkat.

Hujan deras dan kartu merah yang diterima Ryuji Utomo pada babak kedua, kian menambah penderitaan. Rekor tak terkalahkan Persija dalam enam laga beruntun pun tumbang. “Kami tidak bermain terlalu buruk. Tapi dalam tujuh menit kami kecolongan tiga gol dan membuat semuanya jadi sulit,” kata Tavares.

Tak ingin larut dalam kubangan kekalahan, Toni Sucipto memastikan mentalitas pemain Persija tak akan anjlok dalam sisi pertandingan musim ini. “Kami kalah karena kesalahan kami sendiri. Kami kalah. Selesai. Kami fokus lagi ke laga selanjutnya. Seperti lawan Persib, kalah terus kami bangkit,” ucap Toni.

Terlepas keyakinan itu, sekali lagi pertahanan Persija trelihat sangat rapuh. Duet Xandao dan Fachrudin Aryanto, tampak mudah ditembus, salah satunya saat Dzumafo mencetak gol. Total, sudah 37 kali Persija kebobolan. Jumlah ini lebih buruk dari musim sebelumnya yang hanya kebobolan 36 kali.

Untuk sisa musim ini, tak ada salahnya untuk mencoba kembali Maman Abdurrahman. Meski tak muda lagi, ketahanan Maman saat menerima gempuran lawan cukup stabil. Ini sangat kontras dengan Fachrudin yang sering kali mudah diperdaya lawan, khusunya dalam duel satu lawan satu.*** Furqon Al Fauzi

loading...
news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news
news