news
UMUM
Mengenal Shin Taeyong, Pelatih yang Pernah Kalahkan Indonesia 4-0 di GBK
03 December 2019 10:25 WIB
berita
JAKARTA - Pintar dan jeli melihat celah di area pertahanan lawan menjadi karakter yang dikenal dari sosok Shin Taeyong. Karena itu julukan si rubah tanah sempat melekat padanya saat masih aktif menjadi pesepak bola.

Tak hanya hebat saat menjadi pemain, calon pelatih timnas Indonesia ini juga punya reputasi yang baik di dunia kepelatihan. Pada Piala Dunia 2018 Rusia ia berhasil membuat sejarah bersama timnas Korea Selatan (Korsel).




Baca Juga :
- Menpora Yakin Indonesia Bisa Bawa Pulang Medali Emas Sepak Bola SEA Games 2019
- Kontingen Indonesia Lewati Target Minimum, Begini Komentar Sesmenpora




Meskipun Taegeuk Warriors gagal lolos dari fase grup, namun Korsel tampil mengejutkan dengan menumbangkan Jerman. Son Heung-min dan kawan-kawan sukses mengalahkan Jerman 2-0 sekaligus membuat peraih empat Piala Dunia itu tersingkir dari Rusia lebih cepat.

Sedangkan pada laga lainnya, Taegeuk Warriors hanya kalah tipis dari Swedia (0-1) dan Meksiko (1-2). “Jerman adalah juara bertahan dan peringkat teratas di rangking FIFA, jadi saya berpikir mengenai kesalahan apa yang mungkin dibuat Jerman, karena mereka mungkin merasa mampu mengalahkan kami, itulah yang dipikirkan semua orang,” ujar Shin kala itu.


Baca Juga :
- Jadwal Siaran Langsung Liga 1 2019, Minggu 8 Desember
- Reaksi Pelatih Timnas U-22 Kamboja Usai Disingkirkan Vietnam


Shin dikenal penganut filosofi sepak bola menyerang. Serangan yang dibumbui fisik yang kuat dengan selalu mengalirkan bola ke depan dengan tempo cepat. Filosofi ini mengubah pakem permainan Korsel yang saat itu relatif lambat dan jarang bergerak maju. 

Timnas Indonesia U-23 sejatinya sudah pernah menjadi korban keganasan tim asuhan  Shin. Saat itu Evan Dimas dan kawan-kawan takluk 0-4 di Gelora Bung Karno, pada Pra-Piala Asia U-23 2016. Bahkan, Shin sukses membawa Korsel U-23 lolos hingga ke final Piala Asia U-23 2016 tanpa sekalipun menelan kekalahan. Sayangnya di final, Korsel kalah 2-3 dari Jepang dan harus puas finis di posisi runner-up, meskipun tetap lolos ke Olimpiade Musim Panas di Brasil.

Sedangkan, berbicara formasi Shin lebih mengandalkan skema 4-4-2. Namun formasi yang diterapkan ini tidak biasa karena ia lebih senang memasang dua gelandang bertahan yang bertugas sebagai pengalir bola ke sisi sayap atau umpan langsung ke jantung pertahanan lawan.

Kini, Shin dan kandidat pelatih timnas Indonesia lainnya yaitu Luis Milla sudah memberikan presentasi kepada PSSI. Selanjutnya, PSSI akan menggelar rapat bersama Departemen Teknik untuk mengambil keputusan yang akan dibawa pada Rapat Tahunan PSSI, Januari 2020 mendatang.

“Untuk timnas senior, saya kira butuh pelatih asing yang mampu mengangkat level permainan, yang lebih mengetahui dan memaksimalkan karakter pemain-pemai Asia. PSSI jangan silau dengan nama-nama pelatih Eropa,” ujar pengamat sepak bola nasional, M Kusnaeni. "Secara budaya, Asia itu lebih dekat dengan kita (Indonesia) ketimbang Eropa. Dari sisi adaptasi juga saya rasa akan lebih cepat.”***NIZAR GALANG GANDHIMAR

 

 

loading...
R
Penulis
Rizki Haerullah
news
news