news
UMUM
Curhatan Kapten Timnas Putri:
28 November 2019 13:25 WIB
berita
Foto Istimewa
DI saat timnas putri Indonesia bertolak ke Filipina untuk tampil dalam SEA Games 2019, Yudith Herlina Sada kapten timnas Indonesia Putri justru sudah empat bulan terakhir ini tak berdaya.

Tepatnya, pascaalami cedera parah patah tulang kering atau fraktur tulang besar dan kecil di bagian fibula dan tibia, 27 Juli 2019 silam. Saat itu timnas putri proyeksi SEA Games 2019 tengah mengadakan uji coba melawan tim Raga Putra Menoreh Kulon Progo Putra U-15, di Lapangan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, atau dua hari setelah ulang tahunnya ke-36 tahun.




Baca Juga :
- Timnas U-16 Akan Menggelar Trofeo di Solo
- Fisikalisasi di Timnas Era Shin Tae Yong, Pemain Tetap Berlari di Setiap Pergantian Bentuk Latihan




Ia sempat dirawat di RS Panti Rapih, Yogyakarta dan Royal Progress Hospital Jakarta. Namun pemain kelahiran Sorong, Papua, 25 Juli 1983 itu akhirnya memilih pulang ke kampung halamannya karena situasi dan kondisi yang menurutnya tak positif.

Kepada TopSkor pemain yang sudah membela timnas sejak 2005 itu menceritakan kondisi yang memprihatinkan. Ia kini tak mampu melakukan aktivitas apapun, termasuk sepak bola. Ia hanya bisa 'menyepi' dan berusaha memulihkan sendiri cedera dibantu sanak keluarganya, itupun lewat pengobatan alternatif.


Baca Juga :
- Rohit dan Toncip Siap Mematikan Pergerakan Makan Konate
- Laskar Joko Tingkir Tak Keder Dikelilingi Tim Top Jatim


“Ya betul saya pernah dirawat semua ditangani dan biaya ditanggung PSSI (periode sebelumnya). Tapi mengapa kemudian saya memilih pulang saja ke Papua, ada alasan kuat saya pulang, meski ada tawaran untuk terus berobat dan dicarikan tempat tinggal di Jakarta dan minta orangtua didatangkan dari Papua. Intinya saya kecewa karena di-PHP (Pemberi Harapan Palsu), termasuk hak saya selama TC di Timnas Putri yang dijanjikan. Saya pulang ke Papua pun, tanpa seribu rupiah pun dari mereka (seraya meminta tak disebut siapa mereka itu,red),” ucap Yudith.

Ia mengaku PSSI pernah mengirim uang Rp4,1 juta. Tapi dana itu tidak cukup untuk mengobati cedera parah di Papua, belum pemeriksaan medis dan transportasi yang berjauhan.

“ Jujur saja beberapa pekan ini saya hanya andalkan pengobatan alternatif, karena obat sudah habis dan saya hanya dapat janji-janji saja. Pernah ke dokter dan disuruh balik lagi kontrol, tapi dana dari mana, di sini lokasi terpencil,” ucap Yudith.

Yudith tinggal di sebuah desa kecil, Saweni di Pulau Rani. Dari daratan Papua harus menyeberangi laut tiga kali, Manokwari menuju Yapen, Biak dan Pulau Rani.  Di kabupaten kepulauan seluas 634,24 kilometer (km) persegi dengan penduduk  20 ribu jiwa yang berjarak 3.250 km dari Jakarta dan 625 km dari Jayapura, sulit baginya mendapatkan pengobatan medis yang mumpuni dan memadai. Jalan pun harus dibantu menggunakan tongkat kruk, tanpa ada kursi roda.

“Obat saja sudah  habis. Kondisi ekonomi kami juga tidak menunjang. Maaf saya tidak ingin ribut dan sudah malas berdebat dengan harapan palsu, katanya selalu diusahakan dan diurus tapi kenyataanya nol,” kata Yudith.

Terpisah, anggota Exco PSSI  era kepengurusan 2015-2019 Papat Yunisal yang kini tengah mendampingi timnas Indonesia Putri pada SEA Games Filipina, tak sepenuhnya sependapat dengan curhatan Yudith Herlina.

“Oh ya ya saya sedang di Filipina dengan timnas konsen untuk SEA Games 2019. Mengenai Yudith, PSSI terbuka untuk koordinasi. Waktu itu di RS Panti Rapih, Yogyakarta dan Royal Progress Hospital Jakarta, semua diurus PSSI kelas VVIP. Banyak yang sudah diurus PSSI, dan saya sendiri yang meminta ke Yudith, agar orangtua  didatangkan ke Jakarta dan PSSI yang tanggung. Kami juga waktu itu mau mencarikan tempat untuk tinggal dan agar tetap bisa jalani terapi. Tetapi Yudith tetap ingin pulang ke Papua. Jadi mohon ditinjau ulang kalau dikatakan kalau pengurus PSSI lepas tangan soal Yudith,” ujar Papat.*NOVAL LUTHFIANTO

 

 

loading...
R
Penulis
Rizki Haerullah
news
news