news
LIGA ITALIA
Verona Membangun Bungker Kuat di Seri A
16 November 2019 12:57 WIB
berita
Bek Amir Rrahmani (kiri) meningkatkan proteksi area penalti Verona.-Topskor.id/istimewa-
VERONA - Hellas Verona berhasil membangun bungker yang menyesatkan lawan. Alhasil, gawang Marco Silvestri baru jebol 11 kali selama 12 pekan awal Seri A. Pertahanan mereka adalah yang terkuat kedua setelah Juventus FC. Di era kemenangan dihargai tiga poin, pertahanan solid baru dimiliki skuat besutan Ivan Juric.

Trio Amir Rrahmani, Koray Guenter dan Alan Empereur menjamin proteksi kuat. Ketangguhan mereka dipadu dengan kesigapan kiper Marco Silvestri kerap membuat lawan frustrasi.




Baca Juga :
- Sektor Tengah Fondasi Permainan Milan
- Sampdoria Kembali Tampilkan Wajah Lama




Kalau mereka mampu mempertahankan marjin kebobolan, bukan tak mungkin mereka menjangkau zona Eropa. Namun, untuk saat ini, target tersebut seolah masih di awang-awang. Sasaran konkret mereka adalah mengunci tiket selamat lebih dini.

“Ini adalah data penting, yang membuat kami bangga. Namun, kompetisi masih lama, kami berharap melanjutkan seperti ini. Saya tidak lelah mengulangi, ini semua berkat pelatih yang penuh determinasi. Dia bisa mengeluarkan kemampuan para pemain 110 persen,” kata Direktur Olahraga Tony D’Amico.


Baca Juga :
- Misi Melindungi Hegemoni
- Tidak Jadi ke Inter, Dzeko Kini Bisa Hentikan Laju Inter


Penanggung jawab mercato klub tersebut ingin tim tidak besar kepala dan teledor, yang bisa berakibat pada penurunan peringkat. Mereka tidak boleh kehilangan predikat sebagai tim dengan pertahanan terbaik dan paling efektif dari segi gol dan poin. Anak buah Juric ini melewati torehan musim 2013/14 ketika Andrea Mandorlini duduk di bangku pelatih. Kala itu, dimotori Luca Toni dan Jorginho, I Gialloblu mengoleksi 22 poin dan mencatatkan 22 gol. 

Setelah mengimpikan kualifikasi ke kompetisi Eropa, pada akhirnya tim menutup musim dengan berada di posisi kesepuluh. Momen yang pantas dikenang, seperti musim 2001/02, ketika ditukangi Alberto Malesani dengan formasi 3-4-3. Setelah 12 pekan, Verona mendapat 19 poin dan memiliki lini belakang yang terbaik  kedua setelah Juric: 13 kebobolan gol. Alih-alih terbang ke atas, performa mereka malah terjun bebas di paruh musim kedua sehingga terdegradasi.

Versi terburuk diperlihatkan I Mastini musim lalu ketika dipimpin Fabio Pecchia. Tim yang sangat terbatas, dibangun dengan sumber dana minimal. Hingga pekan ke-12, mereka baru mencuri enam poin dan enam gol. Sementara gawang koyak 26 kali.

Kegagalan juga dikecap Hellas yang dibesut Gigi Cagni, musim 1996/97. Ini adalah yang pertama di Seri A pada era tiga poin. Di mana mereka mendapatkan tujuh poin dalam periode 12 pekan dan bentengnya sangat keropos (kebobolan 23 gol).

Ada juga Verona versi mengejutkan ketika ditangani Cesare Prandelli. Setelah awal sulit, dengan kekhawatiran degradasi, tim memperlihatkan peningkatan prestasi di paruh musim kedua. Merangkai 15 hasil positif berturut-turut, versi terbaik Verona dengan 3 poin kemenangan. Kejutan dengan cara berbeda juga diperlihatkan oleh pasukan Attilio Perotti, berhasil bertahan di Seri A setelah playoff dengan Regina.* Dari berbagai sumber

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news