news
LIGA INGGRIS
Inilah Rahasia Mengapa Bek Sayap Liverpool Mematikan
14 November 2019 10:30 WIB
berita
Dengan empat assist untuk Liverpool, Andy Robertson menjadi bek yang paling banyak terlibat dalam proses terciptanya gol di Liga Primer sejauh ini.
LIVERPOOL - Tidak ada yang membantah bila keperkasaan Liverpool FC dua musim terakhir di kompetisi domestik (Liga Primer) maupun ajang Eropa (Liga Champions) berkat adanya Andrew “Andy” Robertson dan Trent Alexander-Arnold. Robertson sebagai bek sayap (full-back) kiri dan Alexander-Arnold di kanan tidak hanya kuat dalam bertahan tapi juga mematikan saat membantu serangan.

Kerja sama di antara kedua bek sayap The Reds tersebut membuahkan gol saat mengalahkan Manchester City FC, 3-1, pada laga pekan ke-12 Liga Primer di Stadion Anfield, Minggu (10/11) lalu. Robertson membuat assist untuk Mohamed Salah yang menjadi gol kedua dalam pertandingan tersebut.




Baca Juga :
- Liverpool Tak Lagi Bergantung dengan Tiga Penyerang Utama
- Satu Misi, Beda Tujuan




Kedua bek sayap (full-back) itu kerap berperan krusial lewat umpan-umpan mereka di sepertiga akhir area serangan Liverpool sangat mematikan (lethal). Meskipun begitu, Robertson mengakui ia dan Alexander-Arnold tetap tidak melupakan tugas utama, menjaga pertahanan.

“Musim lalu, saya dan Alexander-Arnold mencetak banyak assist (total digabungkan, 23) dan gol di semua kompetisi. Namun, yang terpenting bukan hal tersebut,” ucap bek kiri asal Skotlandia tersebut. “Saat bertahan, kami juga tidak buruk. Musim ini kami akan coba lagi melakukannya. Yang pasti, kami terus berusaha meningkatkan standar dan teknik di setiap pertandingan.”


Baca Juga :
- Man. United Ternyata Memiliki Alasan Tidak Mendepak Solskjaer
- The Toffees Sudah Kantongi Nama Pengganti Marco Silva


Assist untuk Salah ketika menghabisi City menjadi yang keempat dibuat Robertson di Liga Primer musim ini. Ia pun menjadi bek dengan assist terbanyak.

Hebatnya lagi, Robertson menjadi satu-satunya bek yang mampu mencetak empat assist sejauh ini di Liga Primer. Empat pemain lainnya adalah penyerang dan gelandang, yakni Harvey Barnes (Leicester City FC), Emiliano Buendia (Norwich City FC), Dwight McNeil (Burnley FC), dan David Silva (Man. City). Kelima pemain tersebut hanya kalah dari Kevin De Bruyne (Man. City) untuk urusan membuat assist, sembilan.

Adapun Alexander-Arnold baru mencetak tiga assist di Liga Primer musim ini. Selain dirinya, ada tiga bek lain yang sudah mampu membuat tiga assist, yakni Ben Chilwell (Leicester), Lucas Digne (Everton FC), dan Erik Pieters (Burnley).   

“Alexander-Arnold baru 21 tahun dan performanya luar biasa. Saya berharap ia mampu mempertahankannya,” tutur Robertson yang akan membela Skotlandia di jeda internasional ini. “Saya berharap suasana dan performa tim bisa terus seperti ini. Sejauh ini kami bermain bagus. Jadi, kepercayaan diri di ruang ganti juga terlihat jelas.”

Apa yang dilakukan Robertson dan Alexander-Arnold ini sebetulnya bukan hal baru. Sekitar 15 tahun lalu, Dani Alves (bek kanan) dan Marcelo (bek kiri), diyakini menjadi pioner perubahan peran bek sayap.

Sejatinya, transformasi full-back ini tidak langsung menjadi playmaker. Tahapan pertama, full-back bermain lebih melebar hingga kemudian menjadi sayap (winger). Selanjutnya, full-back yang bermain dengan karakter winger ini menjelma menjadi playmaker.

Alexander-Arnold menjadi contoh paling nyata betapa full-back bisa menjadi senjata mematikan. Ia tidak hanya dikenal mampu melepas umpan silang dari sisi dalam (lini belakang hingga tengah). Ia terbukti juga mampu mengatur ritme permainan dan aliran bola sebelum dilepaskan ke para penyerang.

Kelebihan Alexander-Arnold, karena posisi naturalnya sebagai bek sayap, ia tidak menjadi playmaker tradisional yang biasanya dari gelandang. Karena Alexander-Arnold mampu memusatkan permainan di sisi kanan, lini tengah lawan-lawan Liverpool biasanya menjadi lebih terbuka. Saat itulah gelandang seperti Fabinho, Georginio Wijnaldum, Jordan Henderson, atau Alex Oxlade-Chamberlain, bisa bermain lebih bebas mengobrak-abrik lawan dari tengah.

“Banyak full-back hebat seperti Cafu dan Roberto Carlos yang mampu overlapping dan melepas umpan silang akurat. Namun, Alexander-Arnold adalah playmaker Liverpool,” ucap Jamie Carragher, eks gelandang Liverpool. “Liverpool tidak memiliki bek sayap konvensional. Para gelandang bekerja keras di tengah dan playmaker mereka justru di bek sayap. Alexander-Arnold ibarat Steven Gerrard (mantan kapten dan gelandang tengah Liverpool) bermain sebagai bek kanan.”***TRI CAHYO NUGROHO DARI BERBAGAI SUMBER       

 

loading...
T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news
news