news
TOP FEATURE FOOTBALL
Sempat Dapat Penolakan, Dyche Justru Mampu Bertahan Tujuh Tahun di Burnley
01 November 2019 16:15 WIB
berita
Pelatih Sean Dyche sukses bertahan lama mengasuh Burnley berkat konsistensinya dalam mengembangkan tim./Istimewa
SEAN Dyche cuma menerima satu panggilan wawancara kerja dalam hidupnya dan langsung mendapatkan tiket emas. Selang tujuh tahun, dia dua kali membawa Burnley FC promosi ke Liga Primer, mengantar The Clarets ke Eropa, dan punya sebuah pub di kota Burnley yang menggunakan namanya, Roya Dyche.

Dyche adalah pelatih terlama keempat di empat divisi sepak bola Inggris. Namun belum pernah minum di Royal Dyche yang hanya berjarak 400 meter dari Stadion Turf Moor. Terlepas dari rutin makan malam setiap Kamis dengan stafnya, pria 48 tahun itu sama sekali tidak punya waktu untuk bersosialisasi.




Baca Juga :
- Pelatih West Ham Tidak Salahkan Kiper
- Pep Tak Menyesal Tolak MU demi Man. City




Namun jelang perayaan tahun ketujuh pengabdiannya di Burnley, 30 Oktober 2019 lalu, Dyche membanggakan dirinya. “Satu wawancara, satu pekerjaan. Itu seperti rekor tendangan penalti saya," ujar Dyche yang tiba di Turf Moor sambil tertawa. “Orang-orang baik mendapatkan pekerjaan yang baik, dan memang begitu.”

Dan memang cuma segelintir orang yang punya karier seperti Dyche. “Saya antusias jika pelatih (asal) Inggris bekerja dengan baik. Jika ada cukup banyak dari kami yang seperti itu, mungkin para petinggi klub (Liga Primer) akan berpikir lain. Semoga itu akan membuka lebih banyak pintu, untuk pelatih Inggris atau dari Britania Raya,” ujarnya.


Baca Juga :
- Sempat Tak Dianggap, Kini Justru Menjadi Sosok Kunci Sheffield
- Fan Wanita Asal AS Rela Keluar dari Pekerjaan demi Sepak Bola


Dyche percaya pencapaian terbesarnya, sejak menggantikan posisi Eddie Howe yang kini melatih AFC Bournemouth, telah menjadi kesatuan harmonis di dalam dan di luar lapangan. “Kami berhasil mengubah klub yang dulu mempertanyakan tempat mereka. Kini semua warga kota terlibat dengan yang kami lakukan.”

Padahal klub dan warga kota tak benar-benar menginginkan Dyche pada awalnya. “Saya pikir Mick McCarthy dan Ian Holloway adalah favorit, dan saya hanya opsi cadangan. Sulit bekerja ketika Anda harus merebut banyak hati dan pikiran. Selama enam bulan, hasil kami naik turun. Saya belajar banyak tentang diri saya dan pekerjaan ini,” ucapnya.

“Masa sulit kedua adalah degradasi. Alasan saya tetap dipertahankan adalah kebenaran yang nyata dan kuat tentang cara kami bicara di ruang rapat. Meskipun kami terlempar dari Liga Primer, tidak ada utang, tak ada kerugian, dan setidaknya kami telah meningkatkan jalinan klub selama satu tahun di Liga Primer,” kata Dyche lagi.

Kenyataannya momen 'pintu geser' dalam karier manajerial Dyche telah memasuki 13 pertandingan dalam pekerjaan pertamanya di Watford FC. Dengan regu pemain tambal sulam dan pemilik Laurence Bassini yang bangkrut, delapan kekalahan dan hanya dua kemenangan di 14 laga pertamanya, membuatnya belajar menghindari kesalahan.

Kritik pedas terus membombardir ruang forum situs The Hornets. Hingga mantan legenda dan ikon yang dihormati publik Vicarage Road, Graham Taylor, membelanya. Dyche pun batal mundur. “Graham memiliki pengaruh kuat di Watford. Anda bisa merasakan perubahan sikap klub. Saya tak akan pernah melupakan itu.”

Dyche, yang belajar banyak untuk menemukan gaya Burnley yang tepat. “Semakin lama Anda berada dalam permainan ini, semakin dalam itu akan menenggelamkan Anda. Saya bisa segera mengubah citra tim ini, tapi metode instan itu tidak akan berhasil. Tapi, apa pun gaya Anda, menang tidak akan pernah ketinggalan zaman,” ujar Dyche.*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

loading...
I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news