news
INFOGRAFIS
Ketika Pertahanan Tidak Penting Lagi di Seri A
26 October 2019 13:16 WIB
berita
Bek Leonardo Bonucci kini juga ikut mengoordinir serangan balik Juventus.-Topskor.id/istimewa-
MILAN – Setelah Seri A berjalan selama delapan pekan, lini pertahanan terbaik justru berada di papan tengah klasemen. Kiper Udinese Calcio, Juan Musso, hanya menerima enam gol dan mencatatkan clean sheet dalam empat laga. Musim lalu, mereka tak kebobolan dalam sembilan pertandingan.

Prestasi Le Zebrette lebih mentereng dari penghuni zona Liga Champions: FC Internazionale, Juventus FC, Atalanta BC dan SSC Napoli. Fenomena ini menggambarkan bahwa Seri A telah berganti kulit dan filosofi. Tembok kokoh Seri A mulai rapuh.




Baca Juga :
- Suporter Napoli Teror Ronaldo Cs, Juventus Diteriaki Pencuri
- Paulo Dybala Hampir Tinggalkan Juventus




Setelah musim 2007/08, muncul konsep bahwa sang juara adalah yang punya pertahanan terkuat. Para pelatih hebat tim papan atas kini mulai mengubah gagasan. Arahnya seperti I Nerazzurri pada 2007/08, yang merengkuh Scudetto tanpa pengawalan mumpuni di belakang.

Pilihan Juve menggantikan Massimiliano Allegri dengan Maurizio Sarri mengarah kepada permainan positif dan indah. Karena I Bianconeri adalah acuan, tim-tim di bawahnya ikut tidak lagi  mengutamakan gawang tidak kebobolan. Mungkin oleh karena itu, sampai sekarang hasil 0-0 hanya terlihat dalam 5 dari 80 pertandingan.


Baca Juga :
- Penampakan Ronaldo pada Robot Raksasa Bikin Takut Anak-anak
- Di Marzio: Juventus dan PSG Barter De Sciglio-Kurzawa


Filippo Galli, mantan bek AC Milan era Arrigo Sacchi dan mantan penanggung jawab sektor muda I Rossoneri berkomentar, “Sekarang kami membangun bek tengah yang berbeda. 10 tahun lalu, pemain yang memainkan paling banyak bola adalah playmaker, sekarang justru difensore tengah. Perlindungan menjadi sedikit sempit, jika harus mengubah maka saya harus mengorbankan sesuatu di bagian lain.”

Situasi paling mengejutkan terlihat skuat Pep Guardiola. Saat Manchester City menemui Crystal Palace di Liga Primer dan Atalanta di Liga Champions, tanpa bek murni dalam starter. Galli menganalisa, “Para bek sekarang tampaknya kurang siap karena diminta lebih menguasai bola, sebelumnya tidak seperti itu. Jadi kehilangan sesuatu dalam konsentrasi dan agresivitas. Sekarang kami mencari permainan yang 'pro-aktif', semua berpartisipasi dalam membangun permainan dan Gli Azzurri arahan Roberto Mancini adalah contoh bagus dari sepak bola modern. Bek sekarang harus lebih hebat ketika timnya menguasai bola.”

Ide itu diusung Gian Piero Gasperini di Atalanta. Salah satu dari sedikit tim yang masih mengajarkan sesi pengawalan dan antisipasi. “Bagi saya, Atalanta bisa berada di belakang Juve dan Inter, tim-tim lain tidak begitu memperhatikan aspek ini. Sangat penting kualitas individu, seperti Sassuolo yang tidak lagi memiliki Merih Demiral dan Pol Lirola tapi banyak pelatih meminta bertahan satu lawan satu dan bukan bertahan per bagian dan ini lebih menyulitkan, bek tengah semakin sendirian,” kata Galli.

Tren Eropa

Sementara itu, Udinese memastikan pendekatan skuat Seri A kepada standar Eropa. Pelatih Igor Tudor menerapkan permainan yang tertutup dan mengandalkan kepada serangan balik, seringkali bertahan dengan lima pemain, fokus di tengah lapangan. Sebaliknya mereka kesulitan mencetak gol, hanya empat sama seperti UC Sampdoria, juru kunci klasemen.

Data ini mirip dengan sebagian besar tim di kompetisi top Eropa. Ketika memprioritaskan pertahanan, permainan efektif di depan dikorbankan. Di Spanyol, Atletico Madrid dan Athletic Bilbao, hanya kebobolan lima gol dalam sembilan pekan, tapi keduanya hanya mencetak 8 gol.

Di Bundesliga, ada VfL Wolfsburg (kemasukan lima gol dan menciptakan 11 gol), di Prancis ada Stade de Reims (kebobolan empat gol dan mencetak sembilan gol). Di Liga Primer, Sheffield United dan Liverpool FC.*** Dari berbagai sumber

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news