news
LIGA 2
Misteri Babak Delapan Besar Liga 2 Menggambarkan Operator Liga Tidak Siap
25 October 2019 10:33 WIB
berita
JAKARTA -  Perubahan regulasi di tengah-tengah kompetisi seolah sudah menjadi “hal biasa” di Liga Indonesia. Teranyar, format babak delapan besar Liga 2 2019 dari sistem kandang-tandang diubah menjadi single match atau home tournament.

Untuk venue pertandingan akan dilaksanakan di dua kota: Sidoarjo dan Palembang. Agar adil Sriwijaya FC akan bermain di Sidoarjo. “Beberapa tim yang ada di Grup A keberatan dengan sistem home-away karena pertimbangan biaya. Selain itu, ada faktor stamina juga harus dijaga dan juga beberapa tim yang lain agak sulit mendapatkan izin keamanan,” ujar Hanif Marjuni, Media and Public Relation Liga Indonesia Baru.




Baca Juga :
- Secara Verbal, Beto dan Supardi Diklaim Telah Sepakat Gabung SFC
- Gebrakan Baru, Tak Ingin Jadwal Kompetisi Liga 1 2020 Berubah-ubah, LIB Akan Mou dengan Polisi




Hanif mengaku dalam pertemuan tersebut juga sudah membicarakan hal-hal yang harus dikorbankan dan disepakati. Salah satu contohnya jika format pertandingan home ini tentu akan merugikan tim dalam mendapat pemasukan ekonomi ketika berlaga di kandang.  

“Kami sudah diskusi mencari jalan keluar dan akhirnya lebih banyak tim sepakat memilih untuk home tournament. Memang dalam kesempatan ini ada beberapa tim yang sempat keberatan seperti Persiraja dan Persewar, karena mereka lebih memilih untuk bermain home-away. Ada juga tim seperti Persik dan Persita yang mengaku siap bermain dengan format apapun,” kata Hanif.


Baca Juga :
- Antara Efektivitas Bhayangkara FC dan Rapuhnya Sistem Pertahanan Macan Kemayoran
- Sriwijaya FC Cari Bapak Angkat untuk Meminang Beto


Bukan hanya tidak profesional dalam menegakkan regulasi di liga profesional, kini jadwal delapan besar pun masih belum jelas. “Ya awalnya kan akan digelar mulai 13 November, tapi  informasinya berubah lagi digelar mulai 9-17 November. Memusingkan tapi kami tunggu saja jadwal resminya," ujar Asisten Manajer tim Mitra Kukar, Nor Alam.

Hanif mengaku LIB sedang merancang jadwal. Namun yang pasti laga delapan besar baru akan digelar setelah Kongres PSSI, 2 November mendatang.  “Karena formatnya home, pertandingan lebih sedikit jadi waktunya mundur, dari awalnya 28 Oktober menjadi rencananya setelah Kongres PSSI. Jadwalnya sebenarnya sudah ada tetapi belum fix, pekan depan kami akan share kembali.”  

CEO Persiraja Nazaruddin Dek Gam mengaku cukup keberatan dengan keputusan yang terkesan tiba-tiba. Nazarudin mengaku timnya rugi karena sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk laga home dan away.

Selain itu, masyarakat Aceh sudah begitu antusias untuk menyaksikan timnya bermain di kandang. “Main di Sidoarjo tentu akan membuat masyarakat pendukung fanatik Persiraja di Aceh kecewa, tidak bisa mendukung langsung Persiraja berlaga dan bermain home tournament sudah tidak seperti di regulasi, padahal di regulasi awal, home away. Kalau dibicarakan dari awal sebelum liga mulai, tidak masalah,” kata Nazaruddin.

Mengenai perubahan sistem kompetisi yang terkesan sangat mendadak ini, pengamat sepak bola nasional, M. Kusnaeni menilai keputusan ini kurang ideal. Dari sisi kesiapan tim kurang bagus. Selain itu, dengan perubahan di tengah jalan ini memberi kesan operator tidak siap, jadi seharusnya hal ini sudah diperhitungkan sejak awal.

“Tetapi kalau dilihat dari regulasi kalau sistem kompetisi itu merupakan kewenangan operator, jadi mau tidak mau harus dijalani. Tetapi ada juga sisi positifnya ya secara jarak dan pengeluaran untuk peserta bisa diminimalisir tentu menyangkut stamina pemain yang bisa lebih terjaga juga,” ucap Kusnaeni.***

loading...
R
Penulis
Rizki Haerullah
news
news