news
UMUM
PSSI Tutup Mulut
18 October 2019 13:53 WIB
berita
JAKARTA - Hingga saat ini, PSSI tak juga berani mengambil langkah tegas dalam merespons keprihatinan publik terkait kegagalan timnas Indonesia dalam empat pertandingan Pra-Piala Dunia (PPD) 2022. Plt Ketua Umum (Ketum) PSSI Iwan Budianto ataupun Sekretaris Jendral (Sekjen) PSSI Ratu Tisha pun sama-sama bungkam.   

Sementara, Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang seharusnya bersikap pun malah tak punya pendirian. Beberapa anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI hanya mengeluarkan komentar yang bersifat pribadi. Bukan pernyataan resmi yang dihasilkan lewat rapat Exco.




Baca Juga :
- Warteg pun Jadi Basecamp Akademi Persib Cimahi di Liga TopSkor Transtama U-15
- Komentar Shin Tae-yong Soal Masa Depan Timnas Indonesia




Padahal mereka yang punya hak mengangkat, memperpanjang, dan memecat pelatih timnas Simon McMenemy. Sebaliknya, ada Exco PSSI yang justru malah meminta Simon mengundurkan diri saja dari jabatannya. Yang lebih parah, tidak ada wakil PSSI yang meminta maaf kepada masyarakat akan pencapaian buruk timnas saat ini.

“Sepak bola tidak bisa melihat satu sisi, mau itu dari sisi pelatih saja ataupun pemain saja. Karena semua itu mencangkup juga manajemennya dalam hal ini adalah PSSI. Simon sebagai pelatih tentu sudah punya konsep untuk persiapan timnya, dalam sebulan, tiga bulan, atau dalam jangka setahun. Semua itu bisa sukses kalau didukung juga pemain yang siap, artinya dari aspek kebugaran hingga mental bermain,” ujar pengamat sepak bola, Imran Nahumarury.


Baca Juga :
- Jadi Samsak Hidup Lagi, Timnas Indonesia Digebuk Malaysia 0-2
- Susunan Pemain Timnas Malaysia Vs Indonesia


Mantan pemain timnas Primavera itu tidak setuju jika semua cacian dan makian pecinta sepak bola hanya tertuju kepada skuat Garuda. Karena menurutnya akar dari terbentuknya timnas Indonesia adalah dari PSSI itu sendiri.

“Saya tidak mengkritik PSSI yang paling salah, tidak. Tetapi dalam arti mereka di sini punya peran besar saat membangun timnas. Tetapi bagaimana mau membangun timnas sendiri kalau cara pengelolaan pemainnya seperti kesannya memaksa, dari padatnya jadwal Liga dan lain-lain,” kata Imran.

“Jadi kalau saat ini berbicara kekalahan timnas karena pelatih atau pemain saya tidak terlalu setuju. Harus melihat ke belakang, persiapan tim-tim lawan kita itu sangat jauh lebih baik. UEA satu tahun hingga dua tahun kemarin sudah mulai running TC di Jerman dan Australia, Thailand sama mempersiapkan timnya sangat baik, uji coba dengan tim-tim Eropa, terlihat ketika Piala Asia mereka menjadi tim yang solid, Vietnam juga sama seperti itu,” mantan gelandang timnas itu menambahkan.

Kondisi ini juga dirasakan oleh salah satu mantan pemain timnas Indonesia, Charis Yulianto. Menurutnya federasi harus bisa cepat tanggap melihat kondisi saat ini dan mengevaluasi semua terkait kekalahan empat pertandingan secara beruntun.

“Bukannya saya ingin menggurui federasi, jika memang ingin melakukan perubahan dari sisi pelatih saya rasa harus bergerak cepat. Banyak pelatih lokal yang saya rasa bisa membangkitkan timnas kembali. Salah satunya Rahmad Darmawan,” ucap Charis.

Sebenarnya jika ingin adanya revolusi di timnas Indonesia ada banyak jalan yang bisa ditempuh oleh PSSI, yang terpenting dalam hal ini adalah tindakan dari federasi itu sendiri. Ataukah federasi hanya ingin mengulur-ulur waktu hingga kepengurusan PSSI 2019-2023 terpilih dalam Kongres Pemilihan 2 November mendatang?***NIZAR GALANG GANDHIMAR

loading...
R
Penulis
Rizki Haerullah
news
news