news
LIGA INGGRIS
Soal Kane, Tottenham Dapat Tiru Pendekatan Inggris
17 October 2019 13:23 WIB
berita
Striker Tottenham Harry Kane saat mengeksekusi penalti melawan Arsenal./AFP
LONDON - Kemenangan timnas Inggris di Bulgaria pada Senin (14/10) lalu dibayangi insiden rasialisme, tetapi mereka tetap mampu memperlihatkan performa fantastis. Terutama trio penyerang The Three Lions: Harry Kane, Marcus Rashford dan Raheem Sterling yang berandil atas empat dari enam gol, plus dua torehan Ross Barkley.

Tetapi, di antara keempatnya, peran Kane paling instrumental. Ia menyumbang tiga assist dan satu gol. Dikenal sebagai striker tradisional, Kane telah mengadaptasi permainannya menjadi lebih serbaguna dan fleksibel selama beberapa tahun terakhir. Malam itu, dia berperan ganda: kombinasi antara pemain No. 9 dan No. 10.




Baca Juga :
- Komentar Pertama Jose Mourinho Sebagai Pelatih Tottenham Hotspur
- Resmi! Jose Mourinho Jadi Pelatih Tottenham!




Gol telah menjadi ciri khas dalam permainan Kane sejak pertama kali menembus skuat Tottenham Hotspur FC pada 2014/15. Progres meteoriknya adalah hasil penyelesaian akhirnnya yang akurat, yang benar-benar menjadikannya No. 9 di masa-masa awal kariernya di London Utara.

Energi dan keinginan Kane memberinya ledakan yang diperlukan untuk berlari di wilayah pertahanan lawan, bukan dengan kecepatan tetapi dengan pergerakan cerdas dan insting tajam tempat ruang gol berada. Skill aerialnya menyelesaikan serangkaian atribut yang membuatnya pemain No. 9 yang sempurna.


Baca Juga :
- Pernyataan Resmi Tottenham Hotspur Usai Pecat Pochettino
- Posisi Sejumlah Pemain Senior Inggris Terancam


Seiring usia dan kematangannya, striker 26 tahun itu mengembangkan keterampilan baru. Kane mengasah kualitas sebagai sosok No. 10 selama dua musim terakhir, menampilkan serangkaian passing akurat dan permainan defensif yang solid, diperkaya kecenderungan turun jauh untuk mencari bola pada saat yang tepat.

Namun, meski kemampuannya jelas telah membantu transisi, sejumlah faktor mitigasi memaksa Kane untuk menyesuaikan gaya bermainnya. Isu cedera pergelangan kaki yang berulang menyebabkan Kane kehilangan momentum atau setidaknya kapasitasnya untuk menggunakan ledakan itu secara konsisten. Dia jadi lebih kalem.

Itu berarti berkurangnya konfrontasi dengan para bek lawan. Dengan jatuh ke lubang antara lini tengah dan pertahanan lawan, Kane mampu menghindari tendangan ke pergelangan kakinya. Kebetulan itu area operasi pemain No. 10 dan bagi Kane, itu pun  menghadirkan efek yang sama seperti ketika dia memainkan peran No. 9.

Materi skuat Inggris juga berkontribusi pada perubahan Kane itu. Ketiadaan sosok playmaker membuat pasukan Gareth Southgate kekurangan kreativitas, Peran itu belakangan diambil Kane. Taktik ini bisa berjalan mulus dan efektif oleh kemampuan finishing Sterling dan kecepatan Rashford.

Dari analisa Squawka itu, mengapa Mauricio Pochettino tak coba meniru bagaimana Southgate memanfaatkan Kane? Pelatih Spurs itu masih memakai sang pemain sebagai No. 9. Secara kontroversial, Pochettino terus memakai formasi berlian yang justru membuat performa timnya jatuh pada 2019.

Akibatnya, Spurs jarang turun dengan tiga penyerang musim ini, Pochettino lebih memilih dua pemain depan: Kane dan Son Heung Min, plus dukungan satu playmaker tradisional: Erik Lamela atau Christian Eriksen. Otomatis Kane tidak diharuskan untuk turun ke peran No. 10 seperti saat bersama timnas.

Tetapi performa mengecewakan Tottenham musim ini menunjukkan bahwa perubahan vital diperlukan. Jadi, memplot tiga penyerang Kane, Heung Min, dan Lucas Moura mungkin menjadi solusi yang jelas jika Pochettino ingin tiru taktik permainan Inggris.*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

loading...
I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news