news
UMUM
Nirwan Dermawan Bakrie dalam Hatinya Mendukung Saya, Tetapi Praktiknya Tak Bisa
17 October 2019 11:03 WIB
berita
Rahim Soekasah berpose dengan memainkan piano dalam sesi foto bersama TopSkor, Rabu (16/10) - TopSkor/Husni Yamin
JAKARTA TopSkor disambut lantunan piano saat tiba di rumah Rahim Soekasah pada Rabu (16/10) siang. Pria yang telah memiliki delapan cucu ini kembali jadi sorotan karena maju menjadi calon ketua umum PSSI periode 2019-2023. “PSSI yang sekarang ini di depan masyarakat itu sudah zero,” katanya.

Sudah 32 tahun berkecimpung di sepak bola, Rahim mengaku sangat mengerti dengan persoalan sepak bola nasional. Ia juga percaya sepak bola Indonesia bisa berprestasi pada masa mendatang. Bagaimana Rahim melihat kondisi PSSI saat ini? Berikut petikan wawancaranya:




Baca Juga :
- Tiga Kepentingan dan Tiga Kelompok dalam Bursa Caketum PSSI
- Kecerdikan Lobi Tisha dalam FIFA Council Penentu Status Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2021




Melihat calon yang maju, sejauh apa optimisme Anda?

Sebenarnya tergantung dari voters, mau milihnya bagaimana. Kalau saya sih optimistis saja. Optimistis dalam hal, saya punya pengalaman di sepak bola. Saya membina sepak bola cukup lama. Dalam hal ini saya optimistis bisa memperbaiki PSSI. Tapi kan semua tergantung voters.


Baca Juga :
- Bali United Belum Takluk di Kandang dan Spaso-Platje Koleksi 13 Gol, Bisa Apa Badak Lampung?
- Tak Bisa Menggelar Laga, PSM Bisa Dinyatakan Kalah WO dari Persija


Bagaimana konsolidasi dengan voters?

Sebenarnya sudah banyak kontak by phone. Memang saya belum face to face. Karena bertemu voters itu kan butuh persiapan juga. Kalau ketemu voters, saya tak ingin yang asal ngomong. Saya akan melakukan apa nih ke depannya, supaya voters mengerti.

Apa yang menjadi permasalahan PSSI saat ini?

Menurut saya begini. PSSI yang sekarang ini di depan masyarakat itu sudah zero. Ada tersangka, terduga (mafia bola). Itu kan semua orang-orang di atas, bukan di bawah. Kalau organisasi, yang di atasnya satu tersangka, satu terduga, satu dipenjara, organisasi ini sudah tidak ada harganya lagi. Mustinya ada pembaharuan. Tetapi jangan mau pembaharuan tapi sama saja dengan yang dulu. Kan yang dikhawatirkan begitu.

Kunci pembenahannya ada di mana?

Masalahnya kan kedaulatannya itu di voters. Kita mau hebat seperti apapun kalau voters tidak memlih, bisa apa? Voters itu kan orang-orang top juga di daerahnya masing-masing. Bukan orang sembarangan. Mereka orang yang harus dihormatin, di daerahnya dihormatin. Ya pilihlah orang yang dianggap kredibel untuk mengatasi permasalahan PSSI. Memilih bukan karena uang.

Wakil Anda (Doni Sinomba Siregar) adalah besan Presiden. Apakah ini strategi?

Bisa juga dibilang begitu. Jadi, awalnya karena visi misinya sama. Orang Medan itu kalau dulu kan levelnya nasional. Saya pikir, kok sekarang orang Medan tenggelam. Awalnya saya tidak tahu, sesudah deklarasi saya baru dikasih tahu, beliau ini adalah besannya bapak Presiden. Dalam hati saya, ya alhamdulillah.

Soal disharmonisme PSSI dengan pemerintah...

Jadi begini, saya tidak mengerti jika PSSI tidak bisa berhubungan baik dengan pemerintah. Di mana akalnya sehatnya? Tetapi mungkin karena mereka menutup diri agar mereka-mereka saja yang jadi (pengurus). Nanti mereka bilang, pemerintah tak boleh intervensi. Pemerintah juga pasti ingin sepak bolanya bagus. Kalau dikritik ya diterima. Kita mau againts goverment? Ya gila namanya kita.

Pengurus PSSI cari duit di federasi...

Pengurus PSSI itu dibayar. Profesional itu dibayar. Presiden FIFA itu dibayar ratusan juga dolar. Tetapi kita cari duit untuk PSSI. Kalau kita dapat Rp200-300 miliar, terus dibayar Rp100-200 juta, memang tidak boleh? Tetapi jangan sampai mencari duit dari sogok, ngatur-ngatur match fixing. Itu kurang ajar. Saya ngobrol bola dengan orang. Setelah pertandingan, mereka selalu bilang, wah itu menang sudah diatur. Kalau kalah, sengaja dia ngalah. Masyarakat sudah tidak percaya. Ini harus diubah.

Konsep pembinaan sepak bola usia muda untuk Indonesia itu seperti apa?

Kita perhatiin deh. Kenapa pemain Indonesia passing-nya sering salah, passing-nya sering di-intersave? Infrastrukturnya, lapangan bumping. Puluhan tahun latihan di latihan yang tidak memenuhi syarat. Kalau dia passing keras, diterima temannya di dengkul. Temannya marah. Supaya bisa terima di kaki, passing pelan. Begitu main bola benaran, umpan juga pelan. Wong itu yang dilakukan bertahun-tahun.

Jadi apa yang perlu dibangun?

Kalau saya nih, stadion kita sudah banyak yang bagus. Palembang, Bandung, Bekasi, Sleman, Surabaya, bagus-bagus. Stadion sudah bagus. Lapangan latihan yang tidak ada. Coba Anda dari Cengkareng ke Semanggi. Lihat lapangan ga? Susah. Coba Anda dari bandara ke kota London. Puluhan lapangan di pinggir jalan.

Apakah Nirwan Dermawan Bakrie (NDB) mendukung Anda?

Dia tidak dukung saya. Dia ga bilang ga merestui. Mungkin hatinya mendukung saya, tetapi dalam prakteknya dia tidak bisa mendukung saya. Kenapa? Ya tolong tanya sama dia. Saya kaget juga. Saya kan sama dia sudah puluhan tahun. Baru kali ini saya minta dukungan, dia tidak bisa. Ini kan hak orang. Tetapi bukan berarti ga dukung saya terus kita bermusuhan. Bukan. Tetap saya bersahabat. Dia saya anggap saudara saya. Namanya orang milih, ya biasa saja.*

news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news
news