news
UMUM
PABBSI Optimis Masa Depan Angkat Besi Indonesia
16 October 2019 16:25 WIB
berita
Eko Yuli Irawan
JAKARTA – Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABBSI) memberi bonus masing-masing Rp 25 juta kepada Eko Yuli Irawan, Lisa Setiawati, dan Windy Cantika. Apresiasi itu mereka terima menyusul prestasi dalam Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Pattaya, Thailand, 18-27 September lalu.

Khusus untuk Eko dan Lisa, mampu meraih medali di Negeri Gajah Putih. Bahkan, Eko yang turun di kelas 61 kg putra mendapatkan dua perak dari angkatan snatch 140 kg serta total 306 kg. Lisa meraih satu emas dari clean and jerk usai mengangkat 95 kg dan perunggu dari total 165 kg.




Baca Juga :
- Dua Pemain Timnas U-22 Indonesia Sudah Bergabung dalam Latihan Persebaya
- Ditarik Juara Liga Malaysia, Eks Pelatih Fisik Timnas U-19 Tidak Sulit Beradaptasi di Kota Sabah




Berbeda dengan dua rekannya tersebut Windy sebenarnya tak mampu menyabet medali. Namun, lifter 17 tahun itu berhasil mempertajam rekor dunia remaja miliknya hingga diganjar bonus Rp 25 juta. Tak tanggung-tanggung, perbaikan angkatan tersebut terjadi di tiga kategori sekaligus.

 Windy mengangkat 82 kg untuk snatch, 100 kg untuk clean and jerk, serta 182 kg untuk keseluruhan. Dalam acara pembagian bonus di Mes Kwini, Jakarta, Selasa (15/10), Ketua Umum PB PABBSI, Rosan Perkasa Roeslani, mengaku puas dengan pencapaian lifter Indonesia di Thailand.


Baca Juga :
- Hadapi PSS, PSM Siap Menutup Laga Terakhir dengan Pesta
- Shin Tae-yong Ungkap Isi Pertemuan dengan Shenzhen FC


Khusus untuk lifter muda, Rosan menganggap prospek cerah ada di depan mata. Tak hanya Windy, Muhammad Faathir yang turun di kelas 61 kg juga memegang rekor dunia untuk remaja. Saat berlaga dalam Kejuaraan Dunia Junior di Suva, Fiji, Juni lalu, ia jadi lifter dengan angkatan terbaik.

Utamanya dalam clean and jerk, di mana Faatihir sanggup mengangkat 149 kg. Torehan tersebut memang layak membuat PB PABBSI optimistis dengan masa depan angkat besi Indonesia. Bahkan, untuk Olimpiade Paris XXXIII/2024, Rosan percaya diri menargetkan dua dua emas.

“Sepanjang sejarah, angkat besi belum pernah dapat emas (Olimpiade). Namun, sudah rutin sumbang medali sejak Olimpiade Sydney (XXVII/2000). Untuk di Tokyo (2020), kami ingin satu emas. Jadi, untuk di Paris 2024, dua emas tentu bisa,” kata sosok yang juga pengusaha tersebut.

Wakil Ketua Umum PB PABBSI, Djoko Pramono, mengatakan capaian dua perak dalam Olimpiade XXXI/2016 Rio de Janeiro merupakan yang terbaik dalam sejarah angkat besi Indonesia. Untuk itu, ia mengatakan, sudah saatnya Indonesia mampu mendapatkan emas di Tokyo dan Paris.

“Setiap (tampil dalam) Olimpiade, seharusnya ya meningkat (medalinya). Tadinya kami tidak pernah dapat dua perak tapi waktu di Rio, bisa. Untuk di Tokyo, mudah-mudahan saja kami bisa dapat satu emas dan dua di Paris. Melihat kekuatan yang ada sekarang, kami bisa melakukannya,” kata Djoko.

Adapun tujuh atlet yang bergabung dengan pemusatan latihan nasional (pelatnas) akan mengikuti Kejuaraan Asia Junior-Remaja 2019 di Pyeongyang, Korea Utara (Korut), 19-27 Oktober mendatang. Djoko berharap, para lifter muda ini bisa menunjukkan taringnya dalam ajang tersebut.

Windy dan Faathir berpeluang besar untuk mewujudkan harapan PABBSI meraih emas di Negeri Ginseng. Windy pun bertekad kembali memperbarui rekornya dalam ajang tersebut. “Intinya, saya ingin tampil tanpa beban. Namun, tetap berambisi meraih medali,” ia mengungkapkan

PABBSI juga mengirim empat lifter muda nonpelatnas ke Korut untuk memberi kesempatan atlet daerah berkompetisi di ajang internasional. “Yang jelas, perhitungan (medali) kami semoga tepat. Apalagi (angkat besi) ini kan cabang olahraga (yang) terukur,” kata Djoko.*KRISNA C. DHANESWARA

loading...
L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati
news
news