news
LIGA SPANYOL
Saul Akhiri Paceklik
14 October 2019 13:01 WIB
berita
Gelandang Spanyol, Saul Niguez merayakan gol pembuka yang dicetaknya saat melawan Norwegia, Sabtu (12/10).-Topskor/ist
OSLO – Tim nasinal Spanyol boleh saja tidak puas dengan hasil yang didapatkannya saat bertandang menghadapi Norwegia. Namun kebahagiaan tetap dirasakan Saul Niguez di Stadion Ullevaal, sebab berhasil mengakhiri paceklik. Ia menjadi satu-satunya pencetak gol La Roja –juukan Spanyol– pada matchday ketujuh kualifikasi Piala Eropa 2020 itu.

Saul mencatatkan namanya di papan skor setelah muncul dari second line dan menyambar bola dengan sepakan kaki kanan dari luar kotak penalti. Itu adalah gol pertamanya di musim ini. Atau lebih jauh setelah gol terakhir yang diciptakannya akhir Maret lalu, yakni saat bermain untuk klubnya Atletico Madrid di La Liga 2018/19.




Baca Juga :
- Malam Kelam Diego Costa
- Konsistensi Gol Ramos di 16 Musim LaLiga




Tepatnya pada jornada ke-29, gelandang 29 tahun yang sedang dimainkan jadi sayap kiri memaksimalkan umpan Antoine Griezmann, membobol gawang Deportivo Alaves pada laga yang berkesudahan 4-0 (30 Maret 2019). Itu gol keenamnya musim lalu dan yang terakhir, dan menjadikan musim tersubur kedua seraya raihan 2017/18.

Sedang untuk Spanyol sendiri, gol terakhir sebelum duel Grup F kemarin adalah pada gelaran Liga Negara-negara Eropa Liga A saat menjamu Kroasia, 11 September 2018. Kala itu ia menyumbangkan satu gol pada kemenangan 6-0 memanfaatkan umpan silang Dani Carvajal, yang lagi-lagi jadi gol pembuka atau memecah kebuntuan tim.


Baca Juga :
- Atletico Tersendat, Catat Koleksi Gol Terburuk di Era Simeone
- Atletico Madrid Mulai Rajin Menang


Sementara itu, musim ini sendiri sejatinya ia telah terus bermain di tiap tim yang dibela. Bersama Los Rojiblancos –julukan Atletico–, ia selalu tampil penuh pada tiap laga di kompetisi resmi; 900 menit di 10 laga dan hanya punya satu tembakan ke gawang. Dan di La Roja, ada 180 menit di dua laga, dari tiga duel yang dilakoni tim.

Artinya sepanjang 2019/20 saja Saul sudah merasakan paceklik selama 1.080 menit. Padahal, agresivitas adalah salah satu poin yang melambungkan namanya. Seret gol yang belakangan dialami ini terjadi karena fleksibilitas yang dimiliki. Kemampuanya bermain di berbagai posisi malah membuatnya beroperasi kian jauh dari lini serang.

Gelandang 24 tahun ini bisa bermain di berbagai posisi lini tengah: gelandang bertahan, sentral, serang, kiri, dan kanan. Sedang kekeringan gol dialami sebab dirinya beroperasi lebih ke sentral, bahkan kerap juga ditugaskan membantu pertahanan. Itu seperti yang dialaminya di Atletico, setelah Thomas Partey bisa melejit naik-turun.

Sementara di timnas, seret gol dialami karena gelandang yang mendapat tugas untuk lebih agresif lebih sering dibebankan ke Isco Alarcon, Dani Ceballos, atau bahkan Thiago Alcantara. Golnya kemarin pun lahir saat ada perubahan strategi dari pelatih Robert Moreno yang mengistruksikannya untuk melebar ke sisi kiri.*TAUFANI RAHMANDA DARI BERBAGAI SUMBER

ANGKA

9

Musim tersubur Saul (hanya untuk klub, tanpa timnas) adalah mencetak sembilan gol yang dicatatkannya pada 2015/16 dan 2016/17.

D
Penulis
Dini Wulandari
news
news