news
LIGA INGGRIS
Keputusan Abramovich Mempertahankan Pembinaan Pemain Muda Chelsea Terbukti Tepat
11 October 2019 16:30 WIB
berita
Pemilik Chelsea, Roman Abramovich berandil dalam progres timnya dengan fondasi pemain muda musim ini./AFP
LONDON – Michael Emenalo mengklaim salah seorang mantan pelatih berusaha untuk menutup akademi Chelsea FC. The Blues telah dipaksa untuk beralih mengandalkan para pemain muda mereka musim ini akibat sanksi larangan transfer FIFA. Beruntung, sang pemilik klub, Roman Abramovich, mendukungnya.

Sorotan publik tertuju ke arah pelatih Frank Lampard, terutama setelah kekalahan 0-4 dari Manchester United FC (MU) pada pekan pembuka 2019/20. Sepanjang musim panas, mereka melepas Eden Hazard ke Real Madrid FC. Tim juga kehilangan pemain senior seperti David Luiz, Gary Cahill, dan Gonzalo Higuain.




Baca Juga :
- Zverev Kalahkan Nadal, Dapat Selamat dari Bek Chelsea Ini
- Lampard Tolak Euforia




Namun Chelsea dengan cepat muncul sebagai salah satu skuat Liga Primer yang paling menarik, yang dipelopori duo dinamis Tammy Abraham dan Mason Mount. Fikayo Tomori juga muncul sebagai pahlawan baru di bek tengah. Callum Hudson-Odoi serta Reece James pun terus mengejar peluang ke tim utama setelah pulih dari cedera.

Ruben Loftus-Cheek dan Andreas Christensen adalah dua pemain lainnya yang datang melalui sistem pemain muda Chelsea. Tapi, keadaan bisa berubah secara berbeda seandainya Emenalo mampu membujuk Abramovich untuk memfokuskan perhatian kepada para bintang masa depan mereka.


Baca Juga :
- Skuat Muda Chelsea Mampu Bersaing Rebut Gelar Liga Primer
- Dusan Tadic Serang Wasit Pertandingan Chelsea vs Ajax


Emenalo, yang menjabat sebagai direktur teknik Chelsea antara 2011 dan 2017 setelah menghabiskan empat tahun sebelumnya sebagai kepala pencari bakat dan asisten pelatih tim utama, bekerja di level teratas bersama orang-orang seperti Jose Mourinho, Antonio Conte dan Roberto Di Matteo.

Dia mengklaim Abramovich didesak untuk meninggalkan akademinya dan fokus pada menuangkan uang ke tim utama. Tetapi sang bos yang berkebangsaan Rusia itu tidak mendengarkan perkataan si pelatih, dan Emenalo menganggap keputusan itu terbukti sebagai salah satu yang terbaik yang pernah ada.

Emenalo yang juga mantan direktur di klub AS Monaco itu mengatakan pada Telegraph: “Saya berusaha mempertahankan akademi ketika ada tekanan dan keraguan dan pesimisme. Ada saat ketika ada desakan untuk melakukan lebih banyak dan seorang pelatih datang dengan membawa presentasi untuk mengatakan akademi tidak perlu!”

"Argumennya saat itu adalah akademi prosesnya terlalu lama, kita tidak punya waktu, kita harus menggunakannya untuk menghasilkan uang di sana-sini, dan bahwa pemiliknya harus berhenti memompa uang ke dalamnya karena itu hanya pemborosan.”

"Tapi saya harus berjuang melawannya. Di saat itulah saya benar-benar bangga kepada pemilik Roman Abramovich karena kepercayaan yang dia miliki kepada saya dan kesediaan untuk mendengarkan saya, memberikan waktu kepada akademi. Dia tak akan meninggalkan mereka dan saya tidak bisa cukup berterima kasih padanya untuk itu.”

Namun, Emenalo juga tidak menampik ada kalanya mereka butuh keberuntungan. Dan keberuntungan mereka itu datang bersamaan dengan larangan transfer dan dengan penunjukan Frank dan asistennya, Jody Morris dan Joe Edwards. Intinya, meskipun tak ingin terlalu berharap tinggi, Emenalo selalu percaya hal baik akan muncul.

"Kebijakan itu selalu membuat pemain tumbuh bersama, menumbuhkan budaya. Anda melihatnya di Barcelona bersama Xavi, (Andres) Iniesta, dan (Sergio) Busquets. Anda membangun budaya sepak bola yang luar biasa - budaya Chelsea - dan ini adalah asal identitas dan orang-orang ini akan bermain dan merawat klub ini selamanya.”*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news